Nusantara

Penggunaan Bahasa Jawa Banten untuk Melestarikan Warisan Budaya Indonesia

Penulis Oleh: Asdarina, M.Pd (Dosen STKIP Mutiara Banten)

KEBUDAYAAN Banten disimbolisasikan dengan Surosoan Banten yang merupakan kerajaan besar, mempengaruhi sendi-sendi kehidupan kultural masyarakat Banten.

Kerajaan ini telah menciptakan berbagai macam kebudayaan yang sangat melekat di masyarakatnya bahkan sampai penjuru dunia. Sultan Maulana Hasanuddin sendiri adalah raja pertama dari kerajaan banten dan putra dari Sunan Gunung Jati.

Selain kerajaan besar tersebut, budaya Banten kental dengan pertunjukkan Debus yang mendunia. Kebudayaan Banten juga lekat dengan adat pengantin dengan berbagai proses tradisi.

Dimana adat pengatin ini merupakan salah satu kebudayaan yang mampu “dijual” kepada turis mancanegara.

Dari berbagai contoh adat di atas peran bahasa menjadi sangat penting dan memegang peran sangat vital, karena dengan bahasa, kebudayaan di komunikasikan ke masyarakat lokal maupun internasional.

Bahasa dalam hal ini bahasa Jawa Banten yang mungkin bisa dibilang telah luntur dari kaum muda Banten. Bahasa bagi kaum muda hanya sebagai bahasa ibu, padahal bahasa Jawa Banten mempunyai kekuatan tradisi yang luar biasa. Bahasa Jawa Banten adalah bahasa kebudayaan.

Bahasa Jawa Banten sebagai bahasa kebudayaan adalah bahasa sebagai bagian dari proses kehidupan sehari-hari maupun simbol dari berbagai prosesi tradisi yang berkembang.

Dengan demikian, bahasa Jawa Banten bukan semata-mata bahasa pergaulan akan tetapi bahasa Jawa Banten adalah bahasa kebudayaan yang harus dilestarikan.

Sebuah istilah menyebutkan bahwa jika ingin memahami betul peradaban arab maka belajarlah bahasa arab. Begitu juga dengan belajar budaya Banten maka anda paling tidak harus memahami bahasa Jawa Banten.

Sekolah sebagai bagian dari institusi pendidikan perlu melakukan reformasi pembelajaran dan reformasi kurikulum berkaitan dengan pembelajaran bahasa Jawa Banten.

Baca Juga:  Ahmad Riza Patria Komit Kawal Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias

Bahasa Jawa Banten merupakan materi muatan lokal hendaknya memiliki perhatian khusus ditingkat sekolah. Kecerdasan bahasa Jawa Banten yang dimiliki sekolah masih menjadi kecerdasan lokal anak belum menjadi kecerdasan institusional.

Misalnya adanya lomba pidato bahasa Jawa Banten masih sebatas pada anak tertentu.

Belum adanya guru khusus bahasa Jawa Banten ditingkat sekolah dasar merupakan bagian dari gagalnya pembelajaran bahasa Jawa Banten.

Bahkan di tingkat SMA pelajaran bahasa lebih menitik beratkan pada bahasa asing dari pada bahasa Jawa Banten. Inilah yang menjadi titik lemah dari proses pembudayaan bahasa Jawa Banten, lebih parah dengan status pelajaran bahasa Jawa Banten yang hanya menjadi mata pelajaran muatan lokal.

Pelajaran muatan lokal tidak memiliki bergaining dibanding mata pelajaran lain seperti matematika atau sains. Bahkan alokasi waktu pelajaran bahasa Jawa Banten dikorbankan untuk mendukung pelajaran lainnya yang dianggap lebih penting. Bahkan banyak guru yang tidak mengerti bahasa Jawa Banten mengajar bahasa Jawa Banten, sehingga banyak materi yang tidak bisa dipahami.

Selain permasalahan status pelajaran, kurikulum, dan guru, pelajaran bahasa Jawa Banten merupakan yang dianggap pelajaran sulit bagi kebanyakan siswa dibandingkan mata pelajaran lain. Media pembelajaran yang terbatas dan tidak menarik menjadi permasalahan terhambatnya pelajaran bahasa Jawa Banten.

Dari berbagai permasalahan yang muncul, bukan sekedar masalah perlu dan tidak perlu pelajaran ini dilestarikan, akan tetapi bahasa Jawa Banten sebagai bagian dari sebuah proses memenuhi kebutuhan bagi anak didik khususnya yang memiliki kecerdasan bahasa (Jawa Banten). [*]

To Top