Nusantara

KKR Lintas Budaya Timur GBI Betlehem Taman Kencana Cengkareng Dihadiri 740 Jemaat

VoIR Indonesia, Jakarta | Gereja Bethel Indonesia (GBI) Betlehem Taman Kencana melaksanakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Minggu (26/6/2022).

KKR ini mengambil tema Adat vs Injil dengan Pembicara atau Pembawa Renungan atau Injil Pendeta Muda (Pdm) Yanti Manullang dimeriahkan dengan Tarian Tobelo yang dilaksanakan di Gereja beralamat Perum Taman Kencana, Cengkareng, Jakarta Barat.

Pdm Yanti Manullang dalam renungannya mengatakan bahwa Injil harus menerangi adat istiadat karena Yesus tidak menolak adat istiadat.

Pengegasan Pendeta Muda ini tentu punya alasan.

Pdm Yanti Manullang (Foto: Ist)

Ia mengambil kutipan dalam Injil untuk menegaskan bahwa Yesus tidak menolak adat istiadat.

Dalam Matius 15: 1-2 (Yesus dengan membela murid-murid-Nya bukan berarti menolak adat istiadat dan dari Matius 15: 4-6 yang mengatakan Yesus menegaskan bahwa adat wadah pelaksanaan Firman bukan menghilangkan kebenaran.

Ia juga menyampaikan bahwa Injil atau Firman tidak boleh disejajarkan dengan adat istiadat. Injil atau Firman harus menjadi prioritas utama karena hal itu tertulis dalam Yohanes 1:1 yang mengatakan bahwa pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Gembala Sidang Pdt Hartan Gunadi (Foto: Ist)

Lanjut Pendeta Muda itu, bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen terhadap budaya atau tradisi orang lain?

Yanti menegaskan sebagaimana tertulis dalam Injil Yohanes 13: 34 kita sebagai orang Kristen harus saling mengasihi seperti Yesus mengasihi kita.

Dalam prakteknya, kata Pendeta Muda Yanti, sebagai orang Kristen kita harus bersikap positif terhadap budaya orang lain sekaligus juga kritis.

“Positif sejauh budaya tersebut menunjang kehidupan bersama dan tidak melanggar Firman,” ujar dia.

Kemudian, sikap kita selanjutnya sebagai orang Kristen terhadap adat adalah harus menghormati perbedaan budaya.

“Artinya dalam persahabatan jangan mementingkan kelompok tertentu dan meninggalkan yang lain,” kata dia.

Terhadap menghargai perbedaan ini, Pendeta Muda Yanti mengambil contoh sederhana dalam budaya atau adat istiadat suku Batak atau Tapanuli ketika bertamu ke rumah.

(Suasana KKR GBI Betlehem Taman Kencana)

Ketika bertamu biasanya tuan rumah pasti menawarkan dan bahkan menyuguhkan minum teh, kopi atau air putih.

Minuman teh misalnya yang disuguhkan tuan rumah dituang di dalam gelas besar dan penuh dengan air yang panas.

Kata Pendeta Muda Yanti, adat atau tradisi seperti di suku Batak atau Tapanuli ada filosofi atau artinya.

Baca Juga:  Polsek Sanggau Ledo Bersama Manggala Agni dan MPA Gelar Baksos di Riam Pangar

“Gelas besar dan penuh air yang panas menandakan bahwa tuan rumah dengan senang hati menerima tamu dan berharap tamu berlama-lama untuk berbincang-bincang,” kata Pendeta Muda Yanti.

Panitia KKR GBI Taman Kencana (Foto: Ist)

Di akhir renungannya, Pendeta Muda Yanti mengatakan adat istiadat adalah wadah untuk melakukan Injil/Firman Tuhan.

Sebagai orang Kristen tidak boleh anti terhadap adat tetapi orang Kristen harus membuat Firman Tuhan sebagai filter atas adat istiadat, jangan menjauhkan diri dari adat atau tradisi budaya tetapi juga tidak boleh berkompromi dengan adat yang bertentangan dengan Injil atau Firman Allah.

Sementara Gembala Sidang Pdt Hartan Gunadi yang turut hadir dalam KKR tersebut mengungkapkan terimakasih dan apresiasinya kepada panitia yang melaksanakan KKR ini.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada semua panitia termasuk pada penyanyi yang begitu bagus. Saya juga dapat jas yang bagus dari panitia,” ujar Gembala Sidang itu disambut tepuk tangan jemaat.

Gembala Sidang itu mengungkapkan bahwa GBI Betlehem hadir bukan untuk tempat ibadah golongan tertentu saja, semua suku yang ada di Indonesia ada dan berkumpul beribadah bersama memuji Tuhan.

“Sebab itu, kehadiran ratusan orang hari ini mustinya jangan hanya hari ini saja tetapi setiap minggu jika memungkinkan harus sebanyak ini,” ujar Gembala Sidang itu.

Ketua Panitia Artamiana Sitinjak (kanan) dan Wakil Ketua Stenlei Pattipeteiluhu Wakil Ketua (kiri)

Acara KKR yang dimulai pukul 17.00 WiB itu berjalan baik dan lancar dan diketuai oleh Artamiana Sitinjak dan Stenlei Pattipeteiluhu selaku Wakil Ketua.

Menurut Artamiana, jumlah jemaat yang hadir pada KKR ini sebanyak 740 orang termasuk dari Pemuda Batak Bersatu DPC Jakarta Barat yang diketuai Ronal Sihotang, SH., MH dan dari Maluku Satu Rasa.

Stenlei menyebut tujuan diadakannya KKR Lintas Budaya Timur ini untuk mempersatukan semua budaya yang ada di Indonesia.

Tarian Tobelo Khas dari Halmahera Utara (Foto: Ist)

“Semoga semua agama dapat menjunjung persatuan dan kesatuan di negara republik Indonesia,” kata Stenlei.

Selain Gembala Sidang Pdt Hartan Gunadi dan Ibu Gembala Pdt Lena Gunadi, serta Pdm Yanti Manullang, turut hadir juga Pendeta Senior yaitu Pdt Natanael Ribut Pribadi.

Termasuk hadir juga kedua mantan preman yang kini jadi Majelis Gereja GBI Betlehem Taman Kencana yaitu Stenli Eten dan Antony Palem.

Di akhir acara, penampilan Tarian Tobelo khas dari Halmahera Utara yang sudah popular seantero dunia membuat jemaat yang hadir turut dan larut dalam sukacita bersama Tuhan. [Red]

To Top