Dunia

Awas Perang Dunia 3, Simak Kekuatan Militer Rusia-Ukraina-AS

Personil militer Ukraina (Foto: Kompas)

VoIR Indonesia, Jakarta | Memanasnya kondisi geopolitik di kawasan bekas Uni Soviet antara Rusia dan Ukraina merupakan ancaman nyata yang membuat seluruh dunia ketar-ketir.

Ketakutan ini bukan tanpa alasan, mengingat para ahli dan analis menilai jika tidak terselesaikan, invasi yang dilakukan Rusia ditakutkan bisa menjadi gerbang perang dunia ketiga.

Jumat (28/1/2022) pekan lalu, para pemimpin tinggi Pentagon mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir V. Putin telah mengerahkan pasukan dan perangkat keras militer yang diperlukan untuk menyerang seluruh Ukraina dengan pejabat senior Departemen Pertahanan AS memperingatkan ketegangan saat ini telah membawa Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya serta Rusia ke posisi yang belum pernah terjamah.

Pejabat Pentagon menyebut Rusia telah mengumpulkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasan Ukraina, secara terbuka mengkonfirmasi untuk pertama kalinya apa yang telah dijelaskan oleh para analis intelijen selama berminggu-minggu.

Pasukan itu, kata pejabat Pentagon, memiliki kemampuan untuk bergerak ke seluruh Ukraina, jauh melampaui serangan ke wilayah perbatasan saja.

Alhasil, Gedung Putih mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah mengembangkan “paket sanksi khusus” untuk menyerang “elit” Rusia yang “berada atau dekat lingkaran dalam Kremlin” jika Presiden Putin memerintahkan invasi ke Ukraina.

Sekretaris pers Presiden Biden, Jen Psaki, mengatakan sanksi sedang dikoordinasikan dengan sekutu Amerika, terutama di Eropa.

Dia mengkonfirmasi laporan bahwa Presiden Biden telah berwenang mengambil langkah-langkah yang jauh melampaui apa yang disetujui Gedung Putih Obama setelah Rusia mencaplok Krimea pada tahun 2014.

Perselisihan juga sampai ke meja sidang PBB, di mana Amerika Serikat dan Rusia dengan sengit menyerang satu sama lain atas krisis Ukraina dalam perkelahian diplomatik Senin (31/1/2022) di Dewan Keamanan PBB.

Amerika, yang didukung oleh sekutu Barat mereka, menuduh Rusia membahayakan perdamaian dan mengganggu stabilitas keamanan global dengan menempatkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasan Ukraina, sementara diplomat Kremlin menolak apa yang mereka sebut ketakutan AS yang tidak berdasar dan histeris yang bertujuan melemahkan Rusia dan memprovokasi konflik bersenjata.

Meski AS telah menuntut Rusia menarik pasukannya untuk melanjutkan pembicaraan, tetapi negara pimpinan Presiden Joe Biden tersebut menolak untuk mengirimkan tentara ke medan perang.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan hari Minggu (30/1) aliansi militer Barat tidak berniat mengirim pasukan ke Ukraina jika Rusia menginvasi bekas republik Soviet.

Sementara itu Moskow mengatakan ingin kejelasan lebih lanjut tentang langkah-langkah keamanan apa yang NATO rencanakan untuk diterapkan di Eropa timur.

“Kami fokus memberikan dukungan,” katanya. “Ada perbedaan antara menjadi anggota NATO dan menjadi mitra yang kuat dan sangat dihargai [seperti] Ukraina. Tidak ada keraguan tentang itu,” katanya dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss mengatakan kepada Sky News bahwa negaranya akan berusaha untuk memperketat sanksi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin sehingga tidak ada tempat bagi oligarkinya untuk bersembunyi.

Tanpa bantuan militer nyata dari AS dan blok NATO, keseimbangan kekuatan militer sangat menguntungkan Rusia.

Pengeluaran militer Rusia pada tahun 2020 tercatat mencapai US$ 61,7 miliar atau setara dengan Rp 885 triliun (kurs Rp 14.359/US$), dengan Ukraina kurang dari 10% dari itu atau hanya sejumlah US$ 5,9 miliar (Rp 85 triliun), menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute.

Baca Juga:  Malaysia Kembali Lockdown Total Lantaran Lonjakan Covid-19

Dan jumlah pasukan Tentara Merah (Red Army) Rusia terhitung sejumlah 900.000 orang pasukan bersenjata, dibandingkan dengan 209.000 di Angkatan Darat Ukraina, menurut data International Institute for Strategic Studies.

Ini berarti Rusia dapat lebih mudah merotasi pasukan baru ke dalam konflik berkepanjangan tersebut.

Sementara anggota NATO minggu ini memerintahkan pesawat dan kapal untuk memperkuat anggota aliansi di Eropa Timur, tidak ada yang menjanjikan bahwa pasukan tersebut akan didaratkan ke Ukraina.

Berdasarkan peringkat yang dihimpun Global Fire Power yang mengalkulasi lebih dari 50 faktor individu untuk menentukan skor PowerIndex, Rusia tercatat berada di peringkat kedua hanya kalah dari AS, sementara Ukraina berada di posisi ke 22.

Faktor-faktor yang diukur termasuk kekuatan militer dan keuangan hingga kemampuan logistik dan geografi.

Global Fire Power mencatat kekuatan militer darat Ukraina kalah telak dari Rusia dengan jumlah tank hanya sebanyak 2.596 berbanding 12.420 yang dimiliki Rusia. Mobil bersenjata Ukraina tercatat ada 12.303 unit dengan Rusia memiliki 30.122 unit.

Senada, kekuatan militer udara Ukraina juga terlihat kerdil jika dibandingkan dengan yang dimiliki Rusia. Total pesawat tempur Ukraina hanya 318, tidak mencapai 10% dari yang dimiliki Rusia sebanyak 4.173.

Akan tetapi jika negara NATO, khususnya AS ikut turun dalam konflik tersebut, keseimbangan militer akan berubah, mengingat AS merupakan negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia.

Meski demikian kekuatan militer Rusia, khususnya di darat secara statistik angka masih lebih banyak dari yang dimiliki AS.

Dengan jumlah tank (12.420), self-propelled artillery (6.574), towed artillery (7.572) dan rocket projector (3.391) merupakan yang terbanyak di dunia mengungguli AS yang jumlah masing-masing 6.612, 1.498, 1.339 dan 1.366.

Sedangkan jumlah mobil bersenjata AS (45.193) mengungguli Rusia (30.122).

Jika pertempuran terjadi di udara, Rusia akan menjadi jauh lebih lemah, dengan segala metrik AS unggul untuk kekuatan militer dan tercatat menjadi nomor satu dengan total pesawat tempur sebanyak 13.247 atau tiga kali lebih besar dari Rusia yang memiliki 4.173 pesawat tempur.

Meskipun AS dan NATO telah menyatakan mereka tidak akan masuk medan tempur, tetapi blok Barat tersebut juga tidak bersantai.

NATO mengatakan pihaknya menempatkan pasukannya dalam keadaan siaga dan memperkuat Eropa Timur dengan pasukan, kapal dan jet tempur.

NATO memiliki 40.000 pasukan respons yang kuat di seluruh Eropa. Bagian yang paling siap tempur dari ini adalah Satuan Tugas Gabungan Kesiapan Sangat Tinggi (Very High Readiness Joint Task Force) yang dipimpin oleh 5.000 pasukan Prancus, yang terdiri dari elemen udara, darat dan laut yang dapat beroperasi dalam 72 jam.

NATO juga memiliki 4.000 pasukan di Rumania, yang ditawarkan Prancis minggu ini untuk diperkuat.

Spanyol menawarkan untuk mengirim bala bantuan angkatan laut dan pasukan ke Bulgaria, meskipun pemerintah di Sofia untuk saat ini menolaknya.

NATO juga memiliki empat batalion multinasional yang ditempatkan di Estonia, Latvia, Lithuania dan Polandia, berjumlah 4.000 orang, dilengkapi dengan tank, pertahanan udara dan unit intelijen.

Sementara AS, yang memiliki 74.000 personel militer di Eropa termasuk tentara yang bertugas aktif, mengatakan pekan ini akan menempatkan 8.500 orang dalam siaga tinggi. [Red]

To Top