Hukum

Pengacara Kamaruddin Angkat Bicara Soal Respon PGI Atas Permintaan Maaf Yahya Waloni

Pengacara Kamaruddin Simanjuntak (jaket hitam) didampingi pelapor Pdt Andreas Benaya Rehiary, S.Th (baju biru) - Foto: VoIR Indonesia)

JAKARTA | Kamaruddin Simanjuntak, SH, pengacara sekaligus penasehat hukum pelapor tersangka dugaan penistaan agama Yahya Waloni, angkat bicara soal respon Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) atas permintaan maaf Yahya Waloni kepada kaum Nasrani.

Menurut Kamaruddin, PGI tiba-tiba ambil panggung dan menerima permohonan maaf Yahya Waloni tersangka kasus dugaan penistaan agama.

Pernyataan menerima permohonan maaf itu disampaikan PGI usai Yahya Waloni meminta maaf kepada kalangan Nasrani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (27/09/21).

Sebagaimana yang dikatakan Humas PGI Philip Situmorang dalam keterangan persnya, Selasa (28/09/21), “Ya, jika memang seperti itu, kita maafkan.” Philip Humas PGI tentu dipandang mewakili insitutusinya.

Kamaruddin menyayangkan dan mempertanyakan respon PGI tersebut karena bukan PGI yang melaporkan dugaan penistaan agama, tetapi klien dari Advokat Kamaruddin Simanjuntak, SH atas nama Pdt Andreas Benaya Rehiary, S.Th dan lagi pula, dosa kepada Roh Kudus, tidak bisa dimaafkan.

“Atas dasar apa PGI menerima maaf dari Yahya Waloni. Sementara yang melaporkan adalah kami, yang mencari saksi adalah kami dari Sabang sampai Merauke (bahkan hingga sampai ke Lumajang, Jawa Timur),” kata Kamaruddin kepada wartawan di Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (02/10/2021).

Kamaruddin juga menegaskan bahwa PGI tak pernah melaporkan tersangka Yahya Waloni, apalagi diminta saksi dan ahli saja PGI tidak mau, tapi kog tiba-tiba bisanya memaafkan tersangka.

“Mereka (red-PGI) tidak pernah ikut andil dalam laporan polisi ini, namun tiba-tiba saja PGI ambil panggung,” tegas Kamaruddin.

Kamaruddin yang didampingi tim-nya juga menyampaikan bahwa tersangka Yahya Waloni dinilai menista agama dalam ceramah yang menyebut Injil itu palsu. Tersangka Yahya Waloni juga menyampaikan bahwa Bible tak hanya fiktif, rusak tapi juga palsu.

“Kitab suci penganut Kristen yakni Bibel atau Alkitab hanya sekadar dongeng yang berisi kisah-kisah tahayul,” kata tersangka Yahya Waloni dikutip Kamarudiin dari video ceramah Yahwa Waloni.

“Ini sangat memiriskan hati, tersangka Yahya Waloni menyebut Bibel (Alkitab) Kristen ini dongeng tambah tahayul, sama dengan omong kosong,” imbuh Kamaruddin.

Menurut Kamaruddin, bahwa yang paling naif lagi, tersangka Yahya Waloni menyebut Matius, Markus, Lukas, Stefanus, Tetanus, Spritus, Cap Tikus.

Termasuk, sambungnya, tersangka Yahya Waloni, juga selalu menyebut sebagai pendeta pada Badan Pengelola Sinode GKI di Tanah Papua.

Baca Juga:  Mendadak, 18 Personel Polsek Palmerah Jalani Tes Urine

Pemilik nama lengkap, Yahya Yopie Waloni, lahir di Kota Manado 30 November 1970 bergelar Yahya Waloni yang menyebutkan bahwa dirinya adalah pendiri dan mantan Rektor Universitas Kristen Papua (UKiP) Sorong, bahkan mengaku bahwa dirinya adalah pendiri dan mantan Rektor.

Ditambahkan Kamaruddin, dalam ocehan ceramah-ceramahnya juga Yahya Waloni turut menista, mengejek dan memplesetkan ucapan Roh Kudus (Red-Tuhan) menjadi ‘roh kudis.’

“Artinya sudah melampaui batas dalam ceramah rohani dan/atau terbukti telah menghina tanpa dalil,” ungkap Kamaruddin.

7 Poin Mesti Dilakukan Yahya Waloni

Kamaruddin mengatakan atas dasar itu penistaan agama yang kerap diucapkan tersangka Yahya Waloni, pihaknya selaku pengacara dan penasehat pelapor menegaskan ada tujuh poin yang harus dilakukan Yahya Waloni agar laporan pelapor dicabut.

Berikut tujuh poin tersebut:

1. Tersangka Yahya Waloni, harus mengklarifikasi, apakah dia anggota tentara atau bukan?

2. Tersangka Yahya Waloni, harus mengklarifikasi apakah benar atau tidak, dia mantan pendeta di GKI Papua?

3. Tersangka Yahya Waloni, harus mengklarifikasi apakah benar dia pernah menjadi Rektor UKIP Papua?

4. Tersangka Yahya Waloni, harus klarifikasi apa benar atau tidak, dia pernah membaptis, menahbiskan dan melantik pendeta?

5. Tersangka Yahya Waloni, harus mencabut seluruh perkataan dia yang menghina umat Kristen/Katolik, khususnya yang menyatakan bahwa Alkitab itu palsu, dan yang mengatakan: Mateus, Markus, Lukas, spiritus, tetanus, cap tikus, itu harus dicabut dan dinyatakan tidak benar.

6. Tersangka Yahya Waloni, harus mencabut perkataan penistaan dia terhadap Roh Kudus, yang mengatakan bahwa Roh Kudus menjadi roh kudis, (Red-adapun Roh Kudus itulah adalah Tuhan, yang Satu dengan Bapa dan Putra).

7. Tersangka Yahya Waloni, harus menyatakan menyesal, sadar dan bertobat, lalu berjanji di hadapan jurnalis media cetak dan elektronik, baik media di dalam dan luar negeri dan berjanji bahwa dia tidak akan mengulangi perkataannya itu lagi dikemudian hari, dan harus menyatakan itu secara langsung di samping kiri saya sebagai kuasa Pelapor/ korban

Kamaruddin menambahkan jika tujuh poin itu dilakukan tersangka Yahya Waloni, maka pihaknya akan mencabut laporan. [Tio]

To Top