Nusantara

Gubernur Anies Diminta Turun Tangan Selesaikan Polemik Face ID di Rusunami Menara Latumenten

Ronal Sihotang (Berbatik Putih) beserta penghuni lain menemui Sudin Perumahan Jakbar beberapa waktu lalu (Foto: Istimewa)

WahanaNews.co | Penghuni Rusunami Menara Latumenten yang terletak di Grogol Petamburan, Jakarta Barat meminta Gubernur DKI Anies Baswedan untuk turun langsung menyelesaikan persoalan yang dihadapi mereka.

Pasalnya, penghuni telah menyurati pihak P3SRS sebanyak tiga kali untuk duduk bersama mencari solusi, bahkan penghuni sendiri telah menemui Suku Dinas Perumahan Jakbar untuk menjembatani polemic ini, hasilnya tetap tidak ada.  

Penolakan yang dilakukan penghuni terkait penerapan akses keluar masuk dengan Face ID dikarenakan selain tidak adanya sosialisasi maupun rapat penghuni sesuai mekanisme yang berlaku, juga dinilai menabrak Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Rusunami Menara Latumenten.

“Kami sayangkan Ketua P3SRS menabrak aturan Anggara Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Rusunami Menara Latumenten Pasal 4 ayat (1) bagian (a) Pengurus Perhimpunan harus mengadakan rapat sekurang-kurangnya sekali dalam setiap enam bulan. Juga Pasal 12 ayat (1) Rapat Umum Tahunan harus diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun paling lambat akhir bulan ke enam setelah akhir tahun buku perhimpunan. Dimana masa periode P3SRS akan berakhir di bulan Oktober tahun 2021 ini,” kata Ronal Sihotang, penghuni Rusunami Menara Latumenten kepada WahanaNews.co, Senin (14/6/2021).

Ronal juga mengakui bahwa penggunaan Face ID memang bagus untuk keamanan tapi harus melihat tempatnya juga.

“Saya bukan ahli IT tetapi saya punya teman ahli IT dan menyampaikan ke saya bahwa Face ID bagus buat keamanan tapi lihat tempatnya juga. Face ID ini cocok di gedung perkantoran dan perusahaan bukan di tempat hunian seperti Rusunami Menara Latumenten ini karena jam operasionalnya beda. Hunian itu 24 jam, sementara perkantoran atau perusahaan cuma 12 jam,” tambahnya.

Semenjak ada pengumuman dilakukan lewat toa dari kantor pengelola setiap pagi kepada seluruh penghuni untuk datang ke kantor pengelola membawa kartu akses lama untuk diganti dan di scan wajah untuk diterapkan face id, ini lah yang menjadi persoalan kata Ronal.

“Karena pengumuman itu, kami membuat surat kepada pihak P3SRS pada tanggal 26 April 2021 namun tidak ditanggapi dan kami membuat surat ke dua pada tanggal 29 April 2021 juga tidak ditanggapi dan kami buat surat ke tiga pada tanggal 6 Mei 2021 sampai saat ini juga tidak ditanggapi. Sehingga ketua pengawas rusunami menara latumeten menyurati suku dinas perumahan Kota Adminitrasi Jakarta Barat. Dari Suku Dinas Kota Adminitarsi Jakarta Barat pada tanggal 17 Mei 2021 membuat Surat Undangan Rapat kepada Pengawas dan Ketua P3SRS namun dari P3SRS tidak ada yang datang. Dan pada tanggal 25 Mei 2021 kembali mengundang P3SRS juga tidak datang.,” tambah pengacara muda itu.

Baca Juga:  Bupati Bengkayang dan Forkopimda Cek Kesiapan Gereja Sambut Perayaan Natal 2021

“Jadi kami penghuni tiga kali bikin surat tidak ditanggapi dan Suku Dinas Perumahan Kota Adminitrasi Jakarta Barat mengundang dua kali namun juga tidak datang. Oleh karena itu pada tanggal 31 Mei 2021 kami menyampaikan kepada Pihak Kepolisian Jakarta Barat dan diterima langsung oleh Bapak Wakasad Intel Polres Jakarta Barat menyampaikan ada permasalah di Rusunami Menara Latumeten. Kami sampaikan tidak adanya sosialisasi tentang face id dari awal renovasi lobby menara latumeten,” imbuhnya.

Benar saja pada tanggal 2 Juni 2021, pihak pengelola melalui pihak security menutup akses masuk sehingga terjadi keramaian dan hampir ribut dengan pihak security tapi untunglah masih bisa kondusif.

Melihat situasi seperti itu, Ronal akhirnya telepon pihak Polres Jakbar dan Polsek Tanjung Duren. Setelah kedatangan pihak kepolisian, akhirnya pihak kepolisian yang datang langsung memimpin rapat yang dihadiri pihak pengelola, dua orang pengurus, dua orang penghuni salah satunya Ronal.

Dari hasil pertemuan tersebut disepakati akan dibuka rapat penghuni dimana seluruh pengurus dan pengawas, perwakilan penghuni, vendor face id serta ahli IT akan rapat dan waktunya akan ditentukan oleh pengurus namun sampai berita ini dimuat, rapat tersebut tidak juga terwujud.

Keberatan senada juga disampaikan oleh Silvia, Eli Tan, Rene Sinclair, Andre Adrian, Budiyanto, Teddi dan Hendri.

“Intinya, para penghuni ini meminta kejelasan soal Face ID, perubahan tata ruang gedung hingga transparansi dalam pengelolaan keuangan gedung,” papar Ronal tegas.

“Harapan kami kepada Gubernur DKI Anies Baswedan khususnya Dinas Perumahan agar segera menindaklanjuti keluhan kami, segera bertindak,” pungkas Ronal. (**)

To Top