Kesehatan

Halo, Orang yang Kerja 55 Jam per Minggu Berisiko Penyakit Jantung dan Stroke

Illustrasi (Foto: Internet)

Jakarta – Sebuah analisis dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu berisiko besar terkena penyakit  jantung iskemik dan stroke daripada mereka yang bekerja dalam minggu kerja normal.

Laporan tersebut meneliti bagaimana paparan terhadap jam kerja yang panjang mempengaruhi orang di hampir 200 negara dan terjadinya penyakit jantung iskemik dan stroke, berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Studi ini merupakan yang pertama dari jenisnya, menyebutkan sekitar 745.000 orang meninggal pada tahun 2016 akibat stroke dan penyakit jantung. Kematian tersebut terkait dengan jam kerja yang panjang.

“Secara global pada tahun 2016, 488 juta orang dihadapkan pada jam kerja yang panjang,” kata laporan itu, dikutip dari UPI, Selasa, 18 Mei 2021.

“Paparan ini memiliki 745.194 kematian yang disebabkan dan 23,3 juta (tahun kehidupan yang disesuaikan dengan kecacatan) dari penyakit jantung iskemik dan stroke,” tambah laporan studi WHO.

Baca Juga:  Mei Atau Juni Tahun Ini, Obat Covid-19 Molnupiravir Siap Diproduksi dalam Negeri

Studi itu juga menyebutkan bahwa masa hidup yang dipersingkat terkait dengan jam kerja yang panjang berdampak signifikan pada pria, orang dengan beban kerja yang lebih besar, dan mereka yang tinggal di Pasifik Barat dan Asia Tenggara.

Menurut analisis, beban penyakit yang diakibatkan diperkirakan dengan menerapkan fraksi populasi yang disebabkan oleh perkiraan kesehatan global WHO dari total beban penyakit.

Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pandemi Covid-19 telah ‘mengaburkan batas’ antara rumah dan tempat kerja, karena lebih banyak orang harus bekerja dari jarak jauh selama setahun terakhir.

“Selain itu, banyak bisnis terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi untuk menghemat uang, dan orang-orang yang masih bergaji kecil akhirnya bekerja lebih lama,” kata Ghebreyesus.

“Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan risiko stroke atau penyakit jantung. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menyepakati batasan untuk melindungi kesehatan pekerja,” ucapnya. (Sumber: WHO)

To Top