Nusantara

Dari Kerinduan Bersama Lahir Forum Jurnalis Batak (FORJUBA)

Sejumlah jurnalis senior asal Batak berkumpul merumuskan rencana deklarasi Forum Jurnalis Batak (FORJUBA) di Jakarta Timur beberapa waktu lalu. Foto (FORJUBA)

VoIR Indonesia, Jakarta – Lahirnya Forum Jurnalis Batak disingkat FORJUBA sudah lama dirindu, bahkan, bertahun-tahun kerinduan itu sudah ada di benak para jurnalis senior asal Batak di Jabodetabek.

Nun pernah digelar beberapa kali pertemuan, tetapi belum berhasil mengumpulkan teman-teman jurnalis asal Batak. Lagi-lagi kerinduan itu tak padam, senantiasa ada gelora di hati atas kerinduhan adanya wadah bertemu para jurnalis asal Batak. Dari rentetan itu, ada perjalanannya lumayan lama. Rindu kumpul bersama, sebab memang sekarang masanya membangun kebersamaan, sinergi.

Bila demikian memang tepatlah ungkapan Batak menyebut, “Hatop Adong Nadiaduna, Leleng Adong Nadipaimana.” Filosofi ungkapan ini, walau lambat, ada hal-hal yang positif, mesti disyukuri, seperti menyambung benang merah dari benang terputus dari sebelumnya.

Bermula sejak 19 Oktober 2018, pertemuan beberapa orang di Lapo Ondihon, Pramuka, Jakarta Timur kembali mengungkapkan kerinduan tersebut. Pertemuan saat itu dihadiri empat orang. Hasil dari perjumpaan itu, sepakat untuk membuat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), baru kemudian mengundang teman-teman yang lain.

Pengurus FORJUBA mengunjungi dan berdiskusi dengan redaksi Majalah Narwastu di Jakarta Timur, Kamis (6/8/2020). Foto (FORJUBA)

Namun apa yang terjadi? Semangat itu kembali mengendor, namun tetap terasa terbesit ada kerinduan akan adanya wadah jurnalis Batak, tempat komunitas jurnalis Batak untuk membangun kebersamaan.

Wadah ini jelas bukan untuk rasis tetapi untuk memikirkan kepentingan bersama. Paling tidak beban para jurnalis senior ingin berbagi pengalaman dengan junior-juniornya. Agar jangan lagi ada orang Batak disebut wartawan abal-abal. Adalah semacam pemantik yang menggaungkan kembali lahirnya wadah jurnalis Batak tepat di saat ada liputan Pra Horja Bolon dari Lokus Budaya Batak (LABB), dimana saat itu, LABB mengundang beberapa jurnalis Batak untuk meliput acara tersebut di Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur pada awal Januari 2020. Pada kesempatan itu dimanfaatkan para wartawan yang hadir untuk memperbincangkan kembali organisasi yang mau dibentuk. Pertemuan yang tergolong dadakan dan singkat itu pun menghasilkan nama Forum Jurnalis Batak. Saat itu ada tujuh nama yang sempat digodok, namun nama Forum Jurnalis Batak itulah nama yang disepakati.

Di saat itu, hadir delapan orang jurnalis Batak. Dan satu minggu kemudian disepakati rapat digelar kembali di Universitas Mpu Tantular namun hanya dihadiri lima orang. Saat itu, jelas terasa mulai ada perasaan pesimis untuk lahirnya wadah ini. Ibarat melahirkan sebelum melahirkan ada proses pendarahan. Terbukti dalam pertemuan di Mpu Tantular itu tak banyak yang bisa dibicarakan.

Namun di hari berikutnya, ketua dan sekretaris yang disepekati kembali berdiskusi sepakat untuk dilanjutkan rapat pada hari Jumat, 28 Februari 2020 di Lapo Codian, Mayasari, Jakarta Timur. Rencana untuk membuat tim panitia deklarasi dan kepengurusan. Namun saat itu kembali hanya dihadiri empat orang. Saat itu hasil dari rapat untuk segera dibuat agenda rapat, pada Jumat, 6 Maret 2020 guna membentuk panitia seminar/diskusi terbatas dengan menentukan tema, Mencari Calon Pemimpin di Kawasan Danau Toba. Tentu pemilihan judul diskusi ini sudah tentu kaitannya menjelang Pilkada (khusus di Humbahas, Samosir, Simalungun, Tobasa, Pematang Siantar). Sementara dalam rapat disepakati deklarasi sekaligus diskusi dijadwal rencana diadakan pada bulan April 2020, minggu pertama, di hari Jumat, tempat ditetapkan di Toba Dream, Jalan Dr Saharjo, Jakarta Selatan.

Baca Juga:  Sekolah Terpencil Daerah 3T Raih Nominasi Duta Teknologi Kemendikbudristek

Selanjutnya, digelar rapat pada Jumat, 6 Maret 2020. Ini rapat resmi perdana. Oleh karena rapat perdana yang dihadiri puluhan orang, maka pertama-tama adalah ruang kesempatan memperkenalkan diri. Hadir waktu itu 14 orang. Saat itu, sambutan dari Jamida Pasaribu sebagai senior menjelaskan untuk apa Forum Jurnalis Batak ada. Saat itu, semangat kebersamaan para jurnalis yang hadir semakin terbentuk. Maka disepakatilah perlu memilih pengurus, dan segera melengkapi pengurus yang disepakat, yang sebelumnya Ketua Jamida Pasaribu dan Sekretaris Hojot Marluga, dan Bendahara Rifal Marbun.

Namun, rapat setelah tanggal 6 Maret 2020 tak berlanjut oleh karena kendala pandemi covid-19. Situasi itu telah merubah rencana oleh karena pertengahan Maret sudah dimulai diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBP) oleh pemerintah. Padahal, saat itu panitia belum sempat terbentuk, dan menggelar rencana yang seyogyanya diskusi sekaligus deklarasi dilaksanakan pada April 2020 urung dilakukan alias batal. Teror pandemi covid-19 itu tentu mendera dan menghalau rencana deklarasi FORJUBA. Sejak pemberlakukan kembali PSBP, pertemuan pun hanya dilakukan beberapa anggota dengan jumlah terbatas. Satu dari hasil pertemuan terbatas itu sepakat mencari bantuan ke tokoh-tokoh Batak untuk membantu anggota FORJUBA yang terdampak covid-19.

Hari Jumat, 17 Juli 2020 FORJUBA mendapat Bansos, bantuan untuk FORJUBA yang diserahkan Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta. Tentu, atas surat permohonan FORJUBA ke Kementerian Sosial (kemensos). Pembagian Bansos itu dipusatkan di Lapo Codian, Jakarta Timur. Tentu, baru kali ini kehadiran anggota FORJUBA, 17 orang, dan pada kesempatan itu disepakat perjumpaan tersebut ditetapkan rapat.

Kelanjutannya, karena memang kerinduan untuk segera perlu ada deklarasi, maka Sabtu, 25 Juli 2020 bertempat di Lapo Ondihon kembali digelar rapat yang dihadiri 12 orang. Selain itu, rapat juga menetapkan secara resmi panitia deklarasi (deklarasi Oktober 2020). Disepakati Ketua Deklarasi Amri Simatupang, sebagaimana sejak awal tujuan membentuk Forum Jurnalis Batak atau FORJUBA adalah untuk membangun kebersamaan. Oleh karena itu, majunya FORJUBA bukan karena pengurus atau panitia deklarasi, tetapi atas kerjasama semua anggota.

Itu artinya perlu saling membantu untuk memberi andil, berkontribusi apa yang bisa diberi baik itu tenaga, pemikiran atau dana yang bisa dan mau membantu. “Kalau hanya mengurus bekerja tak mungkin bisa berkembang,” sebagaimana dikemukakan Ketua Jamida Pasaribu. Intinya, bagaimana membangun kebersamaan untuk kesejahteraan bersama.

Tentulah pencapaian besar hanya dapat dicapai oleh kerjasama, dan orang yang selalu membuka diri atas setiap kesempatan baru. Sekali lagi wadah ini ada untuk kita saling membangun dan membantu kesejahteran anggota terlebih dahulu. Sudah tentu jangka panjangnya untuk berkontribusi untuk kemajuan orang Batak. Dimulai dari pertama mendorong peningkatan ekonomi dari anggota FORJUBA, sebagaimana misi untuk membangun kebersamaan. Tentu, waktu akan mengujinya, bagaimana kebersamaan dijaga dan tersemai bagi masing-masing anggota FORJUBA, bisa membangun hubungan yang lebih erat dan saling berbagi, baik suka dan duka. (HM)

To Top