Nusantara

Covid-19 Merubah Budaya

Eman Supriatna, S.Hum., M.Pd, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Foto (Istimewa)

VoIR IndonesiaAkhir tahun 2019 merupakan tahun dimana dunia diguncangkan dengan wabah Corona Virus Desease (Covid-19) yang pertama kali muncul di kota Wuhan China. Hingga saat ini tercatat 213 negara-negara di dunia yang sudah terjangkit virus covid-19 termasuk Indonesia. Sehingga seketika mengakibatkan perubahan budaya pada masyarakat dunia.

Di Indonesia hingga saat ini dalam kurun waktu 24 jam setiap harinya selalu melaporkan angka kenaikan meskipun telah ditetapkan protokol kesehatan dengan cara Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tiap-tiap provinsi yang dianggap zona merah, tetap saja dalam laporan harian selalu tercatat yang terkonfirmasi positif covid-19 mencapai kurang lebih 1000 orang per harinya.

Berkaca ke belakang saat pertama kali dikabarkan bahwa 2 orang warga Indonesia positif covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020 yang pada akhirnya seketika wabah tersebut menyebar hingga ke berbagai provinsi di Indonesia. Pada mulanya DKI Jakarta merupakan kota pertama yang secara drastis penyebaran covid-19 terbanyak di Indonesia. Hingga pada akhirnya upaya pemerintah dalam pemutusan rantai penyebaran virus covid-19 pun dilakukan mulai dari pembatasan sosial dan karantina wilayah. Sehingga karena hal tersebutlah terjadi perubahan budaya seketika di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa budaya orang-orang di Indonesia kaya akan kearifan dalam berbagai hal. Mulai dari silaturahmi, toleransi, serta saling mengerti satu sama lain.

Namun semua itu seolah dihapus oleh covid-19, bagaimana tidak, setiap orang diintruksikan oleh pemerintah untuk tetap di rumah dan membatasi kegiatan-kegiatan sosial yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Segala bentuk perkumpulan-perkumpulan apapun termasuk beribadah seolah dijegal oleh covid-19. Sangat miris dan menyedihkan bagi warga Indonesia yang senang berkumpul-kumpul dengan keluarga, sanak saudara, teman, sahabat dan lain-lain.

Baca Juga:  Lusa, Kadin Indonesia Gelar Halal Bihalal dan Peluncuran Peluang Usaha di Medan

Ditambah lebih menyedihkan lagi covid-19 hadir pada saat akan datang bulan Ramadhan, Umat-umat Islam merasa sedih ketika harus dibatasi kegiatan-kegiatan sosial keagamaannya, mengingat pada saat bulan Ramadhan umat Islam sangat kental dengan kegiatan sosial keagamaan dengan melaksanakan ibadah solat sunah taraweh. Namun pada tahun 2020 ini hal tersebut tidak bisa dilaksanakan berjamaah, melainkan harus menjalankan sendiri-sendiri di rumah masing-masing guna memutus rantai penyebaran virus covid-19.

Hal yang menyedihkan lainnya bagi umat Islam yaitu budaya mudik lebaran. Dimana pada Tahun 2020 ini, hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang tinggal dan bekerja di DKI Jakarta yang biasanya mudik ke kampung halaman masing-masing pada saat lebaran. Namun karena tidak kuasa menahan rindu ke kampung halaman dan ingin bertemu dengan keluarga serta sanak saudara, tetap saja orang-orang memaksakan diri untuk pulang ke kampung halaman, sehingga hal tersebut berakibat fatal dan menimbulkan penularan yang signifikan pada kampung halaman yang didatangi oleh pemudik tersebut. Hingga saat ini akibat dari hal tersebut menimbulkan provinsi Jawa Timur menjadi kota yang terbanyak kasus terkonfirmasi positif covid-19 pada akhir Juni 2020 hingga melebihi DKI Jakarta.

Oleh karena, itu marilah kita ikuti anjuran dari pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus covid-19, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan menjaga dan rajin mencuci tangan dengan sabun. Semoga bermanfaat.

Oleh : Eman Supriatna, S.Hum., M.Pd, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Mutiara Banten

To Top