EkBis

Cerita Oppung Ronny, Pendapatan Sopir Angkot di Humbahas Anjlok Sejak Siswa Diliburkan

Oppung Ronny dan angkot kesayangannya. Foto (dedi)

Humbahas, VoIR Indonesia – Sejak sekolah mulai diliburkan mulai tingkat SD, SMP dan SMA demi mencegah penyebaran virus corona, ternyata berpengaruh besar terhadap pendapatan sopir angkutan kota di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Provinsi Sumatera Utara.

Sebab, biasanya anak sekolah yang jadi penumpang, mereka bisa mendapatkan per harinya Rp 200 ribu, kini menjadi anjlok total alias putus total.

Salah seorang sopir angkutan, Petrus Sitompul (60) warga Desa Purba Dolok, Kecamatan Dolok Sanggul kepada wartawan, Senin (13/4) mengungkapkan, sejak kebijakan sekolah diliburkan terasa berdampak bagi dirinya dan sejumlah sopir angkutan lainnya.

Petrus mengaku biasanya dari pagi hingga siang bisa mendapat Rp 200 ribu. Namun, setelah diliburkan, sama sekali tidak mendapatkan uang. Sebab, karena anak sekolah merupakan penumpang tetap yang dijadikan andalan mereka untuk penghasilan sehari-hari menghidupi keluarga di rumah.

“Terasa kalilah, sudah sebulan lebih ngak ada anak sekolah karena merekalah harapan kami tiap harinya. Jika ngak ada mereka, ya pendapatan kami putus total,” kata Petrus yang dipanggil akrab sehari-hari Oppung (Kakek) Ronny.

Petrus yang memiliki anggota keluarga di rumah berlima bersama istri, anak dan cucu menuturkan, akibat kebijakan itu terpaksa mengirit mengeluarkan pengeluaran untuk kebutuhan di rumah. Dan itupun, uang yang dipakai sisa dari hasil menarik angkut sebelum sekolah diliburkan.

“Pokoknya sedihlah, terpaksa istri menghabisi uang tabungan dari hasil menarik selama ini,” keluh Petrus.

Selain dari sisa tabungan menarik angkot, Petrus juga mengaku untuk mempertahankan di rumah harus memetik biji kopi dari ladang. Itupun, menurut dia, tidak sebanding dengan harga yang dijual seharga Rp 14 ribu per liternya.

“Ya mau ngak mau, kita harus makan tahu, ikan asin,” ujar Petrus.

Disinggung, harapan untuk solusinya, menurut Petrus, mengajak pemerintah untuk duduk bersama mencari solusi demi kebutuhan mereka sehari-harinya.

Baca Juga:  Viral di Jagat Maya, Berikut Profil SPBU Vivo

“Ya harus duduk bersama, karena pemerintah tidak tahu pengaruh besar sekolah ini diliburkan, apalagi khusus di Humbang Hasundutan,” harapnya.

Disinggung soal bantuan pemerintah apakah sudah sampai, Petrus mengaku hingga sampai saat ini belum mengalir.

“Kami tidak tahu bantuan itu kepada siapa, soalnya sampai saat ini belum ada sampai ke kita. Ya kalau ada, kita pasti syukuri, namun itu bukan kebijakan yang tepat bagi kami,” tukas Petrus.

Apalagi, Petrus mengaku sejak tinggal di Desa Purba Dolok, dirinya yang sehari-hari sebagai sopir angkutan tidak ada sama sekali mendapat bantuan, mulai Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Itupun hanya raskin, itupun karena kita beli Rp 20 ribu per 3 liter,” katanya.

Menanggapi itu, Kepala Desa Purba Dolok Heber Posman Purba mengaku sekaitan dampak covid-19 ini, pihaknya sudah melakukan pendataan bagi masyarakatnya agar mendapatkan bantuan dari pemerintah. Itupun, menurut dia, kriteria masyarakat pengangguran dan yang di PHK.

“Kurang lebih 10 baru kami kirim datanya,” katanya saat dihubungi.

Sekaitan masalah PKH dan BLT, menurut dia, semenjak dirinya dilantik menjadi kepala desa di Purba Dolok belum ada melakukan perubahaan maupun penambahan penerima PKH. Dan itupun, jika ada perubahaan harus pihak BPS yang melakukan yang sebelumnya usulan dari pihaknya.

“Sebenarnya ada rencana memperbaiki tetapi mengusulkan supaya tambah yang jelasnya melalui BPS, karena ada tim BPS yang data masing-masing. Semua data bantuan dari pemerintah pusat dari BPS, tapi usulan dari desa, BPS menyikapi dan meninjau sebatas mana yang dapat supaya tidak semata-mata kepala desa hanya keluarganya yang dapat, tidak ada itu. BPS-lah yang merevisi usulan kepala desa,” terangnya. (dedi)

To Top