Nusantara

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI METODE FINGER PAINTING KELOMPOK A RA AR-RISALAH CIHERANG

Oleh: Dede Roudotul Farihah (010160003)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) MUTIARA BANTEN 2019

 

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan perkembangan motorik halus pada anak kelompo A RA Ar-Risalah Ciherang melalui metode finger painting. Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, prlaksanaan tindakan kelas, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok A RA Ar-Risalah Ciherang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan lembar observasi, daftar wawancara, dan instrumen penilaian. Validasi data dengan cara mengkoreksi tiap descriptor setelah dua kali pertemuan. Prosedur penelitian adalah model tindakan kelas yang di adopsi Arikunto. Hasil penelitian ini, Pada siklus I peneliti mengamati bahwa 30% anak mampu mengembangkan motorik halus dengan baik, 50% mulai berkembang dan 20% belum berkembang. Sedangkan pada siklus II mengamati bahwa 80% anak berkembang sangat baik, 10% berkembang sesuai harapan, dan 10% mulai berkembang. Simpulan dari penelitian ini adalah penggunaan finger painting dapat meningkatkan perkembangan motorik halus pada anak kelompok A RA Ar-Risalah Ciherang.

Kata kunci: Perkembangan motorik halus, finger painting

Abstract: The purpose of this study was to improve fine motor development in A RA Ar-Risalah Ciherang’s children through the finger painting method. This type of research is Classroom Action Research. The study was conducted in two cycles, with each cycle consisting of planning, class action implementation, observation, and reflection. The subjects in this study were children of group A RA Ar-Risalah Ciherang. Data collection techniques using observation, interview and documentation techniques. The instruments used were observation sheets, interview lists, and assessment instruments. Data validation by correcting each descriptor after two meetings. The research procedure is a model of class action adopted by Arikunto. The results of this study, in the first cycle the researchers observed that 30% of children are able to develop fine motor skills well, 50% begin to develop and 20% have not yet developed. Whereas in the second cycle observed that 80% of children developed very well, 10% developed according to expectations, and 10% began to develop. The conclusion from this study is the use of finger painting can improve fine motor development in children in group A RA Ar-Risalah Ciherang.

Keywords: fine motor development, finger painting

PENDAHULUAN

Pentingnya pendidikan diberikan pada anak usia dini terdapat di dalam Undang-undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 ayat 3 menyatakan bahwa TK merupakan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang bertujuan membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi, baik fisik maupun psikis yang meliputi nilai-nilai agama dan moral, sosial, emosional, kemandirian, kognitif, bahasa, motorik, dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

Ada banyak anak yang kurang tertarik dengan kegiatan fisik motorik halus dibandingkan dengan kegiatan fisik motorik kasar. Anak cenderung lebih menyukai kegiatan fisik motorik kasar dari pada motorik halus. Hasil pra observasi dalam kegiatan motorik halus yang penulis lakukan pada anak kelompok A di RA Ar-Risalah Ciherang pada 2 April 2018, penulis melihat belum tercapainya perkembangan motorik halus anak dengan baik, hal ini terlihat dari 10 anak terlihat kaku, pembelajaran masih menekankan calistung, media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran kurang bervariasi dan membuat anak mudah merasa bosan saat mengikuti kegiatan, hal ini disebabkan karena guru sering sekali memberikan tugas menulis dan belum menerapkan pembelajaran sambil bermain dan adanya tuntutan orang tua murid terhadap guru agar anaknya dapat cepat bisa menulis mengakibatkan guru terpaku untuk memberikan kegiatan menulis, kurang beragamnya media pembelajaran yang digunakan di dalam kegiatan pembelajaran menjadi pengaruh besar bagi anak, yang seharusnya dapat mengoptimalkan seluruh aspek perkembanganya menjadi tidak terpenuhi.

Kegiatan finger painting di sesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan anak usia dini yang nantinya membuat anak terkait dengan kegiatan ini, karena finger painting adalah kegiatan yang dapat mengembangkan motorik halus anak. Pengembangan kemampuan fisik motorik halus dalam kegiatan finger painting bagi seorang anak adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, dengan kegiatan finger painting anak dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik halus. Karena kegiatan di lakukan dengan bermain seraya belajar, belajar seraya bermain sehingga anak lebih aktif dalam belajar fisik motorik halus.

  1. Kajian Teori

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada usia rentang 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Berk, 1992:18 dalam Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini 2013:6).

Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia adalah suatu lembaga yang memberikan layanan pengasuhan, pendidikan dan pengembangan bagi anak lahir sampai enam tahun dan atau enam sampai delapan tahun, baik yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah dan non pemerintah. (Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini 2013:15).

1.      Pengertian perkembangan motorik halus

Perkembangan motorik halus melibatkan otot-otot halus yang mengendalikan tangan dan kaki. Terkait dengan anak kecil, anda sebaiknya memberikan perhatian lebih kepada kontrol, koordinasi, dan ketangkasan dalam menggunakan tangan dan jemari. Meskipun perkembangan ini langsung berlangsung serentak dengan perkembangan motorik kasar, otot-otot dekat batang tubuh matang sebelum otot-otot kaki dan tangan, yang mengendalikan pergelangan dan tangan. (Observasi Perkembangan Anak Usia Dini 2013:236).

Disebut gerakan halus, bila hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, karena itu tidak begitu memerlukan koordinasi yang cermat. Contoh gerakan halus yaitu:

  1. Gerakan mengambil sesuatu benda dengan hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan
  2. Gerakan memasukan benda kecil ke dalam lubang
  3. Membuat prakarya (menempel, menggunting)
  4. Menggambar, mewarnai, menulis, menghapus, dan
  5. Merobek kertas kecil-kecil, meremas-remas busa, dan lain-lain.

Melalui latihan-latihan yang tepat, gerakan kasar dan halus ini dapat ditingkatkan dalam hal kecepatan, keluwesan, dan kecermatan, sehingga secara bertahap seorang anak akan bertambah terampil dan mahir melakukan gerakan-gerakan yang diperlukan guna penyesuaian dirinya. (Perkembangan Anak Usia Dini 2011:164).

2.      Pengertian Finger Painting

Finger Painting adalah teknik melukis dengan mengoleskan kanji pada kertas atau karton dengan jari atau dengan telapak tangan. Macam-macam Finger painting menurut Mery Ann ‘ Brandt ( 2002) yaitu:

  1. Gelombang dan goyangan

Buat gerakan, gelombang, goyangan jari dan jempol serta beberapa tanda lainnya dengan menggunakan bagian-bagian tangan yang lainnya.

  • Desain simertis

Lukis pada setengah kertas kemudian lipat kertas tersebut dengan
Tangan,buka kertas tersebut kembali dan akan menimbulkan ciplakan yang
Mirip dengan lukisan yang telah digambar pada kertas sebelumnya.

  • Jaringan atau susunan

Gunakan sisir atau kuas fleksibel, busa, tongkat dan kain karton pada permukaan jari yang akan dilukis.

  • Pengsketsaan atau penyusunan.

Bahan dan cara pembuatan finger painting ini adalah :

  1. Alat dan bahan yang digunakan :
  2. Guru menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk membuat lukisan, di antaranya yaitu: tepung kanji, tepung terigu, serbuk pewarna makanan, air serta kertas gambar.
  3. Kegiatan:
  4. Anak-anak beserta guru mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
  5. Guru memandu anak-anak untuk membuat adonan terlebih dahulu sebelum membuat finger painting.
  6. Cara membuat bahan untuk finger painting yaitu: tepung kanji dan tepung terigu di aduk sampai rata. Masukan air aduk sampai rata sehingga adonan terlihat encer. Langkah selanjutnya adonan dimasak hingga mendidih sambil diaduk terus hingga adonan mengental seperti lem. Setelah itu, angkat dan dingin kan. Setelah dingin, guru dapat membantu anak untuk membagi adonan dalam beberapa tempat untuk di beri warna sesuai dengan kebutuhan anak.
  7. Guru menyiapkan kertas gambar besar (ukuran kertas sesuaikan dengan situasi, kertas ini dapat pula berbentuk binatang dinosaurus yang besar) kemudian anak dapat menggambar dengan menggunakan jari yang sebelumnya sudah dilumuri dengan adonan finger painting tadi.

Diakhir kegiatan anak-anak menceritakan lukisan yang dibuatnya. (Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak 2010:84).

  • Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan merupakan penelitian terdahulu yang berfungsi untuk mendukung penelitian ini. Muslimah (2014) menyimpulkan bahwa kegiatan melukis dengan jari (finger painting) dengan salah satunya menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan motorik halus yang signifikan pada siklus I sebanyak 59,54%, siklus II 80,85%.

Penelitian yang dilakukan Vitamami (2013) juga menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak dapat di tingkatkan melalui kegiatan melukis dengan jari. Hassil penelitian yang diperoleh, pada siklus I adalah kemampuan motorik halus anak mencapai 62%, dan siklus II mencapai 90%.

Berdasarkan dari dua penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini salah satunya dapat melalui kegiatan melukis dengan jari (finger painting).

  • Kerangka Berfikir

Usia dini merupakan usia emas atau sering disebut sebagai golden age di mana anak tersebut akan mudah menerima, mengikuti, melihat, dan mendengar segala sesuatu yang dicontohkan, diperdengarkan, serta diperlihatkan. Anak usia dini menyukai kegiatan yang menarik, oleh karena itu untuk meningkatkan motorik halus anak, pendidik harus dapat memilih kegiatan yang disukai anak. Salah satu kegiatan yang menarik bagi anak untuk membantu perkembangan motorik halusnya adalah dengan kegiatan melukis. Selain membantu perkembangan motorik halus anak, melukis juga membantu anak untuk menuangkan imajinasinya ke dalam bentuk lukisan. Salah satu kegiatan melukis yang baik untuk motorik halus anak adalah melukis dengan jari atau finger painting karena dengan finger painting anak langsung mempergunakan jari-jarinya untuk bersentuhan dengan media lukis yaitu cat dan bidang gambar.

  • Hipotesis Tindakan

Berdasarkan teori tentang keterampilan motorik halus, anak usia 4-5 tahun dan kegiatan finger painting yang telah dikaji dalam kajian teori, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah keterampilan motorik halus dapat ditingkatkan melalui kegiatan finger painting pada anak kelompok A di RA Ar-Risalah Ciherang, Pandeglang.

METODOLOGI PENELITIAN

A.  Setting Penelitian

1.   Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan peneliltian ini adalah semester I (satu). Penelitian akan dilaksanakan dengan II (dua) siklus, siklus I dari tanggal 6-7 Agustus 2018, dan siklus II 13-14 Agustus 2018.

2.  Tempat Penelitian

Penelitan ini dilakukan di RA. Ar-Risalah, di Kp. Ciherang RT 05 RW  01 Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang.

B.  Metode Penelitian

1.   Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamatan harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamatan mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya.

Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas pehitungan persentase, rata-rata, cikuadrat, dan perhitungan statistik dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka/kuantitas.

2.   Jenis Penelitian

Dalam peneliltian ini, peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Ada beberapa ahli yang menekuni penelitian tindakan ini, namun dalam sajian ini dikemukan pendapat tentang model penelitian tindakan antara lain Kurt Lewin, Kemmis, Henry, Mc Taggart, John Elliott, dan Hopkins. Ahli yang pertama kali menciptakan model penelitian tindakan adalah Kurt Lewin, tetapi yang sampai sekarang banyak dikenal adalah Kemmis dan Mc Taggart (1988).

Penelitian ini dilakukan beberapa tahap, yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan Pengamatan, dan Refleksi. Model penelitiannya adalah sebagai berikut:

Hasil gambar untuk Model Penelitian Tindakan Kelas yang diadopsi Arikunto

Gambar 3.1 : Model Penelitian Tindakan Kelas yang diadopsi Arikunto

Penelitian ini direncanakan selama dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pelaksanaan tindakan kelas ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Siklus I pada penelitian ini dilakukan pengenalan kegiatan finger painting, dimana dengan ini anak yang akan dikelompokkan secara langsung. Berdasarkan tindakan pada siklus I dilakukan perbaikan pada tindakan tersebut. Perbaikannya guru memberikan informasi yang akan dilakukan oleh anak pada siklus I yang sekaligus akan digunakan pada siklus II.

  • Siklus I
  • Tahap Perencanaan Tindakan (planning)
  • Tahap Tindakan (action)
  • Tahap Pengamatan
  • Tahap Refleksi
  • Siklus II
  • Tahap Perencanaan
  • Tahap Pelaksanaan Tindakan
  • Tahap Pengamatan
  • Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru melakukan refleksi atas tindakan-tindakan yang telah dilakukan pada siklus II berikut hasil-hasil yang telah dicapainya. Selain itu guru juga memikirkan kekurangan-kekurangan serta hambatan-hambatan yang masih dihadapi pada siklus II dan selanjutnya mencarikan alternatif tindakan perbaikannya untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Dan jika sekiranya dari tahap refleksi ini sudah bisa disimpulkan bahwa tindakan perbaikan yang dilaksanakan sudah cukup memenuhi tujuan pembelajaran yang ditetapkan, maka siklus penelitian berikutnya bisa dihentikan dan tidak perlu dilaksanakan.

C.  Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Subjek penelitian adalah anak-anak pada kelompok A RA Ar-Risalah Ciherang dengan jumlah 15 anak, terdiri dari 9 laki-laki dan 6 perempuan. Dari 15 siswa peneliti mengambil sampel 10 siswa. peneliti berharap dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan proses pembelajaran dan kinerja guru sehingga pembelajaran di RA A-Risalah semakin berkualitas.

D.  Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data itu. Instrumen data meliputi; angket, tes, skala bertingkat, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan cek-list. Penentuan metode pengumpulan data ditentukan oleh variable, sampel, lokasi, pelaksana, biaya, dan waktu. Agar dalam meneliti diperoleh kesimpulan yang benar, maka data harus benar. Untuk itu diperlukan instrumen yang baik, yakni valid dan reliable. Maka pengadaannya harus melalui prosedur pelaksanaan, penulisan item, penyuntingan, uji coba dan revisi. (Prosedur Penelitian 2013:262).

  1. Indikator Penilaian
Baca Juga:  Banjir Landa Kecamatan Manis Mata, 30 Personil Polres Ketapang Diterjunkan

Tabel 3.1

Indikator Penilaian

Program PengembanganKDINDIKATOR
Nilai Agama dan Moral1.1 3.1-4.1Anak terbiasa bersyukur dirinya sebagai ciptaan Tuhan.Anak dapat berdoa sebelum dan sesudah belajar.
Motorik2.1Anak terbiasa mencuci tangan dan menggosok gigi.
Sosial Emosional2.5 2.6Anak terbiasa membeti salam.Anak terbiasa mengikuti aturan.
Kognitif3.6-4.6Anak dapat mengelompokkan berdasarkan warna (merah, biru, kuning).
Bahasa2.14 3.10-4.10Anak terbiasa berlaku ramah.Anak memahami cerita yang dibacakan.
Seni3.15-4.15Anak dapat menyanyikan lagu “Aku Ciptaan Tuhan”
  • Teknik Penilaian yang digunakan
  • Catatan hasil karya,
  • Catatan anekdot, dan
  • Skala capaian perkembangan (Rating Scale).

Tabel 3.2

Skala Capaian Perkembangan

NONAMANILAIANALISIS HASIL
1RISA HUDIA NUR SYFABelum Berkembang
2RENO ALDIANSYAHMulai Berkembang
3DELA APRILIANIMulai Berkembang
4SYIFA NURAENIBelum Berkembang
5ALYA MAULIDIA PUTRIBelum Berkembang
6AHMAD FATHAN MAQSUDABelum Berkembang
7MUHAMMAD GIYASUL HAKIMMulai Berkembang
8MUHAMAD WILDAN AMRULLAHBerkembang Sesuai Harapan
9MUHAMAD RIZKI ARDIANSAHMulai Berkembang
10M. RIFQI ILHAMBelum Berkembang

Keterangan:

: Belum Berkembang

: Mulai Berkembang

:Berkembang Sesuai Harapan

  • Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpilan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

  1. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

  • Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.

  • Interview/wawancara

Disamping memerlukan waktu cukup lama untuk mengumpulkan data, dengan metode interview peneliti harus memikirkan tentang pelaksanaannya. Memberi angket kepada responden dan menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan mengorek jawaban responden dengan bertatap muka.

  • Analisis Data

Setelah pengumpulan data dilakukan, dilanjutkan dengan analisis data. Maka diperoleh skor tertinggi dan skor terendah. Skor tinggi (ST) = 4, Skor rendah (SR) = 1.

Pengisian data dengan cara mengkoreksi seperti tiap deskriptor diatas setelah dilakukan dua kali pertemuan. Selanjutnya disusun penyajian data yang berupa tabel frekuensi.

Tabel 3.3

Tabel Interprestasi Perkembangan Motorik Halus Anak

SkorInterpretasi
100 80 60 40-0Sangat baik Baik Cukup Kurang

Selanjutnya untuk mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan perkembangan motorik halus anak dilakukan analisis persentase, dengan rumus sebagai berikut :

  x 100%

Keterangan :

P = Persentase perkembangan motorik halus

F =Jumlah Anak yang mengalami perubahan

N = Jumlah keseluruhan anak.

Tindakan dikatakan berhasil ketika persentase dari keseluruhan diperoleh pada tingkatan presentasi keterangan sangat baik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Hasil Penelitian

Peneliti melakukan pengamatan terhadap perkembangan motorik halus anak mengenai perkembangan anak sebagai langkah awal sebelum diadakan penelitian tindakan kelas. Hasil yang diperoleh sebelum tindakan pada kemampuan awal sebelum tindakan, pada akhirnya akan dibandingkan setelah tindakan melalui kegiatan finger painting. Perbandingan dibuat untuk menunjukkan adanya peningkatan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Pada tahap ini peneliti mengamati perkembangan motorik anak di RA Ar-Risalah Ciherang.

  • Deskripsi Hasil Siklus 1

Pelaksanaan siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Dari hasil observasi terhadap 10 orang anak di RA Ar-Risalah Ciherang, maka peneliti mendeskripsikan data-data temuan yang telah dilakukan selama siklus I.

  1. Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan tindakan, hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) bersama guru tentang materi yang diajarkan sesuai dengan model pembelajaran yang digunakan. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) digunakan oleh guru sebagai acuan dan penyampaian pembelajaran yang akan dilaksanakan di siklus I.
  2. Mempersiapkan rancangan kegiatan finger painting. Menyiapkan tema yang akan digunakan dalam kegiatan finger paining, menyiapkan alat dan bahan, serta langkah-langkah kegiatan.
  3. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan untuk memperoleh data selama penelitian berlangsung.
  4. Menyiapkan perlengkapan peralatan dokumentasi kegiatan pembelajaran yang akan berlangsung seperti kamera handphone.
  5. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan dua kali pertemuan dengan tema spesifik, peneliti bertindak sebagai guru kelas yang dibantu oleh guru kelas sebagai pemantau kegiatan proses belajar mengajar. Tugas peneliti menilai dan mengamati serta mendokumentasikan kegiatan saat anak sedang melakukan kegiatan finger painting. Bahan dan alat yang sudah disediakan oleh peneliti yaitu tepung, pewarna, air, wadah/mangkok, kain lap, kompor, wajan, kertas hvs dan sudip. Didalam kelas guru langsung menggabungkan meja anak menjadi sebuah kelompok. Guru meletakkan yaitu tepung, pewarna, air, wadah/mangkok, kain lap di atas meja anak. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu melaksanakan pembelajaran seperti yang tersusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) yaitu :

  1. Kegiatan Awal

Kegiatan awal diakukan selama 20 menit yaitu diawali dengan baris berbaris di depan kelas. Menanyakan kabar anak perasaan anak saat datang kesekolah. Kemudian diikuti dengan melakukan kegiatan bernyanyi, tepuk-tepuk tangan, membaca surah pendek dan serta melakukan beberapa gerakan senam sederhana dan masuk kelas. Kemudian anak berdoa sebelum belajar.

  • Kegiatan Inti

Dalam kegiatan ini peneliti memperlihatkan gambar alat komunikasi serta menyanyikannya. Memberikan rangsangan kepada anak tentang apa yang dilihatnya pada gambar, dan menanggapi apa yang telah anak ketahui tentang alat komunikasi. Kemudian anak membuat adonan setelah itu guru memasak adonan dan setelah masak guru mendingingkan adonan. Kemudian anak melukis sesuai tema spesifik yang ditentukan guru.

  • Kegiatan Penutup

Kegiatan akhir diisi dengan kegitan flashback kegiatan yang sudah dilakukan, menanyakan perasaan anak setelah melakukan hal tersebut. Kemudian guru memberikan tugas rumah anak dan selanjutnya dengan doa dan salam saat mau pulang.

  • Observasi

Pada tahap obeservasi ini peneliti dibantu gurunya melihat perkembangan anak. Dalam siklus I terdapat banyak kendala sehingga peneliti lebih aktif dalam berlangsungnya pembelajaran. Awal pembelajaran terlihat anak sangat merasa penasaran dengan kegiatan yang ingin anak lakukan. Pada saat pembuatan adonan sebagian anak masih berantakan dalam menuangkan tepung ke wadah, sebagian anak tidak tau bagaimana cara meremas, mengaduk sehingga wajan bisa terbalik, menuang air hingga tumpah, melukis dengan gambar sesuai tema spesifik, meratakan adonan yang menumpuk, dan mencuci tangan. Dalam kegiatan membuat adonan ini ada 1 orang anak sulit kali untuk mencoba kegiatan ini, namun karena motivasi dari gurunya anak mulai mencoba namun terlihat malas. Kemudian anak lainnya senang melakukan kegiatan namun masih banyak kendala terkendala. Namun kegiatan ini dapat menimbulkan rasa senang anak karena dapat terlihat setiap akhir kegiatan.

Tabel 4.1

Observasi Setiap Siswa Pada Siklus I

NoKegiatan/Indikator1234
1Meremas adonan finger painting dengan 10 Jari    
2Menuangkan air kedalam wadah    
3Menyendok tepung    
4Melukis    
5Mengaduk adonan sehingga warna rata.    
6Meratakan adonan lukisan agar terlihat indah    
7Mencuci tangan sendiri    

Penilaian:

 x 100%

  x 100% = 40%

Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh guru kelas RA Ar-Risalah Ciherang. Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti pada siklus I pertemuan pertama dan diketahui bahwa tindakan yang dilakukan peneliti belum optimal. Ini terlihat pada tabel berikut:

Tabel 4. 2

Kemampuan Motorik Anak Pada Siklus I.

NONAMANILAIANALISIS HASIL
1RISA HUDIA NUR SYFAMulai Berkembang
2RENO ALDIANSYAHBerkembang Sesuai Harapan
3DELA APRILIANIMulai Berkembang
4SYIFA NURAENIMulai Berkembang
5ALYA MAULIDIA PUTRIMulai Berkembang
6AHMAD FATHAN MAQSUDABelum Berkembang
7MUHAMMAD GIYASUL HAKIMReserved: Berkembang Sesuai Harapan
8MUHAMAD WILDAN AMRULLAHBerkembang Sesuai Harapan
9MUHAMAD RIZKI ARDIANSAHMulai Berkembang
10M. RIFQI ILHAMBelum Berkembang

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa kemampuan anak pada siklus I mulai berkembang. Hasil dari perkembangan anak memiliki persentasi yang berbeda, namun tergolong 3 orang anak atau 30% sudah berkembang, 5 orang anak atau 50% mulai berkembang, dan 2 orang anak atau 20% belum berkembang. Rekapitulasi persentase hasil siklus I dari ketercapaian masing-masing tingkatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3

Rangkuman Kemampuan Motorik Halus Anak Pada Siklus 1

NoJumlahPersentasiInterpretasi
1330%Baik
2550%Cukup
3220%Kurang
Jumlah10100%

Keterangan :

Jumlah             : Jumlah anak

%                     : Prestasi Nilai Anak

Interprestasi    : Ketuntasan Anak

      Berdasarkan rumus ketuntasan secara klasikal maka diperoleh hasil ketuntasan secara keseluruhan, yaitu:

 x 100%

  x 100% = 40%

Berdasarkan hasil pada pengamatan siklus I peneliti melihat bahwa perkembangan motorik halus terdapat 3 orang anak dikatagorikan baik, 5 orang anak dikategorikan cukup dan 2 orang anak dikatagorikan kurang,

  • Refleksi

Berdasarkan hasil penelitian disiklus satu peneliti mengambil keputusan bahwa perkembangan motorik halus dalam menuangkan air kedalam wadah, megaduk adonan, meremas dengan 10 jari tangan, meratakan adonan yang ada diatas kertas, melukis dengan jari sesuai tema, serta dalam mencuci tangan melalui kegiatan finger painting tergolong masih kurang berkembang. Hal ini dikarenakan jari-jari anak belum lentur. Untuk itu peneliti melakukan refleksi terhadap seluruh kegiatan pada siklus I yang hasilnya diperoleh sebagai berikut :

  1. Kakunya jari-jari anak dalam meremas dengan 10 jari sehingga kegiatan meremas ada terlihat seperti mengerak-gerakkan jari saja tidak berbentuk seperti menggenggam.
  2. Dalam menuangkan air masih banyak anak tumpah, maka dari itu peneliti melihat bahwa anak kurang mengkoordinasikan mata dan tangannya.
  3. Beberapa anak memiliki kesulitan dalam mengaduk adonan karena terlihat pada saat anak mengaduk adonan wadahnya tertumpah hingga berserakan diatas meja.
  4. Anak juga masih belum bisa meniru bentuk gambar yang dibuat oleh gurunya.
  5. Terlihat bahwa adonan anak pada saat melukis masih bertumpuk-tumpuk, anak belum dapat meratakan cat adonan diatas kertas
  6. Anak mulai dapat melukis dengan bantuan oleh guru
  7. Ketika mencuci tangan beberapa anak tidak mampu membersihkan tangannya sendiri karena selesai cuci tangan, jari-jari anak masih kelihatan kotor. Anak hanya mengenakkan air pada tangannya.
  8. Dalam kegiatan finger painting peneliti harus lebih memperhatikan apakah anak sudah paham dengn penjelasan peneliti tentang cara melakukan kegiatatan finger painting
  9. Peneliti lebih memperhatikan dan memotivasi anak serta memberikan komunikasi yang baik bagi anak yang membutuhkan.

Maka dari hasil dari siklus I dengan hasil yang kurang memuaskan peneliti mengambil sikap untuk melanjutkan pada siklus II. Tujuan siklus 2 agar anak dapat mengembangkan motorik halusnya secara maksimal.

  • Deskripsi Hasil Siklus II
  • Perencanaan Siklus II

Sebelum melakukan kegiatan siklus peneliti harus menyiapkan rencana kegiatan. Adapun perencanaan penelitian di siklus 2 meliputi:

  1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) bersama guru. Dengan tema spesifik yang berbeda dari siklus 1.
  2. Mempersiapkan rancangan kegiatan finger painting. Menyiapkan alat dan bahan, serta langkah-langkah kegiatan.
  3. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan untuk memperoleh data selama penelitian berlangsung.
  4. Menyiapkan perlengkapan peralatan dokumentasi kegiatan pembelajaran yang akan berlangsung seperti kamera handphone.
  5. Meminta bantuan kepada guru untuk membantu memotivasi peserta didik dalam pelaksanaan kegiatan.
  6. Tahap Tindakan Siklus II

Dalam tahap tindakan ini peneliti memberikan stimulus kepada anak dalam mengingat bagaimana cara membuat adonan. Kemudian guru memberikan arahan dalam melakukan kegiatan menuangkan air kedalam wadah, megaduk adonan, meremas dengan 10 jari tangan, meratakan adonan yang ada diatas kertas, melukis dengan jari sesuai tema, serta dalam mencuci tangan melalui kegiatan finger painting sebagaimana yang sebaiknya dilakukan anak. Dalam kegiatan melukis peneliti menstimulus dalam membayangkan bentuk gambar serta menuangkannya dalam melukis. Memberikan pujian kepada anak sehingga anak merasa senang dari kegiatan yang dilakukannya.

  • Observasi

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada siklus II pertemuan pertama dan kedua diketahui bahwa tindakan yang dilakukan peneliti sudah mulai optimal. Ini terlihat pada tabel 4.4 dibawah ini :

Tabel 4.4

Kemampuan Motorik Anak Pada Siklus II.

NONAMANILAIANALISIS HASIL
1RISA HUDIA NUR SYFAMulai Berkembang
2RENO ALDIANSYAHBerkembang Sesuai Harapan
3DELA APRILIANIBerkembang Sesuai Harapan
4SYIFA NURAENIBerkembang Sesuai Harapan
5ALYA MAULIDIA PUTRIBerkembang Sesuai Harapan
6AHMAD FATHAN MAQSUDABerkembang Sesuai Harapan
7MUHAMMAD GIYASUL HAKIMBerkembang Sesuai Harapan
8MUHAMAD WILDAN AMRULLAHBerkembang Sesuai Harapan
9MUHAMAD RIZKI ARDIANSAHBerkembang Sesuai Harapan
10M. RIFQI ILHAMBelum Berkembang

      Hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dalam mengembangkan motorik halus anak dalam kegiatan finger painting sudah mulai berkembang sesuai harapan. Hal ini dapat dilihat dari persentase hasil dari lembar hasil anak. Secara terperinci dapat dijelaskan melalui analisis data persentasi pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.5

Rangkuman Kemampuan Motorik Halus Anak Pada Siklus II.

NoJumlahPersentasiInterpretasi
1880%Baik
2110%Cukup
3110%Kurang
Jumlah10100%

Keterangan :

Jumlah             : Jumlah anak

%                     : Prestasi Nilai Anak

Interprestasi    : Ketuntasan Anak

  • Refleksi

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada siklus II dapat dilihat bahwa kegiatan finger painting dapat meningkatkan motorik halus anak usia dini. Hal ini dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah anak yang berkembang. Dalam kegiatan ini 8 anak (80%) sudah mengalami peningkatan. Sedangkan 2 anak (20%) lagi yang masih belum berkembang sesuai harapan. Maka dari itu peneliti mengambil kesimpulan bahwa motorik halus anak rata-rata sudah meningkat.

  • Pembahasan Hasil Penelitian

Kegiatan finger painting pada anak usia 4-5 di RA Ar-Risalah Ciherang Kec. Pandeglang dengan tema alat komunikasi merupakan kegiatan yang bertujuan dalam mengembangkan motorik halus anak usia dini. Penelitian ini dilakukan 2 siklus, yaitu siklus pertama dan kedua. Setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Dalam penelitian ini peneliti melihat bahwa banyaknya motorik halus anak berkembang. Peningkatan kemampuan anak hingga hari terakhir pada setiap siklusnya dapat dilihat secara jelas melalui table dibawah ini :

Tabel 4.6

Hasil Persentase Siklus I dan II.

NoSiklus ISiklus II
 Jumlah Anak%InterpretasiJumlah Anak%Interpretasi
1330%Sudah Berkembang880%Sudah Berkembang
2770%Belum Berkembang220%Belum Berkembang

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hari kedua siklus 1 jumlah anak yang sudah berkembang sebanyak 3 orang atau 30% dari jumlah keseluruhan anak, sedangkan anak yang belum berkembang sesuai harapan 70% dari jumlah keseluruhan. Pada siklus 2 ini dilakukan perbaikan pembelajaran dengan kegiatan finger painting. Namun pada siklus II ini, peneliti lebih memperhatikan gerakan tangan anak, mencontohkan sebagaimana mestinya, memberikan komunikasi yang tepat bagi anak yang membutuhkan, serta memberikan pujian untuk memotivasi anak agar lebih semangat dan percaya diri. Setelah dilakukan tindakan disiklus II ternyata beberapa anak juga mengalami peningkatan yakni 8 anak atau 80% anak berkembang dan hanya 2 anak atau 20% belum dapat berkembang.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti dalam mengembangkan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan finger painting di RA Ar-Risalah Ciherang Kec. Pandeglang kesimpulan yang dapat diperoleh oleh peneliti bahwa perkembangan motorik halus anak sebelum melakukan kegiatan finger painting yaitu bahwa hanya 10% anak mampu mengembangkan motorik halus dengan baik, 40% mulai berkembang, dan 50% anak belum berkembang. Kemudian setelah melakukan kegiatan finger painting kemampuan motorik halus anak meningkat. Pada siklus I peneliti mengamati bahwa 30% anak mampu mengembangkan motorik halus dengan baik, 50% mulai berkembang dan 20% belum berkembang. Sedangkan pada siklus II mengamati bahwa 80% anak berkembang sangat baik, 10% berkembang sesuai harapan, dan 10% mulai berkembang.

Kesimpulan yang dapat diperoleh oleh peneliti bahwa perkembangan motorik halus anak setelah melakukan kegiatan finger painting meningkat. Dalam siklus I anak menggalami perkembangan 30% sedangkan pada siklus II 80%.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, Suhardjono, Supardi 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Sujiono Yuliani Nurani, 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT. Indeks 

Rachmawati Yeni, Euis Kurniati, 2010. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-kanak. Jakarta: Kencana

Arikunto Suharsimi, 2013. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT . Rineka Cipta

Susanto Ahmad, 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenadamedia Grup

Beaty Janice J, 2013. Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenadamedia Grup

Karwati Euis, Donni Juni Priansa, 2015. Manajemen Kelas (Classroom Management) Guru Profesional yang Kreatif, Menyennangkan, dan Berprestasi. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

https://pustakapaud.blogspot.com/2016/02/pengertian-finger-painting-bagi-anak.htmlhttp://14186206196.blogspot.com/2015/10/v-behaviorurldefaultvmlo_20.html
To Top