Nusantara

UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK MELALUI METODE BERMAIN PLASTISIN PADA KELOMPOK B PAUD MELATI TAHUN AJARAN 2018/2019

Oleh: Ratih Agustiani (NIM 010140032)

ABSTRAK: Subyek penelitian adalah anak kelompok B PAUD Melati Komp Saruni Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang yang berjumlah 10 anak. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, yaitu siklus I dan Siklus II, dengan masing-masing tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah observasi yang berupa lembar pengamatan, dokumentasi, hasil karya. Metode analisis data yang digunakananalisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian Tindakan Kelas di laksanakan secara kolaboratif dengan teman sejawat, peneliti di sini bertindaksebagai guru dan teman sejawat bertindak sebagai observer/pengamat. Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat di simpulkan bahwa bermain plastisin dari lilin malam dapat meningkatkan kreativitas pada siswa PAUD Melati kelompok B tahun pelajaran 2011/2012. Hal ini dapat dilihat pada kenaikan frekuensi dan persentase yang terjadi Dari kondisi awal jumlah anak yang sudah berkembang sesuai harapan hanya 2 anak (20%) dan anak yang berkembang sangat baik / optimal tidak ada meningkat, pada siklus I menjadi 40 % atau 4 anak berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik /optimal 3 anak (30%). Dan pada siklus II meningkat lebih baik lagi menjadi 90 % atau 9 anak yang terdiri dari 4 anak berkembang sesuai harapan dan 5 anak berkembang sangat baik / optimal.

Kata kunci : Plastisin lilin malam, kemampuan kreativitas anak.

ABSTRACT: The research subjects were children of B group PAUD Melati Komp Saruni, Majasari Subdistrict, Pandeglang Regency with a total of 10 children. This research was conducted in 2 cycles, namely cycle I and cycle II, with each stage, namely planning, implementation, observation, and reflection. Data collection techniques used were observations in the form of observation sheets, documentation, work. The data analysis method used is descriptive analysis with a qualitative approach. Classroom Action Research is carried out collaboratively with peers, the researchers here act as teachers and peers act as observers / observers. Based on the results of the discussion that has been described previously, it can be concluded that playing plasticine from wax night can increase creativity in students of Melati PAUD group B in the academic year 2011/2012. This can be seen in the increase in frequency and percentage that occurs. From the initial condition the number of children who have developed according to expectations only 2 children (20%) and children who are developing very well / optimally does not increase, in the first cycle to 40% or 4 children developing according to expectations and developing very well / optimal 3 children (30%). And in the second cycle increased even better to 90% or 9 children consisting of 4 children developing according to expectations and 5 children developing very well / optimal.

Keywords: Plasticine wax night, children’s creativity ability.

PENDAHULUAN

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu berdasarkan pengertian tersebut terdapat dua dimensi kurikulum. Dimensi pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedang yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

Rasional pengembangan kurikulum 2013 Pendidikan Usia Dini (PAUD) merupakan pendidikan yang paling fundamentai, karena pendidikan yang paling fundamental perkembangan anak dimasa selanjutnya akan sangat ditentukan oleh berbagai stimulasi dan rangsangan bermakna yang diberikan sejak usia dini. Awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam memberikan dorongan atau upaya pengembangan agar anak dapat berkembang secara optimal.

Masa usia dini adalah masa emas perkembangan anak dimana semua aspek perkembangan dapat dengan mudah distimulasi. Periode emas ini hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Oleh karena itu, pada masa usia dini perlu dilakukan upaya pengembangan menyeluruh yang melibatkan aspek pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan   potensi tersebut adalah dengan program pendidikan yang terstruktur salah satu komponen untuk pendidikan yang terstruktur adalah kurikulum.

Di pendidikan formal seperti TK/RA dan PAUD terdapat 6 aspek program pengembangan di dalam KURTILAS ( kurikulum 2013) yang terdapat dalam:

  1. Nilai Agama dan Moral
  2. Fisik Motorik
  3. Kognitif
  4. Bahasa
  5. Sosial Emosional
  6. Seni

Dari keenam program pengembangan tersebut tujuannya antara lain:

Nilai Agama Dan Moral di mana isi pembelajaran bertujuan menanamkan norma agama dan pembentukan akhlaq anak didik agar dapat berprilaku sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan tempat tinggalnya, selain norma agama Perkembangan Fisik kepada anak juga diamati secara berkala dan berkesinambungan baik motorik halusnya maupun motorik kasarnya, dengan tujuan kesehatan fisik jasmaninya dapat berkembang secara optimal. Selanjutnya mengamati Perkembangan Kognitif anak didik, yang berkaitan dengan perkembangan kognitif seperti baca tulis, mengenal angka, sains, konsep pengelompokkan, meningkatkan kreativitas, dll.

Perkembangan Bahasa juga diberikan di pendidikan PAUD formal dari kemampuan berbahasa verbal maupun non verbal, dengan tujuan  anak didik mampu memahami dan mengungkapkan pikiran dan perasaan yang ada pada anak didik. Perkembangan Sosial Emosional anak didik senantiasa dibimbing agar anak dapat mengatur keadaan emosi dan bisa menjalankan kehidupannya sebagai mahluk sosial. Seni pada pendidikan PAUD bukanlah membuat anak mampu menghasilkan keterampilan khusus atau ahli dan terampil dalam memainkan musik, tetapi lebih pada mengembangkan segenap kemampuan potensi anak dan membantu anak untuk mampu mengungkapkan yang mereka ketahui dan yang mereka rasakan, serta anak mulai mengungkapkan diri melalui seni.

Salah satu perkembangan kognitif di atas meningkatkan kreativitas sangatlah penting dalam kehidupan anak didik dan secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar anak didik ditingkat pendidikan selanjutnya.

Selain itu secara umum orang lebih mengutamakan kecerdasan IQ saja padahal kreativitas penting, hal ini juga terjadi di kelas di mana saya mengajar.

Dalam pengamatan saya anak didik PAUD MELATI Komp. Saruni Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang Banten tahun pelajaran 2017/2018. Kreativitas anak masih rendah, hal ini dapat terlihat ketika mengerjakan tugas keterampilan apapun masih banyak terlihat anak yang hanya mencontoh dan tidak berani/tidak mau mencoba menambah bentuk lain dari contoh yang sudah ada.

Selain itu anak didik banyak yang  terlihat bosan, ngantuk, kurang tertarik, dan bahkan ada yang main sendiri saat mengerjakan keterampilan seperti menggambar, mewarnai, menjiplak, menggunting dan keterampilan lainnya.

Padahal jika anak tidak bosan mengerjakan keterampilan, hasil kegiatan atau prakarya anak dapat meningkatkan kecerdasan visual spasial anak. Dengan keterampilan tangan anak dapat memanipulasi bahan, kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih karenanya. Selain itu kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan diri anak (menurut Yuliani Nurani Sujiono, dkk 2008: 6.20).

Berbagai upaya telah dilakukan guru dalam meningkatkan kreativitas anak didik, seperti menggambar di halaman, mewarnai gambar yang sudah ada, dll. Akan tetapi belum didapat peningkatan kreativitas pada anak didik secara signifikan. Dari 10 anak didik hanya 3 anak yang dapat mengerjakan tugas tanpa bantuan guru, sedangkan yang lain masih dibantu guru, hal ini berarti kreativitas siswa masih sangat rendah.

Berdasarkan pengamatan masalah yang ada pada PAUD tempat saya mengajar, langkah yang akan diambil peneliti agar kreativitas anak dapat meningkat adalah dengan metode bermain plastisin atau lilin malam. peneliti mencoba mencari jalan keluar masalah dengan upaya perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas (PTK), karena masalah tersebut dapat menimbulkan masalah baru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di PAUD tempat saya mengajar.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana perkembangan kreativitas anak sebelum melakukan kegiatan bermain plastisin ?
  2. Apakah terdapat peningkatan kreativitas anak dengan menggunakan metode bermain plastisin ?

tujuan dari penelitian ini Untuk mengetahui kemampuan kreativitas anak melalui metode bermain plastisin pada siswa kelompok B di PAUD MELATI  Kecamatan Majasari Tahun Ajaran 2018/2019, Untuk mengetahui kemampuan kreativitas melalui metode bermain plastisin pada  anak kelompok B di PAUD melati tahun 2017/ 2018 serta Untuk mengetahui perkembangan kreativitas anak sebelum dan sesudah dilakukan penelitian menggunakan metode bermain plastisin di kelompok B PAUD Melati.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Keativitas

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditunjukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal non formaldan in formal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (kordinasi motorik kasar dan motorik halus), kecerdasan (daya fikir, daya cipta, kecerdasaan emosi, kecerdaaan spiritual) social emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan oleh anak usia dini.

Secara alamiah perkembangan anak berbeda-beda, baik dalam bakat, minat, kreativitas, kematangan emosi, kepribadian, keadaan jasmani, dan sosialnya. Selain itu, setiap anak memiliki kemampuan tak terbatas dalam belajar yang inheren (telah ada) dalam dirinya untuk dapat berpikir kreatif dan produktif. Anak akan beraktivitas sesuai minat dan potensi yang dimiliki dirinya, perkembangan kreativitas anak harus diberikan stimulasi dari mulai usia dini, sehingga anak akan terasa untuk berpikir kreatif, karena dengan kreativitaslah memungkinkan manusia menjadi berkualitas dan survive dalam hidupnya. Anak akan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, mampu menghasilkan karya yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya.

Kreativitas sangat penting untuk dikembangkan sejak usia dini, seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992: 46), bahwa : Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dari Pengertian kreativitas ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, pengembangan krativitas sangatlah penting.

Banyak permasalahan serta tantangan hidup menuntut kemampuan adaptasi secara kreatif dan kepiawaian dalam mencari pemecahan masalah yang imajinatif. Kreativitas yang berkembang dengan baik akan melahirkan pola pikir yang solutif yaitu ketrampilan dalam mengenali permasalahan yang ada, serta kemampuan membuat perencanaan – perencanaan dalam mencari pemecahan masalah.

Maslow (Utami Munandar 2014 : 27) kreativitas di samping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat, juga salah satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia.

Menurut Barron yang dikutip dari Ngalimun dkk (2013 : 44) kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford yang dikutip dari ngalimun dkk (2013 : 44) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai seorang kreatif.

Demikian juga Dreavdahl (Hurlock, 1978 : 325) yang dikutip dari Ngalimun dkk (2013 : 45)  mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan – gagasan baru yang dapat berwujud kreativitas imajinatif atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola – pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang.

Dari beberapa sumber di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang baru sesuai imajinasi atau khayalannya.

Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas

Hasil penelitian para ahli di atas menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam kreativitas meliputi : daya imajinasi, rasa ingin tahu dan orisinalitas (Kemampuan Menciptakan Sesuatu Yang Biasa Dan Tidak Biasa) dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingat, daya tangkap, penalaran, pemahaman terhadap tugas dan faktor lain dalam intelegensi. Jadi, pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kreativitas sangatlah penting. Kreativitas perlu dicari atau dilatih oleh pendidik dan orang tua, setiap anak pada dasarnya memiliki potensi akan kreativitasnya. Oleh karena itu pendidik atau orang tua harus bisa meningkatkan kreativitas dengan melakukan pengamatan dan penilaian secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai alat pemantau keefektifan kemampuan berkreativitas.

Guru  yang waspada pada karakteristik anak didik yang menunjukkan potensi kreatif dapat mengakui perbedaan individu dalam masa kanak-kanak dan pemeliharaan perkembangan dari kreativitas melalui tingkat dalam semua daerah perkembangan. Oleh karena itu dukungan guru untuk memahami segala aspek perkembangan anak hendaknya dapat memunculkan atau menggali potensi anak yang masih tersembunyi, dan mengembangkan yang sudah muncul dalam bermain sampai anak merasa senang melakukan semua kegiatan. Guilford mengemukakan bahwa ada lima sifat yang menjadi cirri kemampuan berpikir kreatif, yakni: (a) kelancaran (fluency); (b) keluwesan (flexibility); (c) keaslian (originality); (d) penguraian (elaboration); dan (e) perumusan kembali (redefinition) dalam Ahmad Susanto  (2011:117).

Baca Juga:  Egi Hermanus Terpilih Jadi Kades Lomba Karya Bengkayang

Konsep Dasar Plastisin

Menurut BB Clay Designs, 6 Maret 2011, Clay Plastisin adalah lilin malam yang digunakan anak bermain, plastisin dapat digunakan berulang – ulang karena tidak untuk dikeraskan.

Menurut kelompok belajar BB Clay Designs (2011), arti kata clay adalah tanah liat. Tanah liat adalah materi alam yang dapat diolah dan dibentuk menjadi macam tembikar atau kita sebut juga keramik.

Menurut Well Mina (23 Juni 2012) plastisin atau lilin malam juga termasuk keluarga clay, biasanya untuk mainan anak banyak dijual di toko dengan banyak warna dan mudah dibentuk. Bentuk akhirnya tetap lunak dan dapat diolah kembali.

Hampir semua kegiatan di TK bisa memotivasi anak untuk melakukan percobaan dan kreatif. Salah satu contohnya adalah dengan mengenalkan anak dengan seni rupa. Adapun aspek edukatif adalah pembelajaran yang dikembangkan hendaknya dapat mendidik anak sejalan dengan perkembanganya. Aspek psikologis yang dimaksud adalah perkembangan pikir, rasa dan emosional yang berkaitan dengan karakteristik atau sifat dasar anak yang serba ingin tahu. Aspek karakteristik materi disesuaikan dengan kurikulum yang ada, sedangkan aspek ketersediaan sumber belajar adalah sumber atau bahan yang digunakan menarik bagi anak, mudah didapat, praktis, dan aman penggunaannya. Disini tersedia macam-macam alat atau media bermain salah satunya media plastisin dari lilin malam. Dengan media plastisin ini anak dapat bermain sesuka hati sesuai dengan keinginan atau imajinasi anak didik. Dengan bermain plastisin ini, anak belajar meremas, mengiling, menipiskan dan merampingkannya, ia membangun konsep tentang benda, perubahannya dan sebab akibat yang ditimbulkannya. Ia melibatkan indra tubuhnya dalam dunianya, mengembangkan koordinasi tangan dan mata, mengenali kekekalan benda, dan mengeksplorasi konsep ruang dan waktu.

Hubungan Plastisin dan Kreativitas

Bermain plastisin bermanfaat untuk melatih motorik halus anak. Kegiatan memilin, menekan serta membentuk plastisin menjadi aneka bentuk akan sangat bermanfaat untuk melenturkan jari jemari anak. Tentu saja hal ini sangat berguna untuk keterampilan untuk menulis saat ia bersekolah nantinya.

Bermain plastisin juga dapat meningkatkan kreativitas anak. Bagaimana kemudian anak berkreasi membuat aneka bentuk sebagaimana yang dicontohkan. Atau bisa

jadi anak malah menciptakan sendiri bentuk lain yang tidak di contohkan. Sehingga permainan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak Haeriah Syamsuddin (2014: 125).

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah semester 1 (satu). Penelitian akan dilaksanakan dengan II (dua) siklus, siklus I dari tanggal 29 juli -3 agustus 2018, siklus II dari tanggal 6-10 agustus 2018, Tempat atau lokasi penelitian di kelompok B PAUD MELATI beralamat di Komplek Saruni Permai Blok II No 27 Kelurahan Saruni Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang Banten.

Analisis Data

Analisis data dilakukan untuk mengolah dan menginterpretasi data dengan tujuan memperoleh informasi yang sesuai untuk tujuan penelitian (Wina Sanjaya, 2011: 106). Teknik analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif yaitu data yang diperoleh diubah ke dalam bentuk persentase.

Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 269) analisis data yang menggunakan teknik deskriptif kualitatif digunakan untuk menentukan peningkatan proses belajar melalui tindakan yang diberikan dan merujuk pada data kualitas objek penelitian seperti Belum Berkembang, Mulai Berkembang, Berkembang Sesuai Harapan dan Berkembang Sangat Baik. Sedangkan analisis data kuantitatif memanfaatkan persentase yang merupakan langkah awal dari kesuluruhan proses analisis. Diharapkan mlalui stimulasi kegiatan menggambar yang diberikan kemampuan motorik halus anak dapat berkembang atau mengalami peningkatan. Peningkatan dapat di lihat melalui perhitungan persentase dengan rumus seperti di bawah ini.

Menurut Acep Yoni (2010: 176), penghitungan terhadap data yang telah diperoleh dilakukan menggunakan rumus:

Persentase =

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Penelitian

Pembelajaran akan kreativitas sebelum penelitian dilakukan sangat kurang diminati anak didik, selain itu secara umum orang lebih mengutamakan kecerdasan IQ saja daripada kreativitas, padahal kreativitas penting, hal ini juga terjadi di kelas dimana kami mengajar.

Dalam  pengamatan   kami anak  didik  di PAUD Melati kelompok B kreativitas  anak  masih rendah,  hal ini dapat  terlihat ketika   mengerjakan   tugas   ketrampilan apapun masih banyak terlihat anak yang  hanya  mencontoh dan   tidak   berani atau tidak mau mencoba menambah bentuk lain dari contoh yang  sudah  ada.

Selain itu anak didik banyak yang terlihat bosan, ngantuk, kurang tertarik, dan bahkan ada yang  main sendiri  saat  mengerjakan ketrampilan seperti menggambar, mewarnai, menjiplak, menggunting atau ketrampilan lainnya.

Padahal jika anak tidak bosan mengerjakan ketrampilan, hasil kegiatan atau prakarya anak dapat meningkatkan kecerdasan visual spasial anak. Dengan ketrampilan tangan anak dapat memanipulasi bahan, kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih karenanya. Selain itu kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan diri anak. Berbagai upaya telah dilakukan guru dalam meningkatkan kreativitas anak didik, seperti  menggambar  di halaman, mewarnai gambar yang sudah ada, dll.  Akan   tetapi   belum   didapat   peningkatan   kreativitas  pada  anak  didik  secara signifikan.

Dari 10 anak didik hanya beberapa siswa yang dapat mengerjakan tugas tanpa bantuan Guru, sedangkan yang lain masih dibantu Guru, hal ini berarti kreativitas siswa masih sangat rendah.

Berdasarkan pengamatan masalah yang ada pada PAUD kami,  langkah yang akan diambil peneliti  agar  kreativitas  anak dapat  meningkat adalah dengan metode bermain plastisin. Peneliti mencoba mencari jalan keluar  masalah dengan upaya perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena masalah tersebut dapat menimbulkan masalah baru dalam Kegiatan Balajar Mengajar (KBM) di PAUD yang kami kelola.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di PAUD Melati Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang dilaksanakan dalam 2 siklus.

Hasil belajar anak didik pada kelompok B PAUD Melati Saruni pada tahun pelajaran 2018/2019 dalam upaya meningkatkan kreativitas anak didik melalui metode bermain plastisin secara umum mengalami kemajuan.

Kondisi Awal

Pada kondisi awal kemampuan anak dalam peningkatan kreativitas di PAUD Melati Saruni  masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada kondisi anak yang lebih suka main sendiri-sendiri, kurang antusias saat guru memberi pembelajaran

tentang kreativitas. Ketidakmampuan anak menciptakan hasil karya sesuai yang di inginkan di sebabkan belum adanya keberanian dalam membuat berbagai hasil karya, perasaan takut salah dan juga kurangnya motifasi guru dalammembuat hasil karya baik berupa menggambar, mewarnai, membuat bentuk dengan berbagai media, dll.

Berdasarkan hasil penelitian awal, jumlah anak yang sudah mampu mencapai indikator keberhasilan masih sedikit, dari 10 anak didik hanya 3  siswa yang dapat mengerjakan tugas tanpa bantuan Guru, sedangkan yang lain masih dibantu Guru, hal ini berarti kreativitas siswa masih sangat rendah.

dapat diketahui bahwa pada kondisi awal dari 10 jumlah anak, ada jumlah anak yang belum berkembang ada  4 anak (40%), anak yang mulai berkembang ada 4 anak (40%), dan anak yang berkembang sesuai harapan ada 2 anak (20%) sedangkan yang berkembang sangat baik/ optimal masih belum ada.

Siklus I

Masih banyak anak yang belum mampu memcapai indikator-indikator keberhasilan pada kondisi awal, hal tersebut membuat peneliti berusaha melakukan perbaikan melalui kegiatan pada siklus I, Setelah dilakukan pengamatan pada siklus I,  peneliti mendapatkan hasil observasi seperti yang tertera pada tabel 4.3 kondisi anak berubah setelah dilakukan siklus I, peneliti melakukan penelitian selama 2 kali pertemuan pada siklus I.

dari hasil observasi pada siklus I dapat diketahui  peningkatan kemampuan anak dari jumlah anak yang belum berkembang pada kondisi awal ada 4 anak, pada siklus I jumlah anak yang belum berkembang menjadi 2 anak, jumlah anak yang mulai berkembang pada siklus I menjadi 1 anak, jumlah anak yang berkembang sesuai harapan ada 4 anak dan jumlah anak yang berkembang sangat baik/ optimal ada 3 anak.

Siklus II

Pada tahap ini, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan. Guru melaksanakan kegiatan dengan media sama dengan siklus I bedanya pada siklus I anak mengerjakan tugas secara individu pada siklus II anak melakukan kegiatan secara berkelompok.

dari hasil observasi pada siklus II dapat diketahui bahwa jumlah anak yang belum berkembang sudah tidak ada, sedangkan  jumlah anak yang mulai berkembang  ada 1 anak (10%),  jumlah anak yang dapat berkembang sesuai harapan ada 4 anak (40%) dan jumlah anak yang berkembag sangat baik/optimal meningkat dari 3 anak di siklus I menjadi 5 anak (50%) di siklus II.

Pembahasan

Setelah diadakan penelitian tindakan kelas terhadap anak PAUD Melati Saruni Kecamatan Maja Sari Kabupaten Pandeglang, dengan  melalui dua siklus, ternyata membawa hasil yang memuaskan bagi peneliti maupun para dewan guru.

Upaya peningkatan kreativitas melalui metode bermain plastisin hasilnya dapat dilihat pada hasil observasi yang telah dilaksanakan. Presentase kemampuan anak dalam mengikuti kegiatan dari mulai studi awal sampai pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II.

Dari data di atas dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan anak dalam meningkatkan kreativitasnya mengalami peningkatan. Dari kondisi awal jumlah anak yang sudah berkembang sesuai harapan hanya 2 anak (20%) dan anak yang berkembang sangat baik / optimal tidak ada meningkat, pada siklus I menjadi 40 % atau 4 anak berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik /optimal 3 anak (30%). Dan pada siklus II meningkat lebih baik lagi menjadi 90 % atau 9 anak yang terdiri dari 4 anak berkembang sesuai harapan dan 5 anak berkembang sangat baik / optimal.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pada tabel hasil penelitian di atas dapat dikatakan bahwa bermain plastisin dapat meningkatkan kreativitas pada anak kelompok B  PAUD Melati Saruni Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang.

Dari kondisi awal jumlah anak yang sudah berkembang sesuai harapan hanya 2 anak (20%) dan anak yang berkembang sangat baik/optimal tidak ada meningkat, pada siklus I menjadi 40 % atau 4 anak berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik/optimal 3 anak (30%). Dan pada siklus II meningkat lebih baik lagi menjadi 90 % atau 9 anak yang terdiri dari 4 anak berkembang sesuai harapan dan 5 anak berkembang sangat baik /optimal.

Saran

Dari hasil kesimpulan diatas hasil terhadap tindakan penelitian kelas tersebut ada beberapa hal yang penting untuk dapat ditindak lanjuti yaitu:

  1. Saran untuk guru

Penggunaan media pembelajaran yang mudah didapat dan guru ikut aktif dapat dijadikan suatu alternatif untuk meningkatkan kreativitas anak. Hasil penelitian ini mampu mendiskripsikan kemampuan kreativitas anak melalui pembelajaran bermain plastisin dari tanah liat dapat meningkat, atau dengan bahan alam yang

lain yang ada di lingkungan sekitar kita. Sebaiknya setelah tanah liat diambil dari alam, segera bungkus dengan plastik, agar kondisi tanah liat tidak cepat mengeras saat akan digunakan. Sebelum digunakan untuk membentuk tanah liat diremas-remas terlebih dahulu agar hasilnya nanti terlihat rapi dan halus. Pembelajaran dengan adanya benda konkrit dapat mempermudah anak didik dalam mengawali imajinasinya membuat bentuk.Ciptakan suasana pembelajaran yang menarik bagi anak dengan esensi bermain tidak di dalam kelas saja. Bimbinglah dengan kasih sayang serta motivasi dengan sanjungan, hargai hasil karya anak dengan hadiah/reward.

  • Saran untuk sekolah

Implementasi media pembelajaran bermain plastisin dari tanah liat, dengan membuat berbagai bentuk dapat meningkatkan hasil belajar anak dan juga sebagai modal dasar seni ketrampilan yang akan berguana dikehidupan nanti, dan tidak ada salahnya apabila model pembelajaran ini dicoba pada aktivitas lain dengan bahan dan dengan metode atau teknik yang lain pula.

  • Saran Untuk Kedua Orang Tua

Agar lebih memperhatikan setiap potensi yang dimiliki anak tidak hanya potensi akademik semata tetapi juga pada potensi kreativitas dengan stimulus diri termasuk diterapkan kegiatan kreativitas di rumah dengan suasana yang menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adang Heriawan, Darmaji & Arip Sanjaya. (2012). Metodologi Pembelajaran. Serang: LP3G

Ahmad Chaedar Alwasilah. (2006). Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif: Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Ahmad Susanto. (2011). Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Haeriah Syamsudin. (2014). Brain Game Untuk Balita . Yogyakarta: Media Pressindo.

Janice J. Beaty. (2013). Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Lexy J. Moleong. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya 

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta, cv

Suharsimi Arikunto. (2013). Prosedur Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.

Euis Purwati & Donni Juni. (2015). Manajemen Kelas. Bandung:  Alfabeta.

Utami Munandar. (2014). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Mansur. (2005). Pendidikan Anak Usia Dini Dala Yogyakarta: Pustaka pelajar.

Morrison, S George. (2012). Buku Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Penerjemah: Suci Romadhona dan Apri Widiastuti. Jakarta: PT Indeks.

MS Sumantri. (2005). Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini.

Jakarta: Dinas Pendidikan.

To Top