Politik

Indonesia Punah, Prabowo Marah

Acara Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul, Senin (17/12/2018)

VOIR – Selama kurang lebih 45 menit berpidato di Konfernas Gerindra 2018, Sentul, Prabowo menyampaikan banyak hal. Namun entah mengapa justru hanya statement “Indonesia punah” yang menjadi perhatian media-media nasional.

Penekanan mengenai “Indonesia Punah” ini juga tidak dijelaskan secara detail oleh media massa yang dengan segera menabrakan statemen tersebut dengan kubu petahana. Sebenarnya perjuangan Prabowo Soebianto dalam Partai Gerindra-nya memang adalah “Indonesia Punah” ini. Mengapa? Fiksikah? Mimpikah? Pesimiskah? Phobiakah? Atau menebar terrorkah Prabowo selama ini dengan mengucapkan Indonesia punah? Bagaimana sih suatu Negara bisa punah dalam era masa kini?

Bukankah sekarang suatu Negara sudah semakin dependable atau bergantung dengan Negara lain sehingga kepunahan itu tidak memungkinkan? Mari kita ulas bersama-sama.

Baik teori sosiologis maupun antropologis mengenai punahnya suatu bangsa sebenarnya diambil dari berbagai macam kasus, dimulai dari punahnya bangsa Aztec, Maya, Mesopotamia dan lain-lain.

Alasan terjadinya kepunahan bangsa tersebut bisa dikarenakan bencana alam, peperangan atau habisnya sumber daya yang dimiliki sehingga suatu peradaban bisa punah. Namun dalam teori hubungan internasional, kepunahan suatu bangsa dimungkinkan terjadi juga karena pecahnya suatu Negara. Bisa disintegrasi bangsa, perang saudara atau kegagalan ekonomi, contoh-contohnya pun dapat kita lihat dimulai dari pecahnya Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslowakia bahkan yang terbaru adalah Sudan Selatan.

Sedangkan calon Negara-negara baru karena sedang terjadi konflik di suatu Negara bisa kita sebutkan Catalunia, Irlandia Utara atau Bougenville. Bahkan Belgia pun sedang mengalami konflik yang sama antara Walonie dan Flemish. Apabila perpecahan itu terjadi, maka dapat dipastikan tidak ada lagi Negara Belgia. Yang ada adalah Negara Walonie yang dihuni oleh orang-orang keturunan Perancis dan Negara Flemish yang keturunan Belanda.

Lalu bagaimana dengan Indonesia seperti yang selalu diingatkan oleh Prabowo? Melihat teori hubungan internasional dan antropologi, sangat dimungkinkan Indonesia akan punah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia akan punah. Faktor historis, sosiologi-antropologi maupun faktor ekonomi.

Pertama secara historis, pada tanggal 27 Desember 1949, KMB menghasilkan kesepakatan berdirinya Republik Indonesia Serikat yang terdiri atas 16 negara bagian. Umur dari RIS tersebut hanya beberapa bulan, karena kelihaian Presiden Soekarno pada saat itu, pada tanggal 17 Agustus 1950 negara RIS dibubarkan dan membentuk Republik Indonesia yang menyatukan Negara-negara bagian tersebut menjadi Negara kesatuan, bukan Negara federasi lagi.

Jadi secara empirik, ketika Republik Indonesia dapat menggantikan Republik Indonesia Serikat, maka secara teori, Republik Indonesia Serikat pada kondisi tertentu dapat menggantikan kembali Republik Indonesia.

Kedua faktor antropologis, Negara Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang bergabung menjadi suatu bangsa baru yaitu bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia merupakan kesepakatan pemuda-pemuda yang bersatu pada tahun 1928. Kesepakatan itu tertuang dalam bentuk sumpah pemuda, dimana berbagai organisasi kepemudaan pada saat itu seperti Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon.

Ketika kesepakatan tersebut tidak dijaga dengan baik, contohnya ada salah satu suku bangsa lebih dominan dari suku bangsa lainnya, maka kesepakatan tersebut juga bisa dibatalkan. Apalagi, secara kebangsaan, Indonesia belum sepenuhnya memiliki karakter sekuat suku bangsa yang bersepakat.

Ketika seorang anak lahir dari ayah Jawa dan ibu Perancis, dan dibesarkan di Amerika, maka anak itu bukan menjadi orang Indonesia, namun orang Amerika keturunan Jawa Perancis. Indonesia nya hilang.

Begitu juga dengan pemain bola warga Negara Belanda, keturunan Ambon. Secara kebangsaan dia akan lebih melekat ke Ambon daripada Indonesia. Itulah mengapa karakter Kebangsaan Indonesia tidak sekental karakter kebangsaan suku Jawa atau Sulawesi misalnya.

Dan secara teori, apabila pekerjaan rumah ini tidak dikerjakan oleh pemerintah, maka konflik diantara suku bangsa dapat menggerus eksistensi bangsa Indonesia.

Secara faktor ekonomi, besarnya hutang luar negeri Indonesia dan besarnya arus impor pangan merupakan salah satu contoh negara yang mengandalkan kekuatan asing alias tidak berdikari.

Baca Juga:  Jokowi Gulung Lengan Baju, Prabowo Menari, Ini Kata Pengamat

Memang menurut Menteri Keuangan Terbaik sedunia tahun 2018, Sri Mulyani, hutang Indonesia masih pada taraf aman. Namun sebagai Negara yang berhutang dan masih mengandalkan impor pangan, tentu saja Negara tersebut tidak memiliki pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Contohnya, Indonesia per bulan Agustus 2018 memiliki hutang sebesar US$ 360,7 miliar atau sekitar Rp 5.410 triliun. Selanjutnya, jika kita elaborasi negara yang menjadi kreditor terbesar, terdapat 5 negara yaitu, Singapura dengan total mencapai US$ 57,80 miliar, Jepang dengan US$ 28,97, Tiongkok dengan US$ 16,75, AS dengan US$15,48 dan  Hongkong dengan total US$13,66.

Apabila pada saat ini pecah perang di Laut China Selatan dimana kelima Negara kreditur tersebut terlibat langsung, maka Indonesia mau tidak mau, suka tidak suka harus mengakomodir kepentingan dari kelima Negara tersebut di kawasan Indonesia, meskipun secara langsung Indonesia tidak terlibat. Indonesia harus membuka aksesnya di Sumatera, Kalimantan dan Papua untuk marinir AS dengan alasan menjaga asset-asset perusahaan Amerika.

Begitu juga Indonesia harus rela angkatan perang China menjaga asset-asset perusahaannya di Jawa dan Sulawesi. Sehingga ketika terjadi openfire, maka rakyat Indonesia sebagai tuan rumah besar kemungkinan menjadi korban. Selain itu apabila terjadi deadlock antara Negara yang bertikai, bukan tidak mungkin apabila militer asing itu mendirikan pemerintahan boneka di tiap pulau yang didudukinya. Sehingga Negara Indonesia semakin lama semakin lemah baik secara ekonomi maupun pemerintahan.

Melihat dari ulasan di atas, maka sebenarnya tidak salah ketika Prabowo sering mengingatkan tentang bahaya “Indonesia punah”.

Tidak salah juga ketika media menekankan bahaya “Indonesia punah” pada pemberitaannya. Yang salah adalah orang-orang yang mengabaikan peringatan itu. Karena secara usia, Indonesia menginjak umur 73 tahun.

Apabila dibandingkan dengan Negara Amerika yang sudah berusia 242 tahun dan sudah mengalami berbagai macam cobaan kebangsaan, maka Indonesia dapat dikatakan masih muda.

Generasi The Baby Boom (lahir antara 1946-1964) yang tidak pernah merasakan pedihnya dijajah oleh bangsa asing, namun masih merasakan dampak dari revolusi kemerdekaan.

Generasi X (lahir 1965-1976) merasakan dampak dari kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi era orde baru. Generasi Y (lahir antara 1977-1997) masih merasakan dampaknya nya dari pertumbuhan ekonomi, namun sudah mulai mempertanyakan ketidakadilan politik di Indonesia.

Generation Z (lahir antara 1998-2010) mulai merasakan dampaknya keterbukaan arus informasi melalui internet, namun sudah mulai terputus adanya perasaan pernah dijajah bangsa asing.

Dan terakhir Generasi Alpha (lahir pada 2010-hingga sekarang) yang sudah lebih established mendapatkan arus informasi dengan lebih mudah dan stabil dari mana saja, dan sama sekali tidak pernah merasakan dampak dari era penjajahan, revolusi kemerdekaan maupun dampak dari otoritarian.

Sehingga disini adalah peran penting pemerintah Indonesia untuk terus menerus mengingatkan kepada generasi muda bahwa kemerdekaan itu direbut dengan darah dan air mata. Kita semua kehilangan sanak saudara demi mendapatkan kebebasan.

Apabila ada pejabat pemerintah maupun tokoh politik yang justru menjauhkan generasi muda dari pendidikan sejarah dan pemahaman politik, maka dapat dicurigai bahwa pejabat dan tokoh politik tersebut merupakan agen yang menginginkan Indonesia pecah atau punah, apalagi tokoh tersebut merupakan mantan tentara Indonesia.

Generasi muda Indonesia harus paham dan melek sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. karena ditangan merekalah Negara ini nanti akan berkiprah.

Apakah Indonesia akan punah ditelan sejarah, atau Indonesia akan kembali berjaya sesuai dengan harapan pahlawan kemerdekaan. Karena semua kemungkinan yang terburuk maupun yang terbaik dapat terjadi di masa depan. Bagaimana para tokoh politik senior saat ini seperti Prabowo wajib meletakkan fundamental bangsa Indonesia kembali ke jalan yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa ini. Adalah tugas kita semua untuk terus menjaga bangsa dan Negara Indonesia tetap eksis sampai selama-lamanya. Oleh karena itu jangan pernah mengabaikan peringatan. []

Penulis adalah Frank Wawolangi, Pemerhati HI

To Top