Politik

Pernyataan Tabok Dinilai Tak Memberi Kesan Bagus Buat Jokowi

Pengamat Politik LIPI, Syamsudin Haris. Foto (Radar Cirebon)

VOIR – Presiden Joko Widodo atau Jokowi kesal dan ingin mencari serta menabok orang yang menyebarkan isu dirinya adalah aktivis PKI. Pengamat politik LIPI, Syamsudin Haris menilai seharusnya Jokowi tidak melontarkan pernyataan tersebut.

“Kesannya tidak begitu bagus buat beliau,” kata Syamsudin di Jakarta, Sabtu (24/11).

Dia mengimbau kepada Jokowi sebagai petahana agar tidak mengeluarkan pernyataan tersebut. Menurut dia, hal tersebut sebaiknya diambil alih oleh para tim sukses saja.

“Biarkan hal itu menjadi wilayah tim sukses. Kan tim suksesnya banyak,” kata Syamsudin.

“Jadi saya imbau kepada Pak Jokowi, petahana, tidak usahlah memasuki wilayah itu, statemen-statemen pihak lawan politik,” tambah Syamsudin.

Diketahui Jokowi kembali menyinggung indivasi bohong dan fitnah yang beredar di media sosial memasuki tahun politik. Salah satunya, isu yang menyebutkan bahwa Jokowi merupakan aktivis PKI.

Baca Juga:  Hasil Tes Swab Berbeda antara Dua Rumah Sakit, Pengamat Curiga ada Pesanan Oknum Politik

Ini disampaikan Jokowi saat membagikan 1.300 sertifikat tanah untuk warga Lampung Tengah di Lapangan Tenis Indoor Gunung Sugih, Lampung Tengah, Jumat (23/11).

“Coba lihat di medsos, Presiden Jokowi itu PKI. Fitnah-fitnah seperti itu,” kata dia.

Jokowi berulang kali membantah bahwa dia bukan aktivis PKI. PKI sudah dibubarkan pada 12 Maret 1966, sedangkan Jokowi baru dilahirkan 21 Juni 1961.

“Saat PKI dibubarkan saya baru 4 tahun. Kok bisa diisukan Jokowi aktivis PKI, masak ada PKI balita,” ujarnya.

Selama empat tahun menjadi Presiden, Jokowi mengaku selalu dikaitkan dengan PKI. Jokowi tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. Kepala Negara menyatakan bakal mencari siapa yang menyebar isu bohong.

“Ini yang kadang-kadang haduh. Mau saya tabok orangnya di mana, saya cari betul,” kata Jokowi. (voir/merdeka.com)

 

To Top