Nusantara

UPAYA MANINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA DINI MELALUI METODE INQUIRY DISCOVERY DALAM PEMBELAJARAN MENGENAL WARNA SEKUNDER PADA PAUD AR-RAUDHATUL JANNAH KECAMATAN GROGOL KOTA CILEGON

Oleh: Hj. Basiroh (Mahasiswa Lulusan Program Studi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Anak Usia Dini STKIP Mutiara Banten)

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkat Kognitif Anak Usia Dini melalui Metode Inquiry Discovery dalam pembelajaran mengenal warna sekunder (Penelitian Tindakan Kelas pada Kelompok A PAUD Ar Rhaudatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon) Latar belakang penelitian ini  adalah karena rendahnya kemampuan siswa kelompok A PAUD Ar Rhaudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon dalam mengenal warna khususnya warna skunder. Tujuan Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, dengan menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu teknik tes observasi dan dokumentasi. Dalam penelitian juga menggunakan dua teknik pengolahan data yaitu teknik analisis kualitatif dan teknik analisis kuantitatif melalui uji t.sampel penelitian ini adalah kemampuan mengenal warna skunder pada siswa  kelompok A PAUD Ar-Rhaudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon sejumlah 12 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan peningkatan pengenalan konsep warna sekunder anak usia dini siswa kelompok A PAUD Ar-Rhaudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon. Siklus 1, pada indikator kesatu, dua, dan tiga, yaitu mengenal warna primer dari anak yang diinterprestasikan mendapat nilai BB (33,3%), Nilai MB (33,3%) dan BSH (33,3%). Pada siklus II, pada indikator ke satu, dua, tiga, yaitu menyebutkan jenis warna primer yang mendapat nilai MB (16,7%) dan BSH (75%). Dari hasil tindakan penelitian kelas yang dilakukan peneliti, terlihat bahwa pengenalan konsep warna sekunder anak mengalami peningkatan yang signifikan pada setiap siklusnya. Hal ini menunjukan bahwa penelitian tindakan kelas yang dilakukan melalui tahap siklus I DAN II dinyatakan berhasil.

Kata kunci: Kognitif, inquiry-Discovery, warna Sekunder.

Abstrac : This study aims to improve Cognitive Early Childhood through Inquiry Discovery Method in learning to recognize secondary color (Classroom Action Research in Group A PAUD Ar Rhaudatul Jannah Grogol District Cilegon City) The background of this study is due to the low ability of students in group A PAUD Ar Rhaudhatul Jannah District Grogol Kota Cilegon in recognizing colors especially secondary colors. The purpose of this study uses classroom action research methods, using two data collection techniques namely observation and documentation test techniques. In the study also used two data processing techniques, namely qualitative analysis techniques and quantitative analysis techniques through t test. The sample of this study was the ability to recognize secondary colors in A-PAUD Ar-Rhaudhatul Jannah group A students in Grogol District, Cilegon, a total of 12 students. The results of this study indicate the success of increasing the introduction of the concept of secondary color early childhood students in group A PAUD Ar-Rhaudhatul Jannah Grogol District, Cilegon City. Cycle 1, on the first, second, and third indicators, namely recognizing the primary color of the children being interpreted received BB values ​​(33.3%), MB values ​​(33.3%) and BSH (33.3%). In the second cycle, the first, second, third indicators, namely the type of primary colors that received MB (16.7%) and BSH (75%). From the results of classroom research actions conducted by researchers, it appears that the introduction of the concept of secondary colors of children has increased significantly in each cycle. This shows that the classroom action research conducted through the stages of cycle I AND II was declared successful.

Keywords: Cognitive, inquiry-discovery, secondary color.

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan swngan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Dalam kurikulum Paud yang mengacu pada permen Diknas No.58 Tahun 2003, dijelaskan bahwa kompetensi dasar yang harus dikuasai dalam bidang pengembangan kognitif yaitu salah satunya anak mampu mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Adapun hasil belajar yang diharapkan yaitu dapat mengenal konsep Sains sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Adapun hasil belajar yang diharapkan yaitu anak dapat mengenal konsep sains sederhana yang salah satu indikatornya adalah anak mampu mengenal konsep warna.

Hal ini terlihat masih banyak anak yang sama sekali belum mampu mengenal warna, terutama warna-warna sekunder. Ini sesuai dengan kondisi yang peneliti alami dilapangan bahwa anak hanya mengetahui warna yang ada, tanpa memahami jelas warna secara konsepnya. Selain itu, penerapan konsep warna dalam prakteknya sulit untuk dilakukan anak. Anak cenderung tidak mengetahui dari mana warna- warna itu berasal, karena anak hanya mengenal warna dari media kertas warna. Oleh karena itu, anak tidak dapat mengetahui dan memahami dengan pasti  bagaimana konsep warna itu sebenarnya. Bertolak dari penjelasan diatas, maka diperlukan strategi yang tepat dan inovatif untuk meningkatkan pemahaman anak mengenai konsep strategi yang tepat dan inovatif untuk meningkatkan pemahaman anak mengenai konsep warna. Dalam hal ini perlu diupayakan penerapan model pembelajaran yang mendorong anak untuk lebih aktif, kreatif, tertantang dan menyenangkan dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang dipandang cocok untuk mengembangkan potensi anak dalam mengenal konsep-konsep sederhana adalah strategi pembelajaran Inquiry-discovery. melalui penggunaan strategi inquiry-discovery dalam pembelajaran, anak akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai warna dan akan lebih tertarik terhadap warna, jika mereka dilibatkan secara aktif dalam melakukan penemuan warna. Investigasi yang dilakakukan oleh anak merupakan tulang punggung strategi inquiry-discovery.investigasi difokuskan untuk memahami konsep-konsep warna dan meningkatkan keterampilan proses berfikir anak. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan anak dalam mengenal warna dengan menggunakan metode Inquiry-discovery.

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengetahui kondisi awal kemampuan anak di PAUD Ar Raudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon dalam mengenal konsep warna sekunder.

2. Mendeskripsikan proses penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode inquiry-discovery untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal warna sekunder di PAUD Ar Raudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon.

3. Mengetahui efektivitas hasil pembelajaran mengenal warna sekudner dengan menggunakan metode Inquiry-discovery di PAUD Ar Raudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon.

Manfaat penelitian penelitian ini adalah mengenal efektivitas penerapan metode inquiry-discovery dalam meningkatkan pemahaman konsep warna sekunder diharapkan dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak. Penelitian ini dapat memberi manfaat secara teoritis dan praktis, yaitu : a. Bagi guru pelaksanaan penelitian ini akan memberikan masukan tentang metode pembelajaran yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengenai warna bagi anak. Membangkitkan kreativitas guru dalam menerapkan dan menciptakan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. B. Bagi anak, metode Inquiry-Discovery dapat melatih anak untuk berfikir lebih kritis, diharapkan anak menajdi terbiasa dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, membantu anak menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit, mendorong semangat belajar anak didik terhadap pembelajaran warna.

KERANGKA BERFIKIR

Model pembelajaran anak usia dini menurut Sujiono(2012), memiliki dua jenis model yaitu pembelajaran yang berpusat pada anak dan berpusat pada guru. Pembelajaran yang berpusat pada guru dipralarsai oleh Povdop, Skinner, dan para tokoh Behaviorios lainnya. Metode pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada anak, memberikan kesempatan dan kebebasan pada anak untuk mengemukakan pemikirannya. Mereka mengemukakan pemikirannya sendiri dan mengidentifikasikan kegiatannya. Segala sesuatu yang munculnya dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek yang terpenting dalam metode yang berpusat pada anak adalah kebebasan anak dalam bermain. Kebaikan sari kurikulum berdasarkan pembelajaran memandang kebutuhan anak sebagai kebutuhan individu yang bernilai. Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan istilah, pengajaran langsung dimana guru atau instruktur memberikan petunjuk atau instruksi langsung tentang apa yang harus dilakukan oleh anak dan guru mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak.pendekatan inovatif dalam strategi pembelajaran diperlukan untuk mengaktifkan keterlibatan siswa secara mandiri dalam proses pembelajaran, melalui kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada proses penemuan (discovery) dan pencarian (inquiry). Inquiry berasal dari bahasa inggris”inquiry” yang secara harfiah berarti penyelidikan. Metode Inquiry merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawaban sendiri, serta ,menghubungkan dan membandingkan apa yang peserta didik temukan dengan penemuan lain. Nurhadi dkk(2004:43) mengemukakan bahwa dalam metode inquiry, peserta didik didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif dan mengadakan suatu  penelitian untuk menemukan suatu penemuan tertentu. Melalui inquiry memacu peserta didik untuk mengetahui secara mandiri dan memiliki keterampilan kritis dalam menganalisis informasi. Inquiry memberikan kepada peserta didik pengalaman-pengalaman yang nyata dan aktif. Peserta didik dilatih bagaimana cara memecahkan masalah, membuat keputusan dan memperoleh keterampilan. Discovery adalah proses mental di mana anak mampu mengasimilasikan sesuai konsep atau prinsip. Proses mental tersebut antara lain adalah mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Metode discovery adalah metode penemuan, merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalam langsung. Pembelajaran dengan metode discovery telah menemukan proses dari pada hasil belajar. Ada beberapa langkah dalam metode discovery yaitu: 1. Adanya masalah yang akan dipecahkan. 2. Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik 3. Konsep atau prinsip harus ditemukan oleh peserta didik  melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas. 4. Harus tersedia alat dan bahan yang duperlukan 5. Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam proses pembelajaran. 6. Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data 7. Guru harus memberikan jawaban dengan cepat dan tepat dengan data dan informasi yang diperlukan peserta didik (Mulyasa:2007). Terdapat beberapa keunggulan dari kegiatan discovery yang dapat dijadikan sebagaimana berikut. Membantu anak untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif atau pengenalan anak. Metode belajar Discovery lebih realistis dan punya makna, sebab peserta didik bekerja langsung dengan contoh-contoh nyata. Peserta didik langsung mengaplikasikan kemampuannya. Metode belajar discovery merupakan suatu model belajar pemecahan masalah. Para peserta didik belajar langsung menerapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah pemecahan masalah. Transfer tidak dinantikan sampau kegiatan lain, tetapi langsung dilakukan, sebab metode discovery berisi sejumlah tranfer. Metode discovery banyak memberikan kesempatan bagi keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, sebab proses pembelajaran akan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik (Syaodih:2005). Sementara kelemahan dari kegiatan discovery dapat diamati dari serentetan poin berikut. Pada anak harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Anak harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik. Bila kelas kurang besar, penggunaan teknik ini akan kurang berhasil. Bagi guru dan anak yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan. Ada yang berpendapat bahwa proses mental ini perlu terlalu mementingkan proses pengertian saja. kurang memperhatikan perkembangan atau pembentukan sikap dan keterampialn bagi anak. Teknik ini mungkin memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif. Strategi belajar paling baik dilaksanakan dalam kelompok belajar kecil. Namun ia dapat juga dilakukan dalam kelompok  belajar yang lebih besar. Meskipun tidak semua anak dapat terlibat dalam proses discovery, namun pendekatan ini dapat memberikan manfaat bagi anak yang belajar. Pendekatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi satu arah ataupun dua arah, tergantung pada besanya kelas.

Dalam strategi ini, bentuk bahan ajar agar tidak dijadikan sebagai bahan jadi, tetapi dapat berupa bahan setengah jadi, bahkan bahan seperempat jadi. Bahan pembelajaran dinyatakan sebagai rangkaian pertanyaan terstruktur yang harus dijawab oleh anak. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, anak nantinya tidak saja mendapatkan pemahaman menyeluruh terhadap suatu obyek kajian, tetapi pemahamannya juga dikembangkan secara bertingkat, sampai kemudian,..aha, aku telah menemukan! Berbeda dengan pendekatan behaviorisme dimana jawaban dari suatu pertanyaan merupakan jawaban tunggal yang pasti benar. Dalam pembelajaran penemuan ada sejumlah alternatif jawaban dengan nuansa perbedaan yang tipis, dalam hal ini tingkat kedewasaan atau kematangan struktur kognitif anak yang akan mampu membedakan. Dimungkinkan juga jawaban dari pertanyaan tersebut berupa jawaban hipotetik yang harus dibuktikan lebih lanjut kebenarannya. Beberapa metode pembelajaran yang termasuk dalam strategi discovery di antaranya: pembelajaran menggunakan lingkungan, pengamatan, percobaan, dan pemecahan masalah. Pembagian warna pada tahun 1831, Brewster (Nugraha,2008:35) mengemukakan teori  tentang pengelompokan warna. Teori Brewster membagi warna-warna yang ada di alam menjadi empat kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan netral. Kelompok warna mengacu pada lingkaran warna teori Brewster dipaparkan sebagai berikut: a. Warna primer adalah warna dasar yang tidak berasal dari campuran warna-warna lain. Menurut teori warna pigmen dar Brewster, warna primer adalah warna-warna dasar (Nugraha,2008:37). Warna-warna lain terbentuk dari kombinasi warna-warna primer. Menurut prang, warna primer tersusun atas warna merah, kuning dan hijau (Nugraha dalam Prawira, 1989:21). Akan tetapi, penelitian lebih lanjut menyatakan tiga warna primer yang masih dipakai sampai saat ini, yaitu merah seperti daah, biru seperti langit atau laut, dan kuning seperti kuning telur. Ketiga warna tersebut dikenal sebagai warna pigmen primer yang dipakai dalam senirupa. Secara teknis, warna merah, kuning, dan biru bukan warna pigmen primer. Tiga warna pigmen primer adalah magenta, kuning, dan cyan. Oleh karena itu, apabila menyebut merah, kuning, biru sebagai warna pigmen primer, maka merah adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan magenta, sedangkan biru adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan cyan. A. Warna sekunder merupakan hasil campuran dua warna primer dengan proporsi 1:1. Teori Blon (Prawira,1989:8) membuktikan bahwa campuran warna-warna primer menghasilkan warna-warna sekunder. Warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning. Warna hijau adalah campuran biru dan kuning. Warna ungu adalah campuran merah dan biru. B. Warna Tersier merupakan campuran satu warna primer dengan satu warna sekunder. Contoh, warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna primer kuning dan warna sekunder jingga. Istilah warna tersier awalnya merujuk pada warna-warna netral yang dibuat dengan mencampur tiga warna primer dalam sebuah ruang warna. Pengertian tersebut masih umum dalam tulisan-tulisan teknis. C.Warna Netral adalah hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Campuran menghasilkan warna putih atau kelabu dalam sistem warna cahaya aditif, sedangkan dalam sistem warna subtraktif pada pigmen atau cat akan menghasilkan coklat, kelabu, atau hitam. Warna ntral muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras dialam.

Baca Juga:  Gekira, Orsap Partai Gerindra Ucapkan Selamat Atas Terpilihnya Ketua dan Sekjen KWI Periode 2022-2025

Munsel(Prawira, 1989:70) mengemukakan teori yang mendukung teori Brewster. Munsell mengatakan bahwa : tigawarna utama sebagai dasar dan disebut warna primer, yaitu merah, kuning, dan biru. Apabila warna dua warna primer masing-masing dicampur, maka akan menghasilkan warna kedua atau warna skunder. Bila warna primer dicampur dengan warna skunder akan menghasilkan warna kedua atau warna sekunder. Bila warna primer dicampur dengan warna sekunder akan dihasilkan warna ketiga atau warna tersier. Bila antara warena tersier dicampur lagi dengan warna primer dan skunder akan dihasilkan warna netral. Warna tersier : Jingga + Merah = Jingga Kemerahan

Jingga + Kuning = Jingga Kekuningan

Ungu+ Merah = Ungu Kemerahan

Ungu+ Biru = Ungu Kebiruan

Hijau + Kuning = Hijau Kekuningan

e. Implementasi Metode Inquiry-Discovery Dalam Pembelajaran Pengenalan Warna Pada Anak Usia Dini.

Pada pembahasan awal telah dipetakan masing-masing dari inquiry dan discovery. Kedua istilah tersebut terkadang kedua kata itu dipertukarkan. Pesamaan antara keduanya dapat dilihat melalui uraian berikut.

  1. Sama-sama mencakup proses mencari dan menemukan
  2. Guru bertindak sama, yakni sebagai fasilitator dan pembimbing
  3. Kedua strategi ini berpusat pada anak (student/Children centered)
  4. Contoh penerapannya adalah melalui diskusi/tanya jawab
  5. Kurang efektif untuk kelas besar

Selanjutnya berikut ini adalah penjabarab mengenai omplementasi dari model inquiry-discovery pada ranah paud. Telah disinggung diawal bahwa diantara metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses penerapan inquiry-discovery adalah pembelajaran yang menggunakan lingkungan, pengamatan, percobaan, dan pemecahan masalah. Pembelajaran dengan lingkungan sebagai sumber belajar merupakan bentuk tantangan terhadap pola pembelajaran yang selama ini berkuat didalam kelas (indoor). Di lingkungannya, anak dapat lebih bebas bersosialisasi dengan anak sebaya, orang dewasa, pun juga dengan binatang, tumbuhan, atau dengan makhluk lainnya. Dengan pembelajaran ini anak dapat menemukan perbedaan antara dia dengan anak-anak lainnya, begitu juga dengan dunia sekitarnya. Dengan rasa ingin tahunya yang luar biasa, anak dapat diajak berpetualang untuk mendapatkan segala sesuatu yang baru. Anak sangat senang mencoba baik dengan cara memegang, memakan atau melempar benda-bena dan minat yang kuat untuk mengamati lingkungan. Pembelaran yang menggunakan metode percobaan dapat dicontohkan proses penerapannya oleh anak-anak dengan berlatih mencampur warna (dengan bahan cat tembok sederhana). Dengan cara seperti itu, anak akan menemukan warna hijau ketika ia telah mencampur warna cat kuning dengan warna biru. Warna orange dapat diperoleh dengan mencampur cat warna merah dengan cat kuning. Eksperimen lain yang dapat ditempuh adalah percobaan untuk menemukan konsep panjang dan pendek (dengan dua/lebih potongan kayu), tinggi dan rendah (aliran air dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah) dan sebagainya. Pembelajaran untuk pemecahan masalah dapat dilakukan dengan pembrian masalah sederhana kepada anak, misalnya dengan permainan balok, anak diberi rangsangan untuk menyelesaikan bagaimana meletakan balok segitiga, segiempat, segilima atau lingkaran, ke tempaatnya masing-masing. Selain itu, dengan pola pembelajaran kooperatif anak-anak akan terlihat bentuk kerjasamanya ketika mereka diberi seutas tali untuk memindahkan benda seberat sekian kilogram dari satu tempat ke tempat lain.

Dari contoh-contoh tersebut, pastinya masih terdapat beragam contoh lain dari implementasi inquiry-discovery dalam pembelajaran anak usia dini. Dengan menggunakan beraneka ragam pendekatan ataupun metode, guru diharapkan dapat memanfaatkan model inquiry-discovery sebagai sebuah alternatif dalam pelaksanaan pembelajaan, sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman yang signifikan dari proses belajarnya. Agar penerapan model tersebut berjalan efektif dan efisen, guru hendaknya tetap memperhatikan langkah-langkah sebagaimana yang telah diruraikan di awal. Definisi warna termasuk salah satu unsur keindahan dalam seni dan desain selain unsur-unsur visual yang lain (Prawira,1989:4). Lebih lanjut, santoyo (2005:9) mendefinisikan warna secara fisik dan psikologis. Warna secara fisik adalah sifat cahaya yang dipancarkan, sedangkan secara psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera, penglihatan. Terdapat tiga unsur yang penting dari pengertian warna, yaitu benda, mata dan unsur cahaya. Secara umum, warna didefinisikan sebagai unsur cahaya yang dipantulkan oleh sebuah benda dan selanjutnya dinterprestasikan oleh mata berdasarkan cahaya yang mengenai benda tersebut. Lebih lanjut warna dibagi menjadi dua menurut asal kejadian warna, yaitu warna additive dan substractive(Santoyo,2005:17-19). Warna additive adalah warna yang berasal dari cahaya dan disebut spektrum. Sedangkan warna subtractive adalah warna yang berasal dari bahan dan disebut pigmen. Kejadian warna ini diperkuat dengan hasil temuan Newton (Prawira, 1989:26) yang mengungkapkan bahwa warna adalah fenomena alam berupa cahaya yang mengundang warna spectrum atau pelangi dan pigmen. Menurut Prawira (1989:31) pigmen adalah pewarna yang larut dalam cairan pelarut. G. Fungsi warna karena begitu penting peranan warna bagi manusia, warna sering kali dipakai sebagai elemen elastis, sebagai refresntasi alam, alam sebagai komunikasi dan warna sebagai ekspresi.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatann yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas. Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu bagian dari penelitian tindakan dengan tujuan spesifik yang berkaitan dengan kelas.

Jenis PTK yang penulis susun adalah PTK partisipan. Menurut Sunendar (2008) suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelitian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak perencanaan penelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencatat dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan meloporkan hasil penelitiannya.  

LOKASI PENELITIAN

Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelompok A yang berjumlah 6 orang siswa perempuan dan 6 orang siswa laki-laki. Tempat penelitian yang dilakukan, peneliti mengambil lokasi di kelompok A PAUD Ar Rhaudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon. Fokus penelitian adalah peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep warna-warna skunder melalui metode Inquiry.

PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan data-data hasil penelitian di kelompok A PAUD Ar Rhaudatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon. A. kondisi kemampuan awal siswa dalam mengenal konsep warna sekunde sebelum diterapkan metode inquiry-discovery. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan saat mengobservasi tingkat kemampuan pengenalan warna di kelompok A PAUD Ar Rhaudatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon masih terlihat sifat konvensional. Hasil wawancara peneliti dengan peneliti di PAUD Rhaudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon mengenai kemampuan pengenalan warna dapat diperoleh gambaran yaitu dalam mengembangkan kemampuan anak dalam mengenal warna-warna sekunder, peneliti tidak pernah melakukan metode pembelajaran khusus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal warna khususnya warna-warna sekunder, akan tetapi kegiatan pengenalan warna pada anak hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan yang lain seperti mewarnai, melipat kertas warna, dll. Berdasarkan hasil observasi peneliti dengan rekan sejawat, ditemukan atau diidentifikasi adanya masalah yang muncul yaitu anak masih bingung bahkan ada yang belum mengenal warna terutama warna –warna sekunder (jingga, hujau, dan ungu). Hasil akhir dari penelitian ini kuasa eksperimen yang telah dilaksanakan di PAUD Ar Rhaudhatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon yang dilaksanakan dengan indikator yang ingin dicapai sebagai berikut : a. kemampuan anak dalam mengenal warna primer. b. Kemampuan anak dalam membuat kombinasi warna. c. kemampuan anak dalam menyebutkan jenis warna yang menyusun warna sekunder.

Kondisi pengenalan konsep warna sekunder anak usia dini kelompok A sebelum diterapkan metode inquiry-discovery belum berkembang dengan baik, hal ini dapat dilihat dari hasil temuan dilapangan, dimana hasil penilaian pada saat rata-rata pengenalan konsep warna sekunder masih berada pada kategori belum berkembang. Strategi dan metode yang diterapkan oleh para peneliti selama ini rupanya belum optimal dalam mengembangkan pengenalan konsep warna sekunder anak usia dini, meyoritas lebih terpaku pada metode konvensional tanpa menggunakan media belajar. Dalam kegiatan pembelajaran terkadang pengenalan konsep warna sekunder sering kali terabaikan karena peneliti hanya terfokus pada pembelajaran yang lain seperti bahasa, fisik dan motorik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil akhir pengenalan konsep warna sekunder anak usia dini siswa kelompok A PAUD Ar Rhaudatul Jannah Kecamatan Grogol Kota Cilegon sebagai berikut :

Siklus 1, pada indikator yang pertama yaitu mengenal warna primer dari anak yang diinterprestasikan mendapat nilai BB (16,7%), nilai MB (25%) dan BSH (58,3%). Kemudian pada indokator yang kedua, yaitu membuat kombinasi warna yang mendapat nilai BB ada orang anak (25%), MB (25%) dan BSH (50%). Pada indikator yang ketiga, yaitu menyebutkan jenis warna primer yang menyusun warna seknder(konsep warna) yang mendapat nilai BB, MB dan BSH masing-masing berjumlah (33,3%).

Siklus II, pada indikator yang pertama yaitu mengenal warna primer tidak ada anak yang mendapat nilai BB (0%),nilai MB (8,35%) dan BSH (91,7%). Kemudian pada indikator yang kedua, yaitu membuat kombinasi warna yang mendapat nilai BB (25%), MB (25%) dan BSH (50%). Pada indikator yang ketiga, yaitu menyebutkan jenis warna primer yang menyusun warna sekunder (konsep warna) yang mendapat nilai BB (16,7%), yang mendapat nilai MB (25%) dan BSH (58,3%).

Dari hasil tindakan penelitian kelas yang dilakukan peneliti, terlihat bahwa pengenalan konsep warna sekunder anak mengalami peningkatan yang signifikan pada setiap siklusnya. Hal ini menunjukan bahwa penelitian tindakan klas yang dilakukan melalui tahap siklus I dan II dinyatakan berhasil.

SARAN

Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:

a. Bagi Guru

1. pelaksanaan penelitian ini akan memberikan masukan tentang metode pembelajaran yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengenal warna bagi anak.

2. membangkitkan kreativitas guru dalam menerapkan dan menciptakan iinovasi dalam kegiatan pembelajaran.

3. memupul dan mengembankan kemampuan berfikir logis dan kritis dalam memecahkan masalah yang dihadapi dikehidupan sehari-hari baik sekarang maupun dimasa yang akan datang.

b. Bagi Sekolah

1. Meningkatkan mutu sekolah melalui peningkatan prestasi anak dan kinerja guru.

2. Kegiatan pembelajaran dikelas akan lebih efekif dan efisien.

3. Sekolah mampu mengembangkan model-model pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.

c. bagi peneliti, memberikan pengalaman dan wawasan pribadi dalam mengembangkan program pembelajaran khususnya kemampuan mengenal warna pada anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi P dan Amelia p.2009. yuk, bermain sains bersama ayah dan ibu. Jakarta : Dian Rakyat

Aida Bunda. 2011. Bermain sains untuk anak usia dini. ONLINE. http://bundaaida.wordpress.com/2011/04/24/bermain-sains-untuk-anak-usia-dini-.html

Arikunto, S.2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.Bumi Aksara

Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Beaty J.Janice 2013. Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenadamedia Grup.

Daniar, W. 2009. Teori Warna. ONLINE. http://Daniarwikan.Blogspot.com.id/2009/02// teori-warna.html

Harun, R, dkk.2012. Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Guna Media

Ibnu, T.W.2013. Belajar Desain Grafis. Yogyakarta: Buku Pintar

Moeslichatoen.2004. Metode Pengajaran. Bandung: PT. Rineka Cipta

Moleong, Lexy.2002. Metode penelitian Kualitatif. Bandung : Rosdakarya.

 Muhibinsyah. 2009. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Musbikin Imam.2010. Buku Pintar Paud. Jogjakarta : Diva Press.

Oemar, H. 1993. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan belajar. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya

Sadjiman, E.S. 2009. Elemen-elemen Seni dan Desain (edisi2). Jalasutra

Siregar, E.2010. Teori Belajar dan pembelajaran. Bandung : CV Alfabeta

To Top