Nusantara

Mentalitas Guru dan Inovasi dalam Pembelajaran

Uyung Amilul Ulum, S.Pd., S.Sos, M.Pd. Foto (istimewa)

Penulis ialah Uyung Amilul Ulum, S.Pd., S.Sos, M.Pd, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Mutiara Banten

A.   Latar Belakang

Di dunia ini terdapat sekitar 200 negara yang tersebar di lima benua dengan jumlah penduduk sekitar 7 miliaran. Dua ratus negara tersebut dapat dikelompokan ke dalam berbagai kategori: luas wilayah, ras/etnik, tingkat kemakmuran, dan lain-lain.

Bagi penulis, yang paling menarik adalah pengelompokan berdasarkan kategori modernitas yang menghasilkan kelompok negara modern/maju dan negara berkembang/terbelakang yang indikator utamanya adalah tingkat penguasaan sains dan teknologi dari negara-negara tersebut.

Pertanyaan besar yang sering muncul kepermukaan adalah mengapa ada sebuah bangsa yang demikian majunya dan ada yang terbelakang. Apa yang membedakan keduanya. Jawaban ini dapat dirunut pada aspek historis dari keberadaan dua kelompok negara tersebut.

Kalau kita telusuri semua negara maju memiliki kesamaan karakter pada aspek manusia dan sosio kulturnya. Max Weber dalam tulisannya yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism menjelaskan betapa besarnya pengaruh etika protestan terutama sekte Calvinisme sebagai latar sosio kultur yang membungkus mentalitas umatnya yang kemudian menentukan cara mereka bersikap dan berperilaku.

Ajaran Calvinisme mengajak hidup asketik alias mati raga. Hidup berorientasi ke masa depan, menabung sebagian besar pendapatannya merupakan sebuah kebajikan/ibadah. Inilah yang kemudian mendorong kapitalisme terjadi di Eropa, terutama Eropa Barat.

Demikian pula penelitian yang dilakukan Robert Nais Bellah tentang mentalitas orang Jepang melalui latar sosio-kulturnya yang ditulisnya dalam buku Relligion of Tokugawa. Mentalitas yang terbentuk dari agama Tokugawa sebagaimana dijelaskan oleh Bellah adalah adanya mentalitas semangat kerja, tanggung jawab diri yang tinggi, kerjasama, dan kejujuran, percaya diri yang tinggi dan sifat dasar alami tidak terima dikalahkan oleh bangsa lain telah mendorong bangsa Jepang menjadi pembelajar yang ulet dan berhasil memindahkan kemajuan dari Eropa ke negaranya dan mengalahkannya.

Di tambah lagi kalau kita baca buku Imperium III yang berisi mengenai penelusuran sejarah keemasan semua bangsa di seluruh muka bumi, mulai dari zaman Mesir Kuno, Babilonia, Aztek, Cina Dinasti Ming, India, Yunani Kuno, Persia, Romawi, Bani Abasiah, Banni Umayah, Renaisance yang menandai bangkitnya negara-negara barat.

Kemudian terus menular ke Asia, yaitu Jepang, Korea Selatan, sekarang Taiwan, Cina, dan India kembali bangkit, ternyata semua bangsa tersebut bercirikan satu yaitu rakyat dan pemerintahnya sangat gemar dan menjunjung tinggi ilmu atau paling tidak peduli pada penguasaan ilmu pengetahuan/sains dan teknologi. Semboyan mereka adalah Knowledge of Power. Semakin jelas bahwa akar dari terjadinya perbedaan adanya negara maju dan terbelakang yang paling dominan adalah terdapat pada aspek manusia dan sosio-kulturnya dan kegemaran mereka akan ilmu pengetahuan.

Dari uraian di atas paling tidak dapat disimpulkan tiga hal yang membuat suatu bangsa mengalami kemajuan atau zaman keemasan, yaitu pertama untuk kasus Eropa sikap irit, tidak konsumtif, kerja keras, orientasi ke masa depan, kedua untuk kasus Jepang semangat kerja, tanggung jawab diri yang tinggi, loyalitas, kerjasama, dan kejujuran, percaya diri yang tinggi dan sifat dasar alami tidak terima dikalahkan oleh bangsa lain dan ketiga dibalik semua itu setiap bangsa yang maju adalah penggemar berat ilmu pengetahuan (sains dan teknologi).

Persinggungan atau hubungan dialektis antara aspek manusia dan sosio-kultur serta kegemaran mereka akan ilmu pengetahuan selanjutnya menghasilkan mentalitas tertentu yang mendorong perilaku cerdas, kompeten, kreatif, dan inovatif yang pada akhirnya menghantarkan mereka ke dalam sebuah modernitas atau kemajuan.

Dalam kontek negara/bangsa Indonesia yang termasuk ke dalam kategori negara berkembang/terbelakang mentalitas sebagaimana diurakan di atas betul-betul sangat dibutuhkan. Dan pendidikanlah baik formal, nonformal, maupun informal yang diberi peran untuk melakukan sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai budaya yang mendorong ke arah kemajuan.

Nilai-nilai budaya modern yang sudah terinternalisasi inilah yang kemudian akan menjadi mind-set atau mentalitas bangsa kita yang diharapkan akan mampu mendorong bangsa ini berperilaku cerdas, kompeten, kreatif, dan inovatif. Di sekolah  (pendidikan formal) proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai budaya modernis diperankan oleh tenaga pendidik (guru/kepala sekolah).

Berkaitan dengan itu apakah guru itu sendiri sudah memiliki mind-set (mentalitas modernis) sehingga dia mampu memperlihatkan perilaku cerdas, kompeten, kreatif, dan inovatif sesuai dengan tuntutan dalam dunia profesinya. Konsekwensi logisnya adalah guru kreatif dan inovatif akan menghasilkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Selanjutnya jawaban atas pertanyaan tersebut akan diuraikan dalam tulisan yang sederhana ini.

B.   Mentalitas Guru dan Inovasi Pembelajaran

Mentalitas guru merupakan produk persinggungan antara dirinya dengan nilai-nilai budaya yang hidup melingkupinya. Nilai-nilai tersebut diolahnya melalui proses typefikasi, habitualisasi, dan internalisasi dalam sebuah interaksi sosial yang intens serta terus menerus dengan lingkungannya (man in sociaty).

Dengan kata lain mentalitas guru sesungguhnya merupakan produk dari hubungan dialektis dirinya dengan kondisi masyarakat. Dan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang masih bercirikan agraris, tradisional, dan masyarakat negara berkembang, ciri-ciri tersebut jelas sedikit banyak masih melekat pada mentalitas guru. Dan gambaran mentalitas macam apa yang dimiliki oleh umumnya masyarakat Indonesia, diuraikan oleh seorang pakar Antropolgi, Kuncaraningrat dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan.

Di buku tersebut, masyarakat Indonesia dikelompokkan oleh Kuncaraningrat ke dalam dua kelompok, yaitu petani dan pegawai.

Atas dasar dua kategori ini kemudian Kuncaraningrat menjelaskan tipe-tipe mentalitas masyarakat Indonesia sebagai berikut:

  1. Masyarakat bermentalitas petani yaitu sikap mental subsisten: Bekerja sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang tidak perlu bekerja apabila kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Hidup santai tidak perlu berambisi, merasa cukup kalau perut sudah
  2. Masyarakat bermentalitas pegawai, tujuan bekerja untuk memperoleh kebahagiaan dengan indikator memiliki kedudukan/pangkat tinggi, kekuasaan, lambang-lambang kekayaan seperti rumah megah, pakaian mahal, mobil mewah, dan seterusnya. Hidip berorientasi kepada diri dan keluarkan, belum muncul budaya mutu dan etos

Untuk mengetahui secara lebih akurat dengan data terkini memang perlu penelitian lapangan. Namun kalau merujuk pada Kuncaraningrat ketika dia berkunjung ke Jepang ada dua tipe mentalitas negatif orang Indonesia yang paling menonjol di mata orang Jepang, pertama orang Indonesia tidak mau bertanggung jawab penuh terhadap satu tugas yang telah disanggupinya, kedua orang Indonesia cenderung kurang setia kepada instansi yang diikutinya. Ini adalah fakta yang terpampang di depan mata, sikap mental seperi inilah yang masih dimiliki oleh kebanyakan kita, boleh jadi di antaranya kita para guru.

Lantas mentalitas macam apa yang harus guru miliki dan bagaimana mengganti atau merubah mentalitas yang ada yang bersifat kontraproduktif terhadap munculnya prilaku cerdas, kompeten, kreatif, dan inovatif.

Baca Juga:  Suguhan Wisata Alam yang Menawan di DM Tirta Hotel dan Resort Pandeglang

Banyak buku-buku yang ditulis oleh para pakar terutama bidang manajemen sumber daya manusia yang merekomendasikan mentalitas unggul yang harus dimiliki oleh para professional, diantaranya guru, dengan cara mempelajarai, memahami dan menerapkannya dalam prilaku nyata di dunia kerja atau bahkan kehidupan sehari-hari, misalnya Stepen R. Covey dalam bukunya The Eight Habit , menganjurka agar para professional memilki mentalitas sebagai berikut :

  1. Memiliki pribadi utuh : tubuh, pikiran, hati, jiwa yang sehat dan seimbang
  2. Terpenuhi empat kebutuhan : untuk hidup, untuk belajar, untuk mencintai, dan untuk meninggalkan warisan
  3. Memiliki empat kecerdasan : IQ, EQ, Social Quotient, dan Spiritual Quotient
  4. Memiliki empat perangkat : disiplin, visi, gairah, dan nurani

Selanjutnya agar guru memilki kompetensi yang unggul, memilki tingkat daya saing yang tinggi, dalam bukunya Sudadio, “Dimensi Esensial Manajemen Pendidikan : Era Pemberdayaan Sekolah” menganjurkan agar guru :

  1. Berkompetensi tinggi pada domain pedagogik, keperibadian, sosial, dan professional
  2. Proaktif bukan reaktif
  3. Otonom dalam melakukan reality judgment dan value judgment ketika menghadapi permasalahan, dengan berbasis pada profesi dan keilmuan yang dikuasainya
  4. Disiplin (berperilaku metodis/taat azas konsisten dan konsekuen)
  5. Aktif mencari ilmu
  6. Berempati tinggi terhadap peserta didik
  7. Memberikan layanan prima kepada siswa bahkan dilakuakan diluar jam kerja
  8. Disegani siswa dan mitra kerja

Dan Alex Inkeles memperlihatkan 9 ciri bagi orang-orang yang bermentalitas modernis yang berprilaku cerdas, kompeten, kreatif, dan inovatif. yang dapat menghantarkan pada sebuah perubahan dan perbaikan, orang-orang yang dimaksud adalah :

  1. mempunyai pola pikir terbuka pada inovasi dan perubahan, dan siap untuk menerima perubahan baru;
  2. mempunyai pandangan yang luas terhadap sejumlah masalah dan isu yang terjadi, tidak hanya di lingkungan sempit tapi juga di lingkungan luas;
  3. lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan, menghargai tepat waktu, disiplin kerja, dan hidup teratur;
  4. menjalankan hidup secara berencana dan terorganisasi;
  5. percaya bahwa manusia dapat belajar mengendalikan lingkungan;
  6. kehidupan alam dunia dapat diatur dan diperhitungkan
  7. menyadari harga diri dan kemuliaan orang lain;
  8. percaya akan keampuhan sains dan teknologi;
  9. penghargaan dan kemuliaan diberikan sesuai dengan yang telah

Semua ciri dari mentalitas yang mendukung terjadinya perubahan kearah perbaikan (modernisasi) sebagaimana diuraikan di atas sesungguhnya dapat dipelajari, dipahami, bahkan diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dan terkait perubahan mentalitas guru, akan berlangsung efektif apabila faktor internal (guru) dan eksternal (lingkungan/manjemen/pemerinta) bekerjasama secara sinergis. Misalnya ketika pemerintah sudah melaksanakan program sertifikasi sebagai salah satu wujud reformasi dalam bidang pendidikan, khususnya aspek tenaga pendidik (guru dan dosen) yang tujuan utamanya meningkatkan profesinalime sekaligus kesejahteraan guru, maka aturan teknis di lapangan pascasertifikasi harus segera dibuat, misalnya tentang standar prilaku atau kenerja yang oprasional dan terukur bagi para guru pemegang sertifikat.

Selanjutnya disiapkan pula sanksi atau hukuman yang harus diberikan apabila para pemegang sertifikat tersebut tidak memenuhi kriteria standar yang sudah ditetapkan. Sementara ini ada kecenderungan di kalangan para guru, sertifikasi dan tunjangan profesi itu adalah hak. Padahal menurut para penggagas sertifikasi, sertifikasi itu proses legalisasi diakuinya seorang guru sebagai tenaga professional dan kompeten, sedangkan tunjangan profesi hanyalah konsekwensi logis dari pengakuan tersebut.

Seyogyanya apabila di kemudian hari ditemukan adanya hal-hal yang menggugurkan aspek professional dan kompeten pada seorang guru, maka tunjangan profesinya pun harus dihentikan. Namun di sisi lain juga pemerintah harus utuh melaksanakan program sertifikasi guru ini sampai pada tahap pembayaran tunjangan profesi secara permanen, dan dibayarkannya rutin tiap bulan sebagaimana tercantum dalam SK Tunjangan Profesi Guru.

Dengan begitu diharapkan akan muncul adaptasi prilaku dari guru terhadap standar kinerja berikut sanksi-sanksi yang menyertainya apabila terjadi kelalaian dalam pemenuhan standar kenerja tersebut. Secara sosiologis tahap seperti ini disebut tahap konformitas, di mana prilaku yang diharapkan dengan prilaku yang terjadi berada pada situasi kompromi.

Selanjutnya perubahan mentalitas dapat pula dilakukan secara internal, yaitu oleh para guru itu sendiri dengan cara mengembangkan sikap proaktif terhadap tuntutan  perubahan perkembangan zaman. memulainya dengan menciptakan definisi situasi (William Issac Thomas : dalam George Ritzer, 2004: hal. 294) untuk dirinya sebagai makhluk pembelajar yang bersifat permanen, seorang pembelajar generalis berpikiran terbuka  terhadap kebenaran dari manapun datangnya (Sudadio, 2008: hal. 266) selalu memperlebar zona aman /mencari pengalaman baru yang menantang, mengembangkan diri dengan terus belajar sepanjang hayat (Bobbi de Potter, 2005: 39); menganggap setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru dan setiap peristiwa adalah pembelajaran(Gede Prama dalam wawancara radio Delta FM, 2008) dan cara belajar terbaik adalah dengan cara mengajarkannya (Stepen R. Covey, 2009).

Dengan sikap mental/mentalitas guru yang sudah tercerahkan yaitu sikap mental modernis yang menjunjung budaya mutu dan etos kerja barulah pembaharuan pendidikan akan berlangsung secara utuh dan bermakna. Maka selanjutnya akan bermunculanlah prilaku guru yang cerdas, kompeten, kreatif, dan inovatif yang berdampak positif bagi dunia pendidikan terutama dalam proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Pembaharuan, penemuan, modifikasi, inovasi, perbaikan, atau apapun istilahnya dalam proses belajar- mengajar akan terjadi dan berlangsung simultan seiring mentalitas modernis dimiliki oleh para guru.

C.   Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemajuan sebuah bangsa dipengaruhi oleh aspek manusia, sosiokultur, dan kegemaran bangsa tersebut kepada sains dan teknologi. Hubungan dialektis antara manusia dengan sosiokultur menghasilkan mentalitas.

Mentalitas inilah yang menentukan dan pada akhirnya membedakan adanya negara maju dan negara berkembang/terbelakang. Mentalitas negara maju bercirikan kerja keras, menghargai prestasi dan budaya mutu dan peduli terhadap penguasaan sains dan teknologi. Sedangkan negara berkembang kebalikannya.

Untuk membangun sebuah negara dari keterbelakangannya sangat penting membenahi dulu mentalitas manusianya. Dan lembaga yang diberi peran untuk membenahi mentalitas tersebut adalah pendidikan termasuk di dalamnya sekolah.

Pembenahan mentalitas guru dapat dilakukan oleh dirinya sendiri dengan cara mengembangkan sikap proaktif serta menyituasikan diri dengan tuntutan perkembangan zaman dengan terus-menurus mengembangkan diri belajar sepanjang hayat. Dari sisi pemerintah atau lembaga harus segera membuat standar kinerja berikut segala perangkat aturan pelaksanaannya serta ganjaran yang mengangkat harkat-martabat guru berikut sanksi atau hukuman apabila terjadi penyimpangan

Apabila mentalitas modernis sudah terbentuk dalam diri para guru, dunia pendidikan akan mengalami perubahan signifikan. Prilaku cerdas dari para guru, kompeten, kreatif, dan inovatif pun akan bermunculan dan ini akan berakibat pada proses belajar-mengajar di kelas. Kata kuncinya adalah mentalitas, modernitas, kreatif, inovatif, baru muncul kualitas atau kemajuan. (*)

To Top