Nusantara

Asdarina, M.Pd: Sastra Lama di Kalangan Muda Indonesia

Asdarina, M.Pd, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Mutiara Banten. Foto (istimewa)

Banten, VoIR Indonesia – Perkembangan peradaban suatu bangsa tidak terlepas dari perkembangan sastra yang dilahirkannya. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada hilangnya jati diri bangsa.

Sastra lama banyak jenisnya. Salah satunya adalah sastra lisan. Jenis sastra ini dalam masyarakat nusantara bisa menjadi identitas karena di dalamnya terkandung berbagai kearifan lokal. Melalui cerita rakyat, dapat digali berbagai kemajemukan identitas nasional Indonesia. Pada era saat ini, kearifan lokal bisa menjadi salah satu cara dalam mewujudkan aspek positif arus globalisasi.

Di kalangan generasi muda dewasa ini kurang begitu meminati cerita rakyat karena dianggap tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman. Sehingga cerita rakyat banyak dilupakan, bahkan banyak yang sudah hilang di masyarakat.

“Alur maupun tokoh cerita rakyat dianggap sudah ketinggalan zaman karena banyak berhubungan dengan hutan, mitos, hewan dan dunia khayalan”

Pada dasarnya, cerita rakyat boleh dituturkan oleh siapa saja. Bisa ibu bercerita kepada anaknya, nenek bercerita kepada cucunya, pengasuh bercerita kepada anak asuhnya atau guru bercerita kepada muridnya. Namun, hampir tidak ada lagi generasi muda yang mau mendengarkan cerita rakyat.

Baca Juga:  Wilayah Jabodetabek Resmi Migrasi ke TV Digital

Penyebab kaum muda tidak lagi tertarik dengan cerita rakyat yaitu alur maupun tokoh cerita rakyat dianggap sudah ketinggalan zaman karena banyak berhubungan dengan hutan, mitos, hewan dan dunia khayalan. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan citra dari cerita rakyat itu sendiri.

Kaum muda tidak begitu senang dengan cerita kehidupan di hutan. Kaum muda lebih senang dan tertarik dengan cerita kehidupan di zaman modern, sehingga mereka lebih tertarik dengan film-film di televisi atau layar lebar yang menyajikan hiruk pikuk kehidupan metropolitan. (*) 

Penulis: Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Mutiara Banten

To Top