Nusantara

UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI DENGAN MENGGUNAKAN KOLASE KERTAS PADA KELOMPOK B TK AL-MUHAJIRIN 03

Oleh: Sumyati, NIM 010160022

ABSTRAK : Kreativitas anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03  belum berkembang dengan optimal. Dari 16 anak di kelas ada 10 anak yang kreativitasnya belum berkembang sangat baik.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak melalui kegiatan kolase. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas kolaboratif menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B yang berjumlah 16 anak yang terdiri dari 6 anak perempuan dan 10 anak laki-laki. Obyek yang diteliti adalah kreativitas anak. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakandeskriptif kuantitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas anak mengalami peningkatan setelah diberikan tindakan melalui kegiatan kolase menggunakan bahan kertas, yang memberikan kebebasan anak untuk bereksplorasi warna yang cocok, bebas menggunting, menyobek, memotong dan menggulung bahan sesuai dengan keinginannya serta menggunakan alat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan anak.Peningkatan tersebut dapat dilihat dari kondisi awal kreativitas anak kelompok B sebesar 6,25%, kemudian pada siklus I meningkat menjadi 31,25% dengan menggunakan bahan kertas, dan meningkat  pada silkus II menjadi 81,25% masih menggunakan bahan kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan kolase dapat meningkatkan kreativitas anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03 tahun ajaran 2018/2019.

Kata kunci: kreativitas, kegiatan kolase, anak kelompok B

ABTRACT : The creativity of the children of group B TK Al-Muhajirin 03 has not developed optimally. Of the 16 children in the class, there are 10 children whose creativity has not developed very well. This research aims to increase children’s creativity through collage activities. This research is a collaborative classroom action research using the Kemmis and Mc Taggart models. The subjects of this study were group B children with a total of 16 children consisting of 6 girls and 10 boys. The object under study is children’s creativity. Data collection is done through observation and interviews. Data analysis techniques using quantitative descriptive. The results showed that children’s creativity has increased after being given action through collage activities using paper material, which gives the child freedom to explore colors that are suitable, free to cut, tear, cut and roll the material according to their wishes and use the tools provided according to the needs of the child.

The increase can be seen from the initial conditions of the creativity of group B children by 6.25%, then in the first cycle increased to 31.25% using paper material, and increased in silkus II to 81.25% still using paper material. The results showed that the collage activity could increase the creativity of the children of the B group Al-Muhajirin Kindergarten 03 in the 2018/2019 school year.

Keywords: creativity, collage activities, group B children.

PENDAHULUAN

Anak adalah pribadi yang unik, dimana masing-masing anak memiliki bawaan minat, kapabilitas, dan latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lainnya. Anak usia dini menurut Yuliani Nurani Sujiono (2009 : 6) adalah sosok individu yang sedang menjalani sebuah proses pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi perkembangan kehidupan anak lebih lanjut. Anak usia dini sebagai makhluk sosial dan kaya dengan potensi memiliki dunia serta karakteristik sendiri yang jauh berbeda dari orang dewasa. Ia sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa saja yang dilihat dan didengarnya, serta seolah-olah tak pernah berhenti belajar.

Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang ada di jalur pendidikan formal. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan, perkembangan, jasmani dan rohani anak di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar (Maulidya Ulfah, 2017: 2). Tujuan program kegiatan belajar Taman Kanak-kanak adalah untuk membantu meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Pertumbuhan dan perkembangan yang dicapai merupakan aktualisasi potensi semua aspek perkembangan anak secara optimal pada setiap tahap perkembangannya.

Tingkat pencapaian perkembangan menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan dapat dicapai anak pada rentang waktu tertentu. Tingkat pencapaian perkembangan anak meliputi aspek pemahaman nilai-nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, serta sosial-emosional. Semua aspek perkembangan tersebut sangat penting untuk dikembangkan dan diharapkan dapat berkembang secara seimbang antara aspek yang satu dengan aspek yang lainnya. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan potensi anak, salah satunya kreativitas yang ikut menentukan keberhasilan anak dikemudian hari.

Hurlock (2017 : 3) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan proses mental yang unik, suatu proses yang semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru berbeda dan orisinil. Kreativitas akan muncul pada individu yang memiliki motivasi tinggi, rasa ingin tahu, dan imajinasi. Individu yang kreatif akan selalu mencari dan menemukan jawaban dalam memecahkan masalah, selalu bersikap terbuka terhadap sesuatu yang baru dan tidak diketahui sebelumnya serta memiliki sikap yang lentur (flexible), suka mengekpsresikan diri dan bersikap natural (asli).

Utami Munandar (2014 : 43) mengemukakan bahwa kreativitas sangat penting untuk dikembangkan pada anak usia dini, dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah meningkatkan kualitas hidupnya. Oleh karena itu, kreativitas sangatlah penting dikembangkan pada anak sejak dini untuk persiapan kehidupan di masa dewasanya, karena banyak permasalahan serta tantangan hidup yang menuntut kemampuan adaptasi secara kreatif dan kepiawaian dalam mencari pemecahan masalah yang imajinatif. Anak memiliki potensi kreativitas alami, maka akan senantiasa menumbuhkan aktivitas yang  sarat dengan ide-ide kreatif. Secara natural anak memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu menurut carannya sendiri. Untuk mempertahankan daya kreatif dan keterampilan pada anak, guru harus memperhatikan sifat natural anak-anak yang sangat menunjang tumbuhnya kreativitas. Sifat-sifat natural yang mendasar inilah yang harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan oleh guru sehingga sifat kreatif mereka tidak hilang. Dalam pengembangan kreativitas sejak usia dini peran pendidik yaitu orang tua dan guru sangatlah penting. Di sekolah guru bertugas merangsang dan membina perkembangangan kreativitas pada anak. Guru berperan penting dalam pengembangan kreativitas anak, guru harus dapat memlilih dan memanfaatkan setiap kesempatan belajar untuk mengembangkan kreativitas anak. Guru dapat mengajak anak untuk mengembangkan kreativitasnya dalam kesempatan apa saja baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Observasi yang dilakukan oleh peneliti di TK Al-Muhajirin 03 Desa Citalahab pada saat pembelajaran menunjukan bahwa, kreativitas anak kelompok B masih belum berkembang optimal. Hal ini dapat terlihat ketika mengerjakan tugas yang berhubungan dengan keterampilan khususnya membuat bentuk secara bebas dari plastisin, dari 16 anak yang ada di kelas terdapat 10 anak yang belum berani mencoba dan menambah bentuk lain dari contoh yang sudah ada, anak lebih dulu mengatakan “tidak bisa” saat diminta membuat bentuk, misalnya buah yang tidak dicontohkan guru. Kegiatan lain yang menunjukkan bahwa kreativitas anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03 masih belum berkembang dengan optimal yaitu pada saat kegiatan menggambar bebas menggunakan pasta warna dengan tema tanaman dan sub tema buah-buahan, masih banyak anak yang menggambar sama persis seperti teman sebangkunya, mereka belum bisa berkreasi sendiri untuk menggambar bebas sesuai dengan imajinasinya. Dari 16 anak di kelas, hanya 5 (lima) anak yang menggambar dan pemilihan warnanya berbeda dari teman–temannya. Mereka menggambar dan mengkombinasikan warna untuk menghasilkan warna baru yang lebih bervariasi. Terbukti dari hasil karya 5 (lima) anak tersebut ada yang bisa menggambar jeruk, semangka, anggur, mangga dan melon serta mewarnainya dengan perpaduan warna yang menarik.

Sementara anak yang lain kurang berkreasi dengan warna dan gambarnya. Pada saat guru bertanya gambar apa yang telah dibuat, anak belum bisa mengkomunikasikan hasil karyanya. Dari 16 anak di kelas ada 7 anak yang ikut-ikutan jawaban teman dan juga gambarnya hampir sama. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas anak di TK Al-Muhajirin 03 belum berkembang secara optimal.

Berdasarkan permasalahan dan uraian di atas sangat perlu adanya perbaikan dalam meningkatkan kreativitas anak. Oleh karena itu peneliti mengambil judul Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Usia dini Dengan Menggunakan Kolase Kertas Pada Kelompok B TK Al-Muhajirin 03.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perlu adanya suatu rumusan masalah yang akan memberikan arah penelitian. Adapun rumusan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Apakah kolase kertas dapat meningkatkan kreativitas anak kelompok B Pada TK Al-Muhajirin 03 ? dan Bagaimana kolase kertas dapat meningkatkan komunikasi anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03 ?

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini melalui kegiatan kolase dengan media kertas pada anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03, Sebagai referensi perbendaharaan penelitian di bidang pendidikan anak usia dini, khususnya penggunaan kegiatan kolase untuk meningkatkan kreativitas anak serta Membantu guru mengembangkan, menstimulasi  dan meningkatkan kreativitas anak melalui kegiatan kolase.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Kreativitas

Kreativitas berasal dari kata kreatif yaitu memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan, bersifat (mengandung) daya cipta, sedangkan kreativitas merupakan kemampuan untuk mencipta (Depdiknas, 2002: 599). Hurlock (2017: 3) menyatakan bahwa kreativitas adalah proses mental yang unik, suatu proses yang semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru berbeda dan orisinil. Novi Mulyani (2017: 96) menambahkan  bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada.

Sejalan dengan pendapat di atas Suratno (2005: 24) mengemukakan bahwa kreativitas adalah suatu aktivitas imajinatif yang memanifestasikan kecerdikan dari pikiran yang berbeda untuk menghasilkan suatu produk atau menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri. Seseorang yang kreatif ingin memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai aktivitas, seperti bereksplorasi, bereksperimen, dan banyak mengajukan pertanyaan kepada orang lain. Semua hal tersebut dilakukan sebagai upaya menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang pernah ada untuk memecahakan suatu masalah serta dilakukan dengan caranya sendiri agar seseorang merasa puas akan hasil yang telah dia ciptakan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa kreativitas adalah suatu proses untuk menghasilkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan atau berupa suatu obyek tertentu serta mampu menerapkannya dalam pemecahan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dengan caranya sendiri. Dalam menghasilkan gagasan maupun suatu produk yang baru dan orisinil tersebut, pendidik perlu memperhatikan aspek-aspek kreativitas yang menjadi indikator yang digunakan sebagai acuan dalam mengukur kreativitas anak, sehingga kreativitas dapat berkembang secara optimal. Kreativitas dalam penelitian ini adalah suatu proses untuk menghasilkan sesuatu yang baru, baik berupa gagsan atau berupa karya nyata yang tidak terpikirkan oleh orang lain dalam pemecahan masalah untuk menghasilkan karya yang orisinil dan relatif berbeda.

Rhodes (dalam Martini Jamaris, 2006: 67) merumuskan kreativitas dalam Four P’s of Creativity yaitu person, process, press, dan product.

  1. Kreativitas dari aspek pribadi/ person , Muncul dari keunikan pribadi individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Setiap anak mempunyai bakat kreatif, namun masing-masing dalam bidang dan kadar yang berbeda-beda. Martini Jamaris mengemukakan kreativitas dilihat dari aspek pribadi meliputi:
  2. Fluency/ kelancaran, yaitu kemampuan untuk membangkitkan sejumlah ideide, mengungkapkan, dan mengembangkan ide-ide kreatifnya secara lancar.
  3. Flexibility/ kelenturan, yaitu kemampuan melihat masalah dari beberapa sudut pandang yang merupakan basis keaslian, kemurnian, dan penemuan. Anak mampu memecahkan masalahnya dengan melihat berbagai sudut pandang yang berbeda sebagai alternatif untuk menemukan jalan keluarnya.
  4. Originality/keaslian, yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli dari hasil pemikiran sendiri. Hasil karya yang dihasilkan anak lebih unik dan berbeda dengan yang lainnya.
  5. Elaboration/ keterperincian, yaitu kemampuan untuk memperluas atau memperkaya ide yang ada dalam pikiran anak dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan dan terlihat orang lain.
  6. Kreativitas sebagai proses/ process

Anak usia prasekolah hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan serta jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat karena hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi.

  • Kreativitas dari aspek pendorong/ press

Kreativitas yang dimiliki anak memerlukan dorongan atau motivasi agar dapat berkembang dengan optimal. Dorongan tersebut terdiri dari:

  1. Dorongan dari dalam individu, yaitu berupa minat, hasrat, dan motivasi diri.
  2. Dorongan dari luar individu, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Sehubungan dengan hal ini pendidik diharapkan dapat memberi dukungan, perhatian, serta sarana prasarana yang diperlukan, sehingga bakat kreatif anak dapat diwujudkan dan dapat berkembang secara optimal.

  • Kreativitas sebagai produk/ product

Produk merupakan suatu ciptaan yang baru dan bermakna bagi individu dan lingkungannya. Hasil karya anak dapat disebut kreatif jika baginya hal itu baru, anak belum pernah membuat itu sebelumnya, dan anak tidak meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain. Hal yang paling penting produk kreativitas anak perlu dihargai agar ia merasa puas dan tetap bersemangat dalam berkreasi.

Pendapat di atas dapat dianalisis bahwa 4P (pribadi, proses, produk, pendorong) yang meliputi aspek pribadi, proses, produk, dan pendorong saling berkaitan yaitu pribadi yang kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif dan dengan dukungan serta dorongan dari lingkungan akan menghasilkan produk yang kreatif. Setelah mengetahui aspek-aspek kreativitas di atas, untuk mengetahui bahwa anak tersebut kreatif, kita perlu mengetahui ciri-ciri kreativitas. Dengan demikian pendidik tidak salah dalam memberikan label kreatif pada anak

Menurut Novi Mulyani (2017: 101) ciri kreativitas dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu katagori kognitif dan katagori non kognitif. Ciri kategori kognitif antara lain orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran, dan elaborasi. Sedangkan ciri kategori non kognitif diantaranya motivasi sikap dan kepribadian kreatif. Kategori kognitif dan katagori non kognitif ini keduanya sangat berkaitan dan sama pentingnya, kecerdasan yang tidak ditunjang dengan kepribadian kreatif tidak akan menghasilkan suatu hasil apapun. Kreativitas hanya dapat dilahirkan dari orang cerdas yang memiliki kondisi psikologis yang sehat. Kreativitas tidak hanya perbuatan otak saja namun variabel emosi dan kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap lahirnya sebuah karya kreatif. Kecerdasan tanpa mental yang sehat sulit sekali dapat menghasilkan karya kreatif.

Sumanto (2005: 39) menambahkan bahwa anak kreatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, (1) mempunyai kemampuan berfikir kritis, (2) ingin tahu, tertarik pada kegiatan yang dirasakan yang dirasakan sebagai tantangan, (3) berani mengambil resiko, (4) tidak mudah putus asa, (5) menghargai keindahan, (6) mau berbuat atau berkarya, serta (7) menghargai diri sendiri dan orang lain.

Berdasarkan pendapat yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang  kreatif yaitu seseorang memiliki karakteristik yaitu mempunyai kemampuan berpikir kritis, mempunyai rasa ingin tahu yang besar, tertarik pada kegiatan kegiatan kreatif, berani mengabil resiko, tidak mudah putus asa, lentur (fleksibel), suka mengekspresikan diri dan bersikap natural (asli).

Kreativitas anak sangat penting dikembangkan sejak usia dini khususnya sejak anak memasuki pendidikan prasekolah di TK. Kreativitas yang dikembangkan di TK lebih ditekankan pada kreativitas anak dalam berkarya.

Utami Munandar (2005:100) mengemukakan bahwa anak yang kreatif mampu memperdayakan pikirannya untuk menghasilkan suatu produk secara kreatif. Dalam pengembangan kreativitas anak TK, peran pendidik yaitu orang tua dan guru sangatlah penting. Di sekolah guru bertugas merangsang dan membina perkembangan kreativitas pada anak.

Guru berperan penting dalam pengembangan kreativitas anak. Guru harus dapat memlilih dan memanfaatkan setiap kesempatan belajar untuk mengembangkan kreativitas anak. Dalam kesempatan apa saja baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan guru dapat mengajak anak untuk mengembangkan kreativitasnya.

Pengembangan kreativitas anak di TK dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran. Untuk mensukseskan program pengembangan kreativitas di TK, Novi Mulyani (2017:46-50) mengemukakan bahwa ada lima kriteria pembelajaran yang dapat membantu pengembangan kreativitas anak, yaitu :

  1. Kegiatan Belajar Bersifat Menyenangkan (Learning is Fun)
  2. Pembelajaran dalam Bentuk Kegiatan Bermain
  3. Mengaktifkan siswa 
  4. Memadukan berbagai aspek pembelajaran dan perkembangan
  5. Pembelajaran dalam bentuk kegiatan konkret

Menurut Sumanto (2005: 43) pengembangan daya cipta bertujuan membuat anak-anak kreatif, yaitu lancar, fleksibel dan orisinil dalam bertutur kata, berpikir, serta berolah tangan, berolah seni dan berolah tubuh sebagai latihan motorik halus dan motorik kasar.

Dari pendapat Sumanto dapat diketahui bahwa daya cipta merupakan kemampuan anak dalam memvisualisasikan segenap potensi berpikir, pengalaman dan keterampilan melalui media rupa yang digunakan sehingga menghasilkan hasil karya anak yang orisinil. Sejalan dengan Sumanto, Utami munandar (2009: 31) mengemukakan bahwa ada 4 (empat) alasan utama perlunya pengembangan kreativitas sejak usia dini yaitu:

  1. Kreativitas untuk merealisasikan perwujudan diri, Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah perwujudan diri. Untuk mewujudkan dirinya manusia perlu berkreasi, karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya sehingga karyanya diakui oleh orang lain.
  2. Kreativitas untuk memecahkan suatu permasalahan, Kreativitas atau berfikir kreatif merupakan kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan penyelesaian terhadap suatu permasalahan. Oleh karena itu kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan perlu dikembangkan sejak dini melalui kegiatan yang menstimulus kreativitas anak di TK. Pemberian stimulus melalui kegiatan-kegiatan kreatif yang diadakan di TK melatih anak untuk kreatif dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi anak di masa dewasa.
  3. Kreativitas untuk memuaskan diri, Keberhasilan anak dalam melakukan percobaan, penelusuran dan berbagai upaya lainya akan memberikan kepuasan tersendiri bagi anak. Keberhasilan dari percobaan-percobaan dan hasil karya yang dihasilkan dalam kegiatan berkarya di TK merupakan kepuasan tersendiri bagi anak.
  4. Kreativitas untuk meningkatkan kualitas hidup, Melalui kreativitas dimungkinkan seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Hal itu sebagai akibat logis dari aktivitas yang dilakukanya. Orang kreatif akan mempunyai banyak ide yang dapat dikembangkan sehingga memiliki kemungkinan untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan orang yang tidak kreatif. Untuk mencapai hal itu perlu sikap, pemikiran, dan perilaku kreatif yang dipupuk sejak dini. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan kreativitas anak usia dini itu sangat penting, karena dengan kreativitas anak mampu mewujudkan diri, memecahkan masalah, memuaskan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya yang akan berguna bagi kehidupan anak selanjutnya.

Dalam penelitian ini anak kreatif adalah anak yang mampu membuat hasil karya dengan takun, gagasan yang orisinil, fleksibel dalam berpikir dan merespon, berani menambil resiko, serta tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah dalam menciptakan ide ataupun karya baru yang orisinil. Dari ciri-ciri di atas, seorang pendidik harus mengembangkan kreativitas anak dengan optimal sehingga mencapai tujuan pengembangan kreativitas yang diharapkan. Dalam mengembangkan kreativitas tersebut pendidik juga harus faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas.

Baca Juga:  Dikagumi Ahok, Airin Rachmi Diany Torehkan Segudang Prestasi

KOLASE

Kolase berasal dari Bahasa Perancis (collage) yang berarti merekat. Kolase adalah aplikasi yang dibuat dengan menggabungkan teknik melukis (lukisan tangan) dengan menempelkan bahan-bahan tertentu (Sumanto, 2005:93).

Menurut Hajar Pamadi (2010: 5.4) kolase merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan bahan yang bermacam-macam selama bahan dasar tersebut dapat dipadukan dengan bahan dasar lain yang akhirnya dapat menyatu menjadi karya yang utuh dan dapat mewakili ungkapan perasaan estetis orang  yang membuatnya. Siswa TK latihan membuat kolase bisa menggunakan bahan sobekan kertas, sobekan majalah, koran, ketas lipat dan bahan bahan yang ada dilingkungan sekitar. Ini adalah alasan untuk para guru untuk tidak membuang barang bekas disekitar mereka. Barang-barang bekas dapat digunakan untuk media anak didik untuk mengembangkan kreativitasnya.

Berkarya kreatif sebagai upaya pengembangan kemampuan dasar bagi anak TK berkarya melalui melalui kegiatan kolase dengan mengenali sifat bahan/alat tersebut dapat melatih keterampilan kreatif anak dalam berekspresi membuat bentuk karya kolase secara bebas. Kegiatan kolase dalam penelitian ini adalah kegiatan berolah seni rupa yang menggabungkan teknik melukis (lukisan tangan) dengan keterampilan menyusun dan merekatkan bahan-bahan pada kertas gambar/bidang dasaran yang digunakan, sampai dihasilkan tatanan yang unik, menarik dan berbeda menggunakan bahan kertas, bahan alam dan bahan buatan.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan kolase di TK tentu akan berbeda dengan bahan pembuatan kolase pada umumnya. Tetapi dalam prinsip pembuatannya dan prinsip kerjanya, baik untuk kolase pada TK maupun pada umumnya adalah sama.

Menurut Sumanto (2005: 94) bahan pembuatan kolase di TK dengan menggunakan bahan sobekan/potongan kertas koran, kertas majalah, kalender kertas lipat kertas berwarna atau bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi (2010: 5.39) menambahkan bahan pembuatan kolase yaitu kertas, kain, gabus, lem, daun kering, sedotan, gelas bekas aqua, potongan kayu dadu, benang, biji-bijian, sendok plastik, karet, benang, manik-manik, atau masih banyak media lain. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bahan-bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan kolase untuk anak TK adalah berupa bahan alam, bahan buatan dan bahan kertas.

Berdasarkan uraian dari kedua pendapat di atas untuk memfokuskan bahan yang aman dan menarik serta mudah didapatkan dalam pembuatan kolase untuk anak di TK menggunakan alat bidang dasaran berupa kertas hvs, kertas gambar, lem kayu, lem kertas, gunting dan pensil, serta menggunakan bahan alam dan kertas seperti kertas lipat, kertas bungkus kado, koran bekas, majalah bekas, kertas krep, daun mangga, daun pakis, daun cemara, daun nangka, kulit bawang merah, kulit bawang putih, biji kedelai hitam, biji kedelai kuning, biji jagung dan biji kacang hijau. Langkah-langkah dalam pengerjaan kolase adalah sebagai berikut:

  1. Merencanakan gambar yang akan dibuat.
  2. Menyediakan alat-alat/bahan.
  3. Menjelaskan serta mengenalkan nama alat-alat atau bahan yang digunakan dalam kegiatan kolase dan bagaimana cara penggunaannya.
  4. Membimbing anak dan memberikan contoh bagaimana cara menaburkan ataupun menjimpit material bahan kolase, memberi perekat dengan lem, menjelaskan posisi untuk menempelkan bahan kolase yang benar dengan hati-hati sehingga hasil tempelannya rapi tidak keluar garis dan mendemonstrasikannya. Apabila anak-anak belum memahami dengan baik, maka perlu diulangi lagi penjelasannya sampai benar-benar anak dapat memahami dengan jelas. Biasanya kalau sudah paham, anak akan dengan mudah mengejakan kolase sendiri. Dengan memperhatikan peragaan dari guru, diharapkan anak-anak mampu membuat gambar dengan teknik yang telah diperagakan dengan benar.
  5. Guru memberikan motivasi dan semangat kepada anak berupa pujian seperti: tepuk tangan, acungan jempol, kata-kata bijak (pintar, hebat,cerdas) dan lain-lain.
  6. Guru memberikan bimbingan kepada anak yang belum berhasil dalam melakukan kegiatan kolase.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang telah diuraikan sebelumnya, hipotesis dalam penelitian ini adalah kreativitas anak kelompok B di TK Al-Muhajirin 03 dapat ditingkatkan melalui kegiatan kolase kertas.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di TK Al-Muhajirin 03 Desa Citalahab Kecamatan Banjar Kabupaten Pandeglang pada bulan April 2019 semester genap tahun pelajaran 2018/2019 dengan menggunakan II siklus yang menjadi subjek penelitian adalah anak-anak kelompok B di TK Al-Muhajirin 03 Desa Citalahab yang berjumlah 16 anak yang terdiri dari 5 laki-laki dan 11 anak  perempuan yang berada pada rentang usia 6-7 tahun.

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan uji validitas triangulasi sumber yaitu dengan mengecek kembali hasil kreativitas anak, pengamatan dari proses pembelajaran, tes unjuk kerja siswa, silabus, RPP, hasil wawancara tentang kreativitas adapun analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari setiap pelaksanaan siklus dianalisis menggunakan teknik persentase.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan selanjutnya dapat dihitung dengan persentase. Adapun rumus yang digunakan menurut Ngalim Purwanto (2006: 102), presentase dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut.

Keterangan :

P : Angka Persentase

F : Skor yang di peroleh siswa

n : Skor maksimum

dengan kriteria sebagai berikut :

NoKriteriaNilai
1 BSB76% – 100%
2 BSH51% – 75%
3 MB26% – 50%
4 BB0% – 25%

Indikator kinerja dalam penelitian ini ditandai dengan adanya perubahan ke arah perbaikan, baik yang terkait dengan suasana kegiatan pembelajaran maupun hasil karya anak. Penelitian ini dikatakan berhasil 80% anak berada pada tingkat perkembangan berkembang sangat baik, Anak mampu menguasai 5 aspek kreativitas yaitu kelancaran, kelenturan, keaslian, kerapihan dan elaborasi.

Secara rinci prosedur penelitian ini yaitu Tahap 1: Perencanaan

Persiapan yang akan dilakukan dalam tahap perencanaan penelitian ini adalah :

  1. Membuat dan menyusun Rencana Kegiatan Harian sesuai dengan tema pada hari itu di TK Al-Muhajirin 03.
  2. Mempersiapkan kelas yang akan digunakan untuk pembelajaran yaitu kelompok B.
  3. Menyiapkan alat dan bahan untuk membuat kolase dan alat lainnya yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
  4. Menyiapkan instrumen penilaian berupa lembar observasidan panduan wawancara yang akan digunakan dalam proses kegiatan kolase. Mempersiapkan buku catatan serta kamera untuk mendokumentasikan berlangsungnya kegiatan peningkatan kreativitas melalui kolase.

Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan yaitu implementasi atau penerapan rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Pada tahap 2 ini guru harus ingat dan taat pada rencana sudah disepakati dan dirumuskan oleh guru dan peneliti. Pada tahap ini guru melaksanakan tindakan sesuai dengan Rencana Kegiatan Harian dan prosedur penelitian yang telah disusun  bersama. Guru sebagai pelaksana tindakan dan peneliti sebagai pengamat jalannya proses tindakan.

Tahap 3: Observasi atau Pengamatan

Pelaksanaan observasi oleh peneliti dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada penelitian ini peneliti bertindak sebagai observer. Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti mengamati jalannya proses kegiatan kolase. Peneliti mengamati siswa dan guru ketika proses pembelajaran kolase. Pengamatan dalam proses kegiatan kolase dilakukan oleh peneliti untuk mengamati aspek-aspek kreativitas yang ada pada diri anak saat kegiatan membuat kolase. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang akan diolah untuk dilaksanakan selanjutnya.

Tahap 4: Refleksi

Kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi. Istilah refleksi dilaksanakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti dan subjek peneliti, untuk bersama-sama mendiskusikan implementasi rancangan tindakan.

Guru dan peneliti melaksanakan analisis terhadap hasil pengamatan yang dilakukan. Dari hasil pengamatan tersebut peneliti melakukan refleksi sekiranya terdapat kekurangan atau kelebihan. Kemudian guru dan peneliti mencari solusi terhadap kekurangan tersebut untuk perbaikan pada siklus selanjutnya. Hal ini dilakukan agar dapat terjadi peningkatan kreativitas pada siklus selanjutnya. Apabila belum terjadi peningkatan pada siklus II, maka dilanjutkan siklus selanjutnya sampai terjadi peningkatan sesuai dengan target yang telah dibuat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Langkah awal yang dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian tindakan kelas yaitu melalui pengamatan. Pengamatan ini dilakukan pada kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran yang mengembangkan kreativitas anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung guru mengkomunikasikan tema, yaitu tentang tanah airku dengan sub tema nama negara.

Guru melakukan tanya jawab tentang nama negara. Kemudian guru menjelaskan kegiatan kolase menempel potongan kertas nama negara yang sudah di warnai oleh anak. Pada saat kegiatan kolase masih banyak anak yang meminta bantuan guru dalam menempel, dan pemilihan warna kurang bervariasi serta belum bisa mengkomunikasikan hasil karya serta tidak sabar dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Dari proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran tersebut dapat dikatakan kreativitas anak masih belum berkembang dengan baik. Anak masih bergantung serta meminta bantuan  guru ketika mengerjakan tugas, adapun data yang di dapat pratindakan 6,25% yang mendapat kriteria berkembang sangat harapan, 68,75% mendapat kriteria berkembang sesuai harapan dan 25% mendapat kriteria mulai berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas anak masih kurang dan perlu di adakan tindakan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Siklus I

Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan secara bertahap yaitu dengan tahapan 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. pembelajaran pada siklus I menggunakan tema tema negaraku dengan sub tema nama negara indonesia.

Anak-anak dikondisikan untuk duduk dikelompok masing-masing setiap kelompok terdiri dari empat anak, guru melakukan tanya jawab mengenai tema pada hari itu. Selanjutnya guru mengkomunikasikan dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan oleh anak yaitu kegiatan kolase. Guru menjelaskan cara dan tahap-tahap dalam kegiatan kolase tanpa memberi contoh hasil karya yang sudah jadi. Anak-anak masih banyak yang bingung untuk menggambar apa. Sebagian anak meminta untuk di contohi terlebih dahulu, tetapi guru tidak memberikan contoh dan menjelaskan cara menempel saja. Guru memberi pengertian kepada anak-anak untuk mengerjakan sebisa anak dan sesuai dengan keinginanya. Guru meminta anak untuk menulis namanya terlebih dahulu pada kertas masing-masing, kemudian dilanjutkan memulai kegiatan kolase bebas. Guru membagi kertas bidang dasaran menggunakan kertas hvs, lem kertas dan 4 mangkok yang tiap mangkok berisi potongan kertas lipat , potongan koran bekas, potongan kertas kado dan  potongan majalah bekas dengan berbagai warna dan ukuran. Anak juga dibebaskan untuk mengeksplorasi bahan dan yang ada, anak boleh menambahkan dan juga menempelkan bahan yang ditemukan anak dilingkungan saat melalukan kegiatan kolase.Guru dan peneliti berkeliling untuk melihat gambar dan bentuk apa saja yang ditempel oleh anak. Guru menanyakan kepada setiap anak dalam kelompoknya mengenai gambar dan bentuk apa yang dibuat, bahan yang dipilih dan juga kesan anak senang atau tidak dalam melakukan kegiatan kolase. Saat anak ditanya, ada yang menjawab membuat gambar burung garuda, rantai emas, pohon beringin,  padi dan kapas. Namun masih ada beberapa anak yang meniru jawaban teman sekelompoknya, anak masih belum berani mengungkapkan ide mengenai hasil karyanya, masih ada anak yang  hanya senyum-senyum ketika ditanya oleh guru. Kemudian guru memuji hasil karya anak bahwa bentuk gambar dan kolase buatannya sudah bagus agar anak berani untuk mengungkapkan ide karyanya.

Evaluasi kegiatan dilakukan dengan memperlihatkan hasil karya anak, anak bercerita tentang kegiatan dan hasil karya yang dibuat, dan guru memberikan reward  berupa pujian kepada semua hasil karya anak hasilnya bagus-bagus dan juga memberi hadiah makanan kecil untuk semua anak.

Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas anak dalam mengikuti kegiatan kolase menggunakan bahan kertas, bahan alam serta menggunakan bidang dasaran kertas hvs, kertas gambar dan alat lem kertas gunting dan pensil. Anak dibebaskan untuk mewarnai dan membuat gambar serta membuat bentuk tempelan dari bahan dan alat yang sudah disediakan oleh guru, dengan mengamati indikator yaitu aspek-aspek kreativitas anak dalam kegiatan kolase meliputi kelancaran, kelenturan, keaslian, kerapiahan dan elaborasi di dapatkan data anak berkembang sesuai harapan meningkat menjadi 43,75% dan berkembang sangat baik meningkat menjadi 31,25%.

Namun demikian perlu diadakannya lagi tindakan agar persentase kreativitas anak sesuai dengan indikator penelitian yaitu 80%.

Siklus II

Pelaksanaan kegiatan kolase tindakan siklus II yaitu Anak-anak dikondisikan untuk duduk berkelompok terdiri dari empat anak, guru melakukan tanya jawab mengenai tema pada hari itu. Selanjutnya guru mengkomunikasikan dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan oleh anak yaitu kegiatan kolase. Guru menjelaskan cara dan tahap-tahap dalam kegiatan kolase tanpa memberi contoh hasil karya yang sudah jadi. Guru memberi pengertian kepada anak-anak untuk mengerjakan sebisa anak dan sesuai dengan keinginanya. Guru meminta anak untuk menulis namanya terlebih dahulu pada kertas masing-masing, kemudian dilanjutkan memulai kegiatan kolase bebas, dasaran menggunakan kertas HVS,  lem kertas dan menggunakan kertas lipat, kertas koran, kertas warna merah, warna kuning, warna hijau, warna biru,  warna merah muda, kertas krep. Anak menggambar sesuai dengan keinginan dan ide masing-masing anak. Guru dan peneliti berkeliling untuk melihat gambar dan bentuk apa saja yang ditempel oleh anak-anak. Guru menanyakan kepada setiap anak dalam kelompoknya mengenai gambar dan bentuk apa yang dibuat, bahan yang dipilih dan juga kesan anak senang atau tidak dalam melakukan kegiatan kolase. Saat anak ditanya, ada yang menjawab membuat gambar bendera dengan berbagai warna. Anak-anak masih sudah berani mengungkapkan ide mengenai hasil karyanya, anak menjawab dengan percaya diri dan mengaku senang membuat kolase dengan warna bahan yang berwarna-warni. Kemudian guru memuji hasil karya anak bahwa bentuk gambar dan kolase buatannya sudah bagus agar anak berani untuk mengungkapkan ide karyanya. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan memperlihatkan hasil karya anak, anak bercerita tentang kegiatan dan hasil karya yang dibuat, dan guru memberikan reward  berupa pujian kepada semua hasil karya anak hasilnya bagus-bagus dan juga memberi hadiah makanan kecil untuk semua anak.

Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas anak dalam mengikuti kegiatan kolase menggunakan bahan kertas, serta menggunakan bidang dasaran kertas hvs, lem kertas, gunting dan pensil. Anak dibebaskan untuk membuat gambar dan membuat bentuk tempelan dari bahan dan alat yang sudah disediakan oleh guru, dengan mengamati indikator aspek kreativitas anak dalam kegiatan kolase meliputi kelancaran, kelenturan, kerapihan, keaslian dan elaborasi dan di dapat persentase 6,25% mulai berkembang 1 anak, berkembang sesuai harapan 2 orang 12,5% dan berkembang sangat baik 13 orang 81,25%. Setelah dilaksanakan tindakan membuat kolase dengan menggunakan bahan kertas pada siklus II dapat diketahui bahwa kreativitas anak sudah menunjukkan peningkatan yang sangat baik. Sebagian besar anak sudah mampu mencapai 5 aspek kreativitas maka penelitian tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Adapun hasil peningkatan kreativitas anak berdasarkan hasil observasi pratindakan, siklus I dan siklus II :

KriteriaPra TidakanSiklus ISiklus II
BB
MB25%25%6,25%
BSH68,75%43,75%12,5%
BSB6,25%31,25%81,25%

Dari data diatas diketahui bahwa kreativitas anak pada pratindakan anak yang berada pada kriteria belum berkembang tidak ada, kriteria mulai berkembang 4 anak yaitu sebesar 25%, kriteria berkembang sesuai harapan 11 anak yaitu sebesar 68,75% dan kriteria berkembang sangat baik 1 anak yaitu sebesar 6,25%. Pada siklus I anak yang berada pada kriteria mulai berkembang 4 anak yaitu sebesar 25%, kriteria berkembang sesuai harapan 7 anak yaitu sebesar 43,75% dan kriteria berkembang sangat baik 5 anak yaitu sebesar 31,25%. Dan siklus II anak yang memiliki kriteria mulai berkembang 1 anak yaitu sebesar 6,25%, kriteria berkembang sesuai harapan 3 anak yaitu sebesar 12,5% dan kriteria berkembang sangat baik 13 anak yaitu sebesar 81,25%.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa kreativitas anak mengalami peningkatan setelah diberikan tindakan melalui kegiatan kolase menggunakan bahan kertas, yang memberikan kebebasan anak untuk bereksplorasi, memilih warna yang cocok, bebas menggunting, menyobek, memotong dan menggulung bahan sesuai dengan keinginannya serta menggunakan alat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan anak.

Peningkatan tersebut dapat dilihat dari kondisi awal kreativitas anak kelompok B berada pada kriteria belum berkembang pada siklus I meningkat menjadi berkembang sesuai harapan dengan dilakukan tindakan menggunakan bahan kertas, dan meningkat  pada silkus II yang bahannya ditambah menggunakan bahan kertas yang berwarna menjadi kriteria berkembang sangat baik. Anak sudah mampu melakukan kegiatan kolase sesuai dengan aspek-aspek kreativitas yaitu kelancaran, kelenturan, keaslian, kerapiahan dan elaborasi. Anak sudah mampu membuat bentuk tempelan dari bahan kolase dengan bervariasi dan menjawab pertanyaan dari guru, menggunakan dan mengkombinasikan lebih dari tiga bahan dalam membuat kolase, membuat hasil karya kolase sendiri dan berbeda dengan yang lainnya serta anak sudah mampu mengembangkan ide terhadap hasil karyanya secara luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas anak kelompok B TK Al-Muhajirin 03 tahun ajaran 2018/2019 dapat ditingkatkan melalui kegiatan kolase.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang sudah peneliti paparkan, maka peneliti memberikan saran. 1. Bagi Anak, Anak lebih mengeksplor bahan-bahan yang disediakan sehingga hasil karya yang diciptakan lebih bervariasi lagi. 2. Bagi Guru, Guru hendaknya memasukkan kegiatan kolase dengan bahan alam, bahan kertas dan bahan buatan ke dalam kegiatan pembelajaran lebih lanjut dalam rangka meningkatkan kreativitas anak sehingga kegiatan pembelajaran lebih bervariasi. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya, Peneliti selanjutnya diharapkan instrumen yang digunakan untuk mengukur aspek-aspek kreativitas lebih diperhatikan dan dilengkapi lagi agar mendapatkan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2002).  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi. (2010). Seni Keterampilan Anak. Yogyakarta:

Universitas Terbuka.

Hurlock, E. B.  (2017). Perkembangan Anak, Jilid 1. ( Alih Bahasa: Meitasari

Tjandrasa & Muslichah Zarkasih). Jakarta: Erlangga.

Pratnya Puspita Devi (2014). Peningkatan Kreativitas Melalui Kegiatan Kolase Pada Anak Kelompok B2 Di ABA Keringan. Sleman

Sumanto. (2005). Pengembangan Kreativitas Senirupa Anak Tk. Jakarta:  Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,

Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan

Perguruan Tinggi.

Susanto,Ahmad (2017). Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta. Bumi Aksara

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta

Ulfah,Maulidya. (2017). Konsep Dasar Paud. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Utami Munandar. (2014). Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

To Top