Nusantara

Pembelajaran Abad 21 pada Kurikulum 2013

Bayu Purnama Galuh, Dosen STKIP Mutiara Banten. Foto (istimewa)

Oleh: Bayu Purnama Galuh, Dosen STKIP Mutiara Banten

Banten, VoIR Indonesia – Sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan formal yang penting dalam proses pembentukan karakter bangsa. Di sekolahlah calon-calon pemimpin bangsa ini diproses dan diberikan ilmu sebagai bekal hidup mereka untuk masa depan melalui proses pembelajaran.

Berbicara mengenai proses pembelajaran, tidak lepas dari poses bagaimana transfer ilmu yang terjadi antara guru dengan siswa, dimana seorang guru mengajarkan materi kepada siswa yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Konsep tersebut merupakan konsep pendidikan masa lalu dimana sumber belajar hanya berpusat pada guru (teacher centered).

Peran seorang guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting, karena seorang guru dari dulu merupakan sosok figur yang disegani oleh para muridnya di sekolah bahkan di masyarakat.

Berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) tahun 2016, pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang dan urutan kualitas guru menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia.

Sebagaiamana kita ketahui, jumlah guru di Indonesia semakin meningkat secara signifikan. Berdasarkan data dari kemendikbud kurang lebih ada 3 juta guru yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, yang diantaranya 25% belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% belum memiliki sertifikasi profesi. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah terus berupaya mencari jalan keluar, diantaranya adalah menerapkan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013.

Dalam kurikulum 2013, paradigma mengenai tugas guru dalam proses pembelajaran mulai bergeser yang awalnya proses pembelajaran berpusat pada guru, kini menjadi berpusat pada siswa dengan tidak melupakan peran penting seorang guru.

Baca Juga:  Cek Yuk! 7 Kota Terkecil di Indonesia, Ada yang Mirip Kelurahan

Pada kurikulum 2013, guru lebih sebagai fasilitator dan juga sebagai katalisator bagi siswa dalam proses pembelajaran. Di era milenial seperti pada saat sekarang ini dan untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif, diharapkan kurikulum 2013 ini dapat mengimplementasikan proses pembelajaran abad 21 yang mencerminkan empat hal, yaitu communication; collaboration; critical thinking and problem solving; creativity and innovation.

Dalam pembelajaran abad 21, terdapat 7 karakteristik guru diantaranya, yaitu life long learner; kreatif dan inovatif; mengoptimalkan teknologi; reflektif; kolaboratif; menerapkan student centered; dan menerapkan pendekatan diferensiasi.

Seiring berjalannya waktu, dunia pendidikan sudah memasuki tahapan abad 21 dimana pembelajaran memiliki ciri informasi, komputasi, dan komunikasi dan juga pembelajaran pada abad 21 ini pun harus dikembangkan dengan menggunakan desain-desain pembelajaran yang tepat yaitu dimana dalam prosesnya diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu bukan pembelajaran yang memberi tahu peserta didik.

Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Oleh karena itu, di masa yang akan datang bukan tidak mungkin jenis pekerjaan tertinggi adalah pekerjaan kreatif (creative work) yang membutuhkan intelegensi dan daya kreativitas manusia untuk menghasilkan produk-produk kreatif dan inovatif, sedangkan pekerjaan rutin akan diambil alih oleh seorang robot dan secara otomatis. (*)

To Top